Chapter 150

870 142 3
                                        

"Gila, ini acara wisuda atau pameran mobil?" bisik Janu ke Mada.

Hari ini, mereka pergi ke wisuda nya Hadi dan Hana. Dua kakak beradik itu sejak awal sudah berjanji akan wisuda bersama-sama. Mereka bahkan mendaftar sidang bersama-sama meskipun Hana yang duluan seminar proposal. Sebenarnya, Hadi tidak masalah Hana duluan yang wisuda. Tetapi, siapa yang menyangka kalau mereka berdua justru akan mendaftar sidang secara bersamaan dan wisuda di hari yang sama juga?

Karena Hadi dan Hana dikuliahkan oleh perusahaan Graciano di universitas milik keluarga tersebut, membuat Janu tidak henti menatap kagum beberapa jenis mobil dengan harga fantastis keluar masuk di halaman kampus ini.

Universitas yang merupakan milik dari Keluarga Graciano tentu saja dilirik oleh beberapa keluarga kaya raya dan konglomerat di Indonesia. Rata-rata, anak dari pebisnis atau pun pengusaha sukses menyekolahkan anak mereka di universitas ini.

"Gue juga punya mobil kayak gitu, kali" ucap Nanda yang tidak sengaja mendengar bisikan dari Janu.

Mereka memang menunggu di luar gedung karena yang boleh masuk ke dalam gedung auditorium adalah orang tua dan juga wisudawan. Karena hal itu, Darma lah yang masuk ke dalam sebagai wali dari Hadi dan Hana.

"Ck, di sini nggak ada yang jualan cilok" gerutu Cakra karena sejauh mata memandang, dia tidak menemukan jajanan di dekat gedung auditorium ini.

"Apa yang bisa lo harapkan dari kampus elit? Kekurangan dari kampus elit, nggak ada mamang-mamang jualan di sekitar sini" ucap Janu yang jadi lapar karena Cakra menyebut cilok.

"Udah lapar aja kamu, Cak" ucap Jiro yang tetap saja takjub dengan Cakra yang cepat sekali merasa lapar. Terkadang, Jiro bertanya-tanya, ke mana larinya semua makanan yang dimakan oleh Cakra? Kenapa Cakra langsung merasa lapar setelah beberapa menit yang lalu dia makan dua piring nasi?

"Aku juga lapar. Kita makan dulu, yuk? Acara kayak gini biasanya lama" ucap Renjana sambil mengelus perutnya.

"Di mana kantin nya, Nan?" tanya Mada pada Nanda yang sedang sibuk membalas pesan dari sekretarisnya.

"Bentar, bang" ucap Nanda yang masih fokus ke ponselnya.

"Bapak CEO memang beda sekarang. Dulu, dia nggak peduli hapenya hilang. Sekarang, itu hape dia pegang terus. Kepalanya nunduuk mulu ke hape" ucap Janu yang takjub dengan perubahan Nanda.

"Elo bakalan kayak gini nanti, Ren" ucap Mada ke Renjana yang mengernyitkan alisnya.

"Aku nggak mau, bang. Aku mau kerja jadi karyawan biasa aja" ucap Renjana.

"Abang beneran nggak bisa menggunakan privilege dengan baik" ucap Cakra sambil geleng-geleng kepala karena tidak habis pikir dengan pola pikir Renjana.

"Kamu juga, Cak. Padahal bapakmu kaya, tapi hampir tiap hari kamu minta jajan terus ke Kak Mada" celetuk Jiro.

"Kalo orang rejekinya dipatok ayam. Kalo Bang Mada dipatok Cakra" ucap Janu membuat Cakra memberengut kesal.

"Biarin aja, deh. Yang penting Cakra nggak minta dijajanin saham" ucap Mada.

"Nanda. Perut aku udah meronta-ronta minta diisi. Kapan kita ke kantinnya? Tahun depan?" ucap Renjana yang mulai jengkel karena mereka belum juga beranjak pergi ke kantin.

"Yuk, yuk, kita pergi sekarang" ucap Nanda yang tidak mau Renjana mengomel lebih panjang lagi karena tidak juga pergi ke kantin.

Lebih tepatnya, Nanda tidak mau Cakra dan Janu berubah menjadi tarzan karena terlalu lapar.

***

Hadi tersenyum lebar ke Hana setelah dia berhasil menemukan keberadaan adiknya di antara kerumunan ini. Dia melihat adiknya itu sedang bercengkrama dengan Michelle dan Noni, selaku teman Hana di kos.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang