Deras nya hujan serta embusan angin yang kuat membuat Renjana cemas dengan orang tua nya.
Dia hanya berdiri di dekat jendela sambil memperhatikan rumah nya yang berseberangan dengan rumah om dan tante nya.
Orang tua nya pergi ke acara ulang tahun teman mereka dan meminta Renjana untuk tinggal di rumah om dan tante nya sampai mereka pulang. Sebenarnya Renjana ingin ikut, dia tidak mau tinggal bersama om dan tante nya karena terakhir kali Renjana ditinggal bersama mereka, Renjana dicubit oleh tante nya sampai membiru.
Namun, orang tua Renjana tidak mengizinkan Renjana ikut dengan mereka karena Renjana baru saja sembuh dari flu.
Anak itu masih setia menatap rumah sederhana nya dengan harapan mobil orang tua nya tiba di halaman rumah mereka.
Suara deringan telepon membuat Renjana menoleh ke arah ruang keluarga. Dia berjalan hendak mengangkat panggilan telepon itu tetapi tante nya sudah terlebih dahulu mengangkat panggilan itu.
Renjana hanya menatap tante nya yang alis nya saling bertaut dalam. Setelahnya, Renjana melihat tante nya itu menaruh gagang telepon di tempatnya lalu menoleh ke Renjana dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tante nya itu berjalan ke arah Renjana, kedua tangannya mendarat di kedua pundak kecil milik Renjana.
"Mereka mati.."
Renjana terdiam setelah mendengar ucapan tante nya. Anak itu terpaku di tempat nya berdiri ketika dia melihat tante nya itu tertawa lalu menatap Renjana dengan tatapan kasihan.
"Orang tua kamu mati, Renjana. Kamu jadi yatim piatu.."
Renjana menatap kosong tante nya yang masih tertawa.
"Mas! Kakak aku mati mas sama suaminya!" ucap sang tante dengan tawa yang semakin heboh.
"Serius mereka mati?!" seru om nya yang berjalan tergopoh-gopoh mendekati tante.
Tante menganggukkan kepalanya, "Mereka mati, itu artinya.., rumah itu jadi milik aku! Tanah yang ibu kasih ke kakak sialan aku itu bakalan jadi milik aku!"
Namun, om nya Renjana terlihat tidak yakin, "Kayaknya, semua itu bakalan dikasih sama anak ini, deh?"
Renjana hanya diam ketika dia melihat tatapan mengerikan dari om dan tante nya.
"Apa kita bunuh aja dia, mas?"
***
Kedua mata nya terbuka sempurna, nafas nya terengah seperti dirinya sedang berlari dengan jarak yang sangat jauh. Peluh di sekitar wajah nya menandakan bahwa tadi dia mendapatkan sebuah mimpi yang sangat mengerikan.
Dengan tangan gemetar, Renjana mengusap peluh di kening dan pelipisnya. Dia berusaha mengatur nafas nya yang memburu itu. Lalu, Renjana menoleh ke samping dan mendapati Nanda tertidur di samping nya.
Melihat Nanda yang terlelap membuat Renjana yakin kalau hari masih malam. Tetapi, pikiran nya itu berhasil ditepis karena Renjana mendengar kegaduhan di luar kamar.
"Nandaaaaa! Bangun! Lo itu kerja!"
Suara Hadi yang memenuhi ruangan di unit apartemen ini menandakan bahwa hari sudah pagi. Karena tidak mau membuat Hadi kesusahan, Renjana pun mengguncang pelan pundak Nanda untuk membangunkannya.
"Nanda.., bangun" ucap Renjana dengan tidak henti menggoyangkan pundak Nanda itu.
Melihat Nanda tidak kunjung terbangun membuat Renjana gemas sendiri. Dengan tangannya yang tidak diinfus itu, Renjana menekan lubang hidung Nanda sehingga lubang hidung itu menutup sempurna. Terlihat Nanda kesusahan bernafas dan mulai bernafas dengan mulut.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)