Chapter 41

1.1K 145 37
                                        

Nanda menghentikan mobilnya ini di halaman rumah Arka. Anak itu melihat pintu rumah Arka terbuka lebar, padahal saat ini sudah larut malam dan keadaan di komplek perumahan milik Arka ini begitu sepi.

Nanda pun turun dari mobil, dia langsung melotot ketika melihat mobil kesayangannya lecet.

"Gara-gara motor babi tadi!" geram Nanda, dia akan membuat perhitungan pada pengendara motor itu. Semoga Pak Reza berhasil menangkap mereka.

Dengan suasana hati yang buruk karena mobilnya lecet, Nanda pun berjalan menuju rumah Arka. Dia sedikit mengintip ke dalam dan mendapati Arka serta Laura di ruang tamu. Nanda melihat Laura menangis sambil duduk di sofa, sedangkan Arka mondar-mandir di depan Laura dengan sebuah ponsel di tangan, wajah Arka terlihat sangat panik dan cemas.

"Om Arka?" panggil Nanda.

Arka pun berhenti mondar-mandir, dia menatap Nanda dengan tatapan terkejut. Begitu pun dengan Laura yang tertegun ketika melihat Nanda ada di sana.

"Kalau Nanda ada di sini, Renjana nya pergi ke mana, mas?" isak Laura semakin menjadi-jadi. Wanita itu kembali menangis membuat Nanda jadi bingung melihat situasi di ruang tamu ini.

Arka yang melihat raut kebingungan Nanda pun, langsung berjalan menghampiri Nanda, dia membawa Nanda keluar dari rumah. Mereka berdua berdiri di teras. Nanda merasakan firasat yang tidak enak karena melihat Arka yang sampai gemetaran memegang pundak Nanda.

"Nanda, salah satu teman kamu ada yang jemput Renjana?" tanya Arka yang masih berusaha berpikir positif meskipun dia tahu pertanyaannya terdengar konyol.

"Janu misalnya?" ucap Arka lagi.

Nanda menggelengkan kepalanya, "Yang bisa bawa kendaraan cuma aku sama Janu, om. Dan Janu ada di rumah. Aku ke sini mau jemput Renja" jelas Nanda.

Nanda melihat Arka mengusap wajahnya dengan frustasi, kedua mata Arka bahkan merah dan berkaca-kaca, menandakan kalau pria tua itu ingin menangis.

Arka menatap lekat Nanda, ada rasa bersalah dan permintaan maaf yang mendalam dari sorot mata Arka.

"Nanda, Renjana hilang."

Nanda terdiam.

"Om mau bercanda, ya sama aku?" ucap Nanda ke Arka yang menggelengkan kepalanya.

"Om nggak bercanda, Nan. Renjana beneran hilang. Dia nggak ada di rumah om."

Arka pun mulai menjelaskan kepada Nanda bahwa Mira begitu keras kepala ingin Renjana pulang bersamanya. Namun, Renjana juga keras kepala menolak permintaan Mira. Renjana mengatakan kalau Nanda akan menjemputnya.

"Waktu itu Mira memutuskan pulang sendiri. Dan Renjana di sini, nungguin kamu. Dia duduk di ruang tamu" jelas Arka dan Nanda mendengarkannya dengan seksama.

Kedua tangan Nanda terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya.

Arka pun kembali menjelaskan kalau dia dengan Laura masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan berganti pakaian. Lalu, mereka mendengar ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Laura meminta tolong Renjana membukakan pintu karena Laura berpikir orang yang mengetuk pintu itu Nanda.

Namun, sudah beberapa menit mereka berada di kamar, mereka tidak ada mendengar Renjana memanggil mereka untuk berpamitan kalau memang Nanda yang menjemput. Jadi, Laura dan Arka berpikir kalau yang mengetuk pintu hanya orang iseng karena hal itu biasa terjadi. Mereka berdua berpikir, Renjana kembali duduk di ruang tamu dan menutup pintu.

Tetapi, ketika mereka berdua keluar dari kamar karena ingin meminta Renjana untuk menginap saja kalau Nanda tidak kunjung datang, mereka malah mendapati pintu rumah mereka terbuka lebar dan Renjana tidak ada di ruang tamu.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang