Chapter 99

1K 123 17
                                        

Rasanya, Renjana ingin kembali ke masa lalu supaya dia bisa tahu, kenapa orang tua nya bisa menemukan teman-teman sehebat ini.

Jujur, Renjana sempat merinding ketika dia melihat Mira masuk ke dalam ruang kerja Darma dengan wajah angkuh nya serta suara langkah kaki nya yang terdengar percaya diri. Aura yang Mira keluarkan benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang tidak boleh ditantang kalau tidak mau berakhir dihancurkan olehnya.

Wajah angkuh inilah yang Renjana lihat terakhir kali ketika dia datang ke acara tunangan Mira dan Andi.

Renjana pandangi satu per satu teman almarhum orang tua nya ini. Mereka semua terlihat seperti seseorang yang memiliki power besar. Terlebih Darma dan Mira. Dua orang itu terlihat jelas kalau mereka akan membabat habis semua lawan mereka tanpa pandang bulu.

"Gila, kalo Tante Mira lahir di era kita, Ren. Gue pasti bakalan ngejar-ngejar itu tante. Aura nya bikin gue minta ampun!" bisik Nanda ke Renjana yang sampai mengernyitkan alisnya ke saudaranya itu.

Renjana menatap Nanda dengan heran. Bagaimana bisa Nanda berpikir seperti itu?

"Nan, inget, kamu itu udah punya Hana" bisik Renjana, dia ingin memperingatkan Nanda kalau saat ini Nanda sudah ada yang punya.

"Kan, kalo, Ren. Cuma perumpamaan gue ajaa. Gue masih bucin sama Hana, ya kalo lo mau tahu" bisik Nanda lagi ke Renjana.

"Aku nggak mau tahu tentang itu" ucap Renjana sambil memicingkan matanya ke Nanda yang terkekeh pelan.

Pandangan mata mereka kembali tertuju pada Mira yang duduk di samping Jiro. Mira menepuk pelan pundak Jiro seolah ingin menenangkan anak itu.

"Kamu tenang aja, dalam beberapa hari, artikel sialan itu akan musnah di semua platform sosial media. Mereka bakalan mendapatkan ganjarannya kalau berani mengorek informasi tentang kamu" ucap Mira dengan nada suara yang tenang tetapi penuh ancaman.

Jiro yang mendengar ucapan dari Mira itu pun tersentuh. Dia menatap semua orang tua yang ada di dalam ruang kerja nya Darma. Padahal, dia hanyalah adik dari seorang pembunuh. Tetapi, dia mendapatkan bantuan seperti ini secara cuma-cuma oleh mereka.

Jiro yakin kalau ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan mereka.

"Terima..kasih, om.., tante..., aku.., aku nggak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian..." ucap Jiro dengan suara bergetar.

Kedua matanya berkaca-kaca karena tidak bisa menahan rasa haru nya pada orang-orang baik ini.

"Nggak usah dibalas, Ji. Kita semua ngelakuin ini karena pengen ajaa. Lagian, orang jahat kayak mereka memang harus dimusnahkan dari muka bumi" ucap Darma terdengar santai. Pria tua itu tersenyum ke Jiro yang berusaha keras tidak menangis.

"Betul itu! Om juga udah gedek banget sama mereka dari dulu. Tapi, om nggak bisa ngapa-ngapain. Pengacara om galak" ucap Candra yang hanya bisa terkekeh pelan ke Bu Lini yang melotot ke Candra.

"Kejahatan mereka ini membuat kita punya alasan lebih kuat buat ngasih pelajaran ke mereka, Ji. Kamu nggak usah bingung mikirin tentang balas budi. Dari dulu, kita memang sudah berencana mau bungkam mereka, apalagi Mbak Nirmala dan Jefry" jelas Arka sambil tersenyum menenangkan ke Jiro.

"Dan, ucapan terima kasih kamu sudah lebih dari cukup. Kamu sama yang lain cukup menjalani hidup dengan baik dan bahagia. Masalah ini, biar kami semua yang urus" ucap Dewi sambil mengusap pelan tangan Jiro yang ada di genggaman tangannya.

"Kok gitu, tante? Kita nggak boleh icip-icip dulu, nih?" ucap Nanda yang tidak terima disuruh diam saja dan membiarkan para orang tua ini yang mengambil alih.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang