Tidak ada satu pun yang berbicara setelah Mada mengatakan bahwa Renjana dibawa pergi oleh John. Hanya suara tangisan Jiro yang terdengar. Anak itu semakin menyalahkan dirinya sendiri karena merasa semua ini memang salahnya. Kenapa saat itu Jiro mau-mau saja memberitahukan di mana mereka tinggal? Kenapa saat itu Jiro tidak bisa berpikir jernih?
Mada yang kasihan melihat Jiro terus saja menangis sampai matanya bengkak itu pun langsung mengusap pelan pundak Jiro untuk menenangkan anak itu. Mada juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Jiro karena Mada yakin Jiro sedang merasa takut saat itu.
John dan Jammy sama-sama berbahaya sehingga wajar jika Jiro begitu takut ketika John tiba-tiba datang menemuinya.
Suara pintu yang terbuka membuat mereka semua menoleh ke asal suara. Terlihat Hadi masuk ke dalam dengan menenteng tas ransel dan tas besarnya. Dia duduk di samping Jiro yang masih menangis karena begitu menyesali perbuatannya.
"Jadi, Nanda udah sadar?" tanya Hadi sambil menatap Nanda yang sejak tadi tidak mengatakan apa-apa.
Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, membuat Hadi mengernyitkan alisnya dengan bingung.
"Apa ada hal buruk?" tanya Hadi dan tatapan matanya ia arahkan ke Mada.
"Renja dibawa sama John, Di" jawab Mada yang setelahnya menghembuskan nafas lelah.
Hadi yang mendengarnya pun terdiam. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menatap lampu yang ada di ruangan ini. Keheningan di antara mereka berlangsung cukup lama. Mereka berenam seperti kehilangan arah dan tidak tahu lagi harus bagaimana setelah mengetahui fakta tersebut.
"Ya udah kalo emang pada akhirnya kayak begitu. Toh, salah Renja karena pergi keluar sendirian, kan? Iya, kan Nanda?" ucap Hadi sambil menatap lekat Nanda yang langsung menoleh ke Hadi.
"Lu jangan mancing gue, ya Di" ucap Nanda sambil menatap kesal ke Hadi yang mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Gue cuma mengulangi apa yang lo bilang tadi. Lo sendiri, kan yang bilang? Biarin aja dia keluar sendiri, lagian salah dia yang ngeyel keluar padahal udah jelas John kabur dari penjara?"
"Hadi..." tegur Mada.
Mada meminta pengertian Hadi lewat tatapan matanya. Suasana tadi sudah cukup bagus dan Mada tidak ingin ada pertengkaran lagi ketika mereka mulai bersatu kembali. Mada tidak ingin ada yang saling menyalahkan di situasi seperti ini.
"Gue udah minta tolong ke Pak Reza buat nyariin Renja. Kalian nggak usah khawatir" ucap Nanda setelah berhasil menenangkan dirinya karena terpancing ucapan Hadi.
"Apa nggak ngerepotin lo, Nan?" tanya Janu membuat Nanda tertegun setelah mendengar pertanyaan tidak terduga dari Janu itu.
"K-Kalo gitu, gue minta tolong orang suruhan daddy aja yang nyari Bang Renja. Mereka juga bisa kok nyariin Bang Renja. Bentar, gue hubungi daddy dulu" ucap Cakra yang mencari ponselnya di dalam tas.
"Seharusnya dari dulu gue kayak gini, sih bang. Maaf, karena gue nggak pernah kepikiran mau minta tolong ke daddy" ucap Cakra yang berhasil menemukan ponselnya.
Cakra menatap Nanda dengan tatapan bersalahnya.
"Pasti lo pusing mikirin masalah ini sambil berusaha ngelindungin kita."
"Gue usahain minta tolong sama kuasa hukumnya daddy. Entah dia mau bantuin apa nggak, soalnya dia galak" ringis Cakra yang teringat dengan kuasa hukum milik ayahnya yang bahkan suka sekali marah-marah ke ayahnya Cakra kalau ayahnya Cakra berulah.
"Cieee, Cakra mulai menunjukkan kekuasaannya ni yee" ucap Janu sambil bersiul menggoda Cakra.
"Apaan, sih bang?" ucap Cakra sambil tersipu malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fiksi Penggemar*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)