Chapter 100

1.1K 161 29
                                        

Sebenarnya hari ini, Jiro sangat takut pergi ke kampus. Tetapi, dia harus mengikuti ujian karena cukup yang kemarin dia tidak ujian dan harus mengikuti ujian susulan. Itu pun berkat bantuan Mira dia bisa mendapatkan ujian susulan.

Jiro hanya tidak mau merepotkan Mira terlalu banyak. Sehingga, dia mengumpulkan semua keberaniannya lalu dia mulai bersiap menuju kampus untuk mengikuti ujian hari ini.

Seperti biasa, keadaan pagi hari di unit apartemen Nanda akan selalu heboh karena para abangnya yang tidak bisa diam. Ada saja yang mereka ributkan membuat Jiro tidak pernah merasa kesepian. Bagi Jiro, kebisingan yang diciptakan oleh para abangnya justru sangat membantunya. Kebisingan itu membuat Jiro semakin yakin bahwa di dunia ini dia tidak sendirian.

Ada para abangnya yang setia berdiri di sampingnya dan selalu berusaha membuatnya bahagia.

Ketika Jiro keluar dari kamar, sapaan hangat dari Renjana yang menyambutnya. Abangnya yang satu itu sedang meletakkan hasil masakannya di atas meja. Lalu, Hadi dengan heboh menyuruh Jiro duduk di sampingnya.

Disaat Jiro duduk di samping Hadi, Janu langsung mengambil roti isi untuk Jiro lalu meletakkannya di piring Jiro.

"Lo mau scramble egg, nggak? Gue ambilin" ucap Janu ke Jiro yang menganggukkan kepalanya.

"Siap ujian hari ini, Ji?" ucap Mada yang baru saja berjalan dari dapur.

"Siap, doong, Jiro kan udah belajar, iya, kan Ji?" sahut Nanda sambil menaik turunkan alisnya ke Jiro yang tersenyum kikuk.

Rasanya aneh karena para abangnya begitu perhatian padanya. Sepertinya, para abangnya ini berusaha membuat Jiro untuk tidak terlalu memikirkan masalah artikel itu.

Sebuah tindakan yang membuat Jiro terharu dan rasanya ingin menitikkan air mata karena dia begitu bahagia bisa bertemu dengan orang-orang sebaik mereka.

"Kayaknya Jiro bakalan dapet nilai bagus di semester ini. Nggak cuma Jiro, Cakra pun juga" ucap Renjana yang baru saja kembali dari dapur, dia meletakkan salad di atas meja.

"Gue?" ucap Hadi sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Kamu kan emang pinter, Di. Aku percaya aja kalo kamu dapet nilai bagus dan lulus tepat waktu" ucap Renjana membuat Hadi meninggikan dagunya.

"Turunin dikit dagu lo, lo nggak cocok jadi orang sombong" ucap Nanda membuat Hadi mendelik sinis ke temannya itu.

"Gue mencium bau keirian dari lo" desis Hadi ke Nanda yang mendengus.

"Ngapain gue iri sama jamet?" ucap Nanda sambil menatap Hadi dengan sinis.

"Jamet? Lo bilang gue jamet?"

"Nah, gitu dong, berantem" ucap Janu yang menikmati pertengkaran kedua temannya.

"Baru pagi ini, Jiro juga mau ujian, jangan bikin Jiro stres!" gerutu Renjana yang kesal melihat temannya ini sudah mengibarkan bendera perang di pagi hari.

Mereka pun kembali memakan sarapan mereka dengan tenang. Mada menghembuskan nafas lega karena para adiknya mulai makan tanpa melanjutkan perdebatan mereka.

"Oh iya, hape lo udah gue ganti. Gue taruh di meja" ucap Nanda ke Renjana yang menganggukkan kepalanya.

"Makasih, Nanda. Besok-besok kalo marah, jangan banting hape aku lagi ya? Kamu banting diri kamu sendiri aja" ucap Renjana sambil menatap sinis ke Nanda. Dia masih kesal karena ponsel yang Nanda banting itu adalah hasil jerih payahnya.

Hadi dan Janu tertawa ngakak setelah mendengar ucapan Renjana.

"Banting diri sendiri nggak, tuh?" ucap Janu yang setelahnya kembali tertawa.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang