"Kamu ingat berapa nomor plat nya, Da?"
Mada yang awalnya memperhatikan Elias yang sedang melihat keadaan kakinya, mengalihkan pandangannya ke Elias.
"Ingat, om" jawab Mada.
Meskipun dia saat itu sedang kesakitan, Mada sempat memperhatikan plat nomor si pengendara motor yang menabraknya sampai kakinya harus terlindas oleh ban. Mada tentu tidak mau membiarkan si tersangka kabur begitu saja dan merasa berhasil sudah mencelakai Mada.
Mada hanyalah manusia yang memiliki batas kesabaran. Bagi Mada, melakukan sesuatu yang bisa saja merenggut nyawanya, merupakan perbuatan yang tidak bisa dimaafkan lagi. Maka dari itu, Mada mengingat plat nomor si pengendara motor dan dia akan mencaritahu siapa sosok yang menabraknya.
"Kasih tahu, om. Biar om bisa ngasih tahu ke Reza" ucap Elias yang saat ini sudah selesai memeriksa kondisi kaki Mada.
Elias menyerahkan ponselnya ke Mada untuk mengetik plat nomor motor si pengendara itu. Mada pun menerimanya dan mengetikkan nomor yang ada di plat tersebut lalu setelahnya ia kembalikan ponsel itu ke Elias.
"Untungnya kaki kamu nggak kenapa-napa, Da. Cuma agak bengkak. Tapi, supaya bengkaknya nggak semakin parah, kamu jalan pake tongkat dulu, ya?" ucap Elias kepada Mada yang menganggukkan kepalanya mengerti.
"Ngomong-ngomong, si cantik itu pacar kamu?" ucap Elias sambil menaik turunkan alisnya menggoda Mada.
Mada yang mendengar pertanyaan dari Elias itu pun mendengus geli, "Rekan kerja, om."
Mada tahu kalau yang Elias tanyakan itu adalah Ulfa. Gadis itu yang mengantarkan Mada ke rumah sakit nya Elias. Kalau kata Ulfa, rumah sakit ini pelayanannya sangat bagus. Mada bersyukur karena Ulfa membawanya ke rumah sakit nya Elias, dengan begitu dia bisa ditangani oleh Elias secara langsung.
"Ah, masa cuma rekan kerja? Pasti ada cuintah yang muncul di antara kalian berduaa~"
Mada memicingkan matanya dengan kesal ke arah Elias yang semakin menjadi-jadi menggodanya. Padahal, Mada memang hanya menganggap Ulfa sebagai rekan kerja.
"Serius, om. Aku sama Ulfa cuma sebatas rekan kerja. Lagian, cewek cantik kayak Ulfa mana cocok sama aku? Paling nggak dia itu dapetin cowok yang speknya kayak Nanda" ucap Mada yang tentu saja sadar diri dengan posisinya.
Dia hanya seorang karyawan di perusahaan swasta. Dia orang kampung. Kalau Mada lihat dari cara berpakaian Ulfa serta mobil yang ia kendarai sehari-hari, membuat Mada yakin kalau Ulfa adalah anak dari keluarga berada.
"Memang pesona Keluarga Graciano itu nggak tertandingi, sih Da. Kamu lihat om ini. Pasti kamu nggak nyangka kalo umur om udah 50-an tahun, kan?" ucap Elias yang mulai menyombongkan dirinya.
"Banyak yang nggak percaya loh, Da kalo om ini udah punya dua anak dan udah gede semua. Sayangnya mereka jomblo, cih."
"Ya udah, om kenalin aja anak om sama Ulfa. Aku bisa jamin om kalo Ulfa itu cewek baik-baik, cocoklah bersanding sama keluarga om" ucap Mada dan Elias menggelengkan kepalanya.
"Si cantik tadi cocoknya sama kamuu~ Kamu nggak sadar gimana cara dia natap kamu, Da?" ucap Elias dan dia kembali menaik turunkan alisnya menggoda Mada.
"Apaan, sih om!" gerutu Mada.
"Aiih, saltiiing. Mukanya meraaaah" goda Elias semakin menjadi.
"Nggak ada, ya om!"
***
Tidak hanya Renjana dan Hadi yang khawatir dengan keadaan Mada setelah mereka tahu kalau kakak tertua mereka itu diserempet motor dan kakinya terlindas ban. Zena pun juga ikut khawatir, dia bahkan menyuruh Hadi serta Renjana segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mada.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)