Chapter 82

1.1K 141 20
                                        

"Renjana, pipi kamu kenapa?"

Renjana yang sedang memeriksa laporan di meja kerja nya, menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati Dewi berdiri di sana. Dilihat dari penampilan Dewi serta tas selempang yang tersampir di pundaknya, menandakan Dewi bersiap pulang ke rumah. Di tangan Dewi terdapat satu paper bag dengan motif bunga matahari yang entah apa isinya.

"Dicakar setan, mbak" celetuk Janu yang tidak sengaja mendengarkan pertanyaan dari Dewi.

"Setan?" ucap Dewi yang terdengar kebingungan.

"Nggak, tante. Ini dicakar ku-"

"Nggak boleh bohong, Ren. Nanti dosa loh. Mana lo bohong sama tante sendiri lagi" potong Janu lalu dia menoleh ke Renjana yang mengatupkan bibirnya dan menatap Janu dengan lekat.

Dewi yang melihat Janu dan Renjana ini pun terlihat kebingungan. Apalagi ketika dia mendengar Renjana hendak berbohong kepadanya mengenai luka di pipi Renjana. Meskipun lukanya hanya sebuah goresan kecil. Tetapi, Dewi tentu khawatir dan ingin tahu kenapa luka itu ada di pipi Renjana. Terlebih ada sedikit memar berwarna merah di pipi Renjana.

"Tante ingat sama tunangan Tante Mira?" ucap Renjana yang sekarang menolehkan kepalanya ke Dewi.

"Andi, kan namanya? Kenapa?" tanya Dewi dan setelahnya wajah Dewi berubah menjadi dingin.

"Jangan bilang ini perbuatan dia?"

Renjana tidak menjawab, dia sedikit takut melihat raut wajah Dewi terlihat menyeramkan serta sorot matanya menggambarkan kalau dia sangat marah setelah mengetahui fakta tersebut.

"Memang dia, mbak. Dia ngaku-ngaku jadi Om Elias supaya Renja keluar dari kantor buat nemuin dia. Makin berani aja itu orang-orang gila" kompor Janu ketika dia menyadari kalau aura di sekitar Dewi terlihat gelap dan berbahaya.

"Renjana, Janu, kalian disuruh pulang sama Darma" ucap Arka yang berjalan menghampiri meja kerja Renjana dan Janu.

"Kak Arka, kayaknya kesabaran aku udah habis, deh?"

Suara Dewi membuat Arka, bahkan Renjana dan Janu menoleh ke wanita yang saat ini raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat.

"Tante.."

"Jangan bilang kamu nggak pa-pa diginiin Renjana. Semua manusia nggak akan rela kalo hidup mereka dibuat sekacau ini asal kamu tahu" ucap Dewi sambil menatap tajam ke Renjana yang mengatupkan bibirnya dan memilih menatap ke Arka.

Namun, Arka sepertinya tidak bisa menghalangi Dewi.

Atau Arka memang tidak berniat untuk itu?

"Awalnya Jammy, anak si Jefry bajingan itu. Lalu, Ina si iblis jahannam yang seharusnya Kak Darma bunuh aja dari pada masukin dia ke rumah sakit jiwa. Terus sekarang Nirmala bajingan itu ikut-ikutan, dan Andi tidak tahu diri itu mulai bertingkah seperti anjing yang menjilat ke tuan nya" ucap Dewi dengan menatap lekat Arka yang menghembuskan nafas lelah.

"Mereka pikir aku ini diam karena aku takut?" ucap Dewi yang setelahnya mendengus kesal.

"Manusia bajingan itu jelas-jelas sedang ngeremehin aku sekarang."

Arka yang melihat Dewi amarahnya tidak terkendali langsung menatap Renjana dan Janu.

"Kalian pulang sekarang. Darma udah nelepon nyuruh kalian pulang" ucap Arka kepada kedua anak itu.

Janu yang mendengar ucapan Arka langsung membereskan barang-barangnya. Dia mana mau menghilangkan kesempatan ini karena dia sendiri memang tidak ingin lembur.

"Ayo, Ren!" ucap Janu yang langsung membereskan barang-barang milik Renjana.

Janu juga menarik Renjana berdiri dan menyeret Renjana yang masih terpaku karena melihat kemarahan Dewi. Untuk pertama kalinya Renjana melihat Dewi semarah itu.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang