"Halo, pak? Tolong kirim salah satu anak buah bapak buat ngawasin rekan kerja nya Renja, pak. Namanya Putra. Tolong ya, pak? Saya takut ada jelmaan iblis mau nyakitin dia. Iya, makasih pak."
Nanda menghembuskan nafasnya dengan kuat setelah dia selesai menelepon Pak Reza. Nanda langsung memikirkan Putra karena dia mengingat Putra mengatakan kalau Andi ingin membalas dendam pada Putra karena sudah menggagalkan rencana nya.
Nanda hanya tidak ingin ada orang tidak bersalah terlibat ke dalam masalah mereka. Dan juga ini sebagai bentuk balas budi serta ucapan terima kasih Nanda ke Putra karena sudah memberanikan dirinya menolong Renjana meskipun ada kemungkinan Putra akan dihabisi oleh Andi di detik itu juga.
"Andi itu brutal, Nan. Dia juga bermuka dua, makanya dia bisa menikahi istrinya yang sekarang, si Citra. Ada baik nya kita semua berhati-hati dengan Andi."
Itulah yang Pak Hasan katakan kepada Nanda beberapa hari yang lalu. Pak Hasan saat ini sedang sibuk-sibuk nya membuat Nanda jarang menemui pria tua itu. Pak Hasan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Darma. Entah rencana gila macam apa yang akan Darma lakukan sampai-sampai Pak Hasan tidak ada waktu untuk meladeni Nanda.
"Dan untuk Ilham, saat ini keberadaan dia tidak diketahui setelah dia dikeluarkan dari tempat kerja nya. Ibu sambung nya saja sampai kelimpungan mencari Ilham. Kalian juga harus hati-hati dengan Ilham."
"Lalu untuk John. Dia ini licin sekali seperti belut. Entah ke mana dia pergi, tidak ada yang tahu. Dan lagi, bapak masih tidak tahu apa motif sesungguhnya dari John, jadi kalian harus waspada juga dengan dia, oke?"
Semua nasihat dari Pak Hasan itu Nanda dengarkan dan Nanda turuti dengan baik. Tidak lupa dia juga memberitahu semua temannya, termasuk Renjana.
"Tapi, kenapa selalu aja Renja yang kecolongan. Haaah, bisa gila gue lama-lama. Memang baiknya Renja diem aja di rumah. Nanti gue coba nego sama Om Arka buat WFH-in aja si Renja" gumam Nanda.
"Tapi, kira-kira Renja ngambek nggak, ya? Kalo gue malah ngekang dia kayak gitu?"
"Elu ngapain ngomong sendiri? Itu Om Elias udah nyampe" ucap Janu sambil menatap heran ke Nanda yang sedang berdiri di balkon.
"Lama bener si om" gerutu Nanda yang berjalan masuk ke dalam, tidak lupa menutup pintu balkon.
Janu mengekori Nanda yang berjalan terlebih dahulu menuju ruang TV, terlihat Mada dan Hadi masih duduk di sofa sedangkan Cakra dan Jiro berdiri di ambang pintu kamar nya Renjana dan Nanda. Sepertinya mereka ingin melihat Elias yang sedang memeriksa Renjana di dalam kamar.
Nanda berdiri di dekat Cakra, dia ikut melihat ke dalam kamar. Begitu juga dengan Janu yang berdiri di dekat Jiro. Mereka berempat begitu fokus melihat Elias begitu telaten melakukan pekerjaannya. Raut wajah Elias terlihat serius dan alis nya beberapa kali saling bertaut.
Mereka semua mulai khawatir ketika melihat Elias mengeluarkan alat infus nya dari dalam koper berukuran kecil. Lalu, mereka melihat Elias berdiri dan berbalik menuju pintu.
"Aaaargh! Ngagetin aja kalian!" seru Elias sambil mengelus dada nya karena terkejut melihat empat makhluk jadi-jadian berdiri di dekat pintu kamar.
"Om serius banget" ucap Cakra membuat Elias menatap anak itu dengan jengkel.
"Kalo nggak serius yang ada Renja om salah suntik. Kalian mau om salah suntik?" gerutu Elias yang setelahnya dia menoleh ke Janu.
"Nah, kalo om udah ngeliatin aku kayak gitu, pasti om mau nyuruh-nyuruh aku, kan?" tebak Janu.
"Emang iya, tolong kamu ambilin tiang infus di dalam mobil om" ucap Elias sambil melemparkan kunci mobil nya ke Janu.
"Cari mobil yang paling kece, paling mengkilap, paling mewah. Itu mobil om" ucap Elias membuat Janu yang mendengarnya pun menggerutu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfictie*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)