Chapter 137

1.1K 146 14
                                        

Liburan yang selalu ditunda itu akhirnya terlaksana. Itu semua karena Cakra tidak berhenti menagih liburan yang pernah mereka bahas sebelumnya dan akan dilakukan setelah masalah dengan Jamal selesai. Di setiap kesempatan, Cakra pasti akan memberikan kode ke para abangnya mengenai liburan yang selalu tertunda itu. Karena, Mada sudah tidak tahan mendengar kode dan sindiran keras dari Cakra, akhirnya dia mengajukan cuti.

Proyek besar yang Mada laksanakan telah selesai dan berjalan dengan sukses. Meskipun hasilnya tidak memuaskan bagi Mada. Tetapi, bagi rekan kerjanya lain, apa yang sudah Mada lakukan itu termasuk hebat di pengalaman pertamanya sebagai pemimpin proyek besar.

Maka dari itu, Mada mendapatkan cuti dengan mudah karena Ivan menyukai hasil kerja Mada.

Untuk liburan kali ini, mereka tetap menggunakan mobil menuju kampung halamannya Mada. Tetapi, mereka akan menggunakan pesawat sebagai alat transportasi menuju Jogja karena jarak tempuhnya yang panjang jika menggunakan mobil.

Pagi-pagi mereka bertujuh sudah bangun dan mulai mempersiapkan semua keperluan untuk berangkat ke kampung halamannya Mada. Di dapur Renjana sedang sibuk menyiapkan sarapan serta beberapa cemilan untuk dimakan selama perjalanan. Mada sibuk Hadi yang sedang mempersiapkan keperluan Cakra dan Jiro karena mereka berdua tidak mau dua pemuda itu melupakan barang-barang penting. Sedangkan, Janu dan Nanda sedang memeriksa kondisi mobil.

"Kan, hampir aja lo lupa bawa kolor!" gerutu Hadi sambil memasukkan tas kecil yang berisikan celana dalam milik Cakra ke koper kecilnya.

Hadi menemukan tas kecil itu di atas meja yang ada di ruang TV (mereka memang sedang memasukkan barang-barang di ruang TV). Untung saja Hadi memeriksa isi tas tersebut. Kalau tidak, Cakra kemungkinan tidak menggunakan kolor setibanya dia di kampung halaman Mada.

"Kalo tinggal pun bisa dibeli" gerutu Cakra yang sedang melipat kemejanya.

"Mau beli di mana? Kalo pun lo mau beli, lo harus pergi ke pusat kota dulu baru bisa dapetin kolor" jelas Mada.

"Udah jelas kita pergi ke kampung, Cak. Mana ada yang jualan kolor di dekat gerbang selamat datangnya" celetuk Jiro sambil memasukkan celana panjang miliknya ke dalam tas.

"Mana ada manusia yang jualan di dekat gerbang selamat datang!" gerutu Cakra.

"Lo lipet yang bener, dong!" gerutu Hadi yang mengambil alih kemejanya Cakra dan mulai melipat kemeja anak itu dengan rapi.

"Sarapan udah siaap! Suruh Nanda dan Janu masuk ke dalam. Kita makan dulu!" seru Renjana dari arah dapur.

***

"Akhirnya, setelah sekian lama, gue bisa ngerasain lagi bawa mobil lo, Nan" ucap Janu yang akan menjadi sopir.

Janu dan Nanda sempat suit untuk mencaritahu siapa yang akan mengemudikan mobil ini sampai mereka tiba di rest area.

"Awas aja kalo mobil gue sampai lecet!" gerutu Nanda.

"Nggak bakalan juga gue bikin lecet. Hati anak orang aja nggak pernah gue lecetin, apalagi mobil, Nan" ucap Janu sambil menaikturunkan alisnya.

"Janu, jangan ngebut bawa mobilnya. Kalo bisa kecepatan sedang aja" ucap Renjana yang masuk ke dalam mobil duluan karena dia ingin duduk di belakang.

"Di kamus gue cuma ada kecepatan rendah dan kecepatan tinggi, Ren. Jadi, lo pilih aja, mau kita jalan kayak siput atau kayak cheetah?" ucap Janu dan dia mengaduh karena Renjana menarik telinganya.

"Aku maunya sedang, Janu!" seru Renjana tepat di telinga Janu membuat anak itu teriak kesakitan.

"Anak tuyul! Pengang telinga gue!" seru Janu ke Renjana yang dengan santainya duduk di bangku belakang.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang