"Kan, gue tuh udah bisa nebak kalo lo kerja di perusahaan bokap lo dan lo ajak Jiro supaya ada temen" ucap Hadi ke Cakra yang hanya mendengus.
Cakra juga tidak akan menyangka bahwa dia langsung ditunjuk oleh ayahnya untuk menjadi Co-CEO di perusahaan milik sang ayah dengan tujuan supaya Cakra bisa mendalami seluk beluk perusahaan sebelum akhirnya menduduki posisi sang ayah sekarang.
Karena hal itu, Cakra mengatakan kepada ayahnya bahwa dia mau mengisi posisi itu kalau Jisung bekerja juga padanya. Itulah kenapa, Jisung tidak jadi mengirim lamaran di firma hukum milik Pak Hasan karena Cakra langsung menarik Jisung bekerja dengannya di perusahaan milik ayahnya.
"Ternyata, enak juga, ya punya temen tajir" ucap Janu sambil menaik turunkan alisnya ke arah Cakra.
"Emang enak. Makanya, kalian itu seharusnya baik-baik sama gue" sahut Nanda yang tidak sengaja mendengar ucapan Janu.
"Lo juga harus baik sama gue, Nan. Lo mau gue nggak kasih restu?" ucap Hadi ke Nanda yang langsung sungkeman dengan Hadi.
"Berikanlah restu kepada saya ini, wahai kakak ipar" ucap Nanda.
Mereka semua berada di rumah sekarang karena hari libur. Biasanya, di hari libur seperti ini, Janu dan Nanda masih terlelap karena mereka suka begadang untuk bermain game. Tetapi, yang justru terjadi, mereka berdua sudah bangun. Sedangkan, Renjana yang biasanya selalu menjadi orang pertama yang bangun di pagi hari, justru masih terlelap di kamarnya dan tidak ada yang berani membangunkan anak itu.
Mada sendiri pergi jogging bersama Ulfa. Mereka tahu kalau jogging itu hanya kedok Mada saja. Aslinya, Mada itu sedang berkencan dengan Ulfa.
"Ini, kak" ucap Jiro yang masuk ke dalam rumah sambil membawa kantung plastik berisikan bubur.
Dengan wajah bersungut-sungut, Jiro meletakkan kantung plastik berisikan bubur ayam tersebut di atas meja.
Semenjak Jiro bisa mengendarai motor (berkat ajaran Janu). Anak itu semakin sering disuruh-suruh oleh para abangnya. Contohnya pagi ini. Dia disuruh membeli bubur oleh Janu untuk sarapan karena Renjana belum bangun dan membuatkan sarapan untuk mereka. Padahal, biasanya para abangnya itu memesan online. Tetapi, tadi pagi mereka beralasan, mengatakan bahwa ongkos untuk pemesanan online itu mahal.
Dan yang membuat Jiro dongkol. Karena, yang mengatakan hal tersebut adalah Nanda. Seorang Nanda yang biasanya kalau berbelanja tidak pernah menanyakan harga, mengatakan bahwa ongkos untuk pesan online itu mahal?
"Senyum, dong Ji" ucap Cakra sambil terkekeh pelan ke Jiro yang masih berwajah masam.
"Beli bubur depan komplek, doang Ji. Harus ikhlas, dong. Kan, lo dikasih upah juga sama kita" ucap Hadi pada Jiro yang mendelik ke abangnya itu.
"Uangnya pas, kak."
Janu tadi mengatakan kalau uang yang mereka berikan itu berlebih dan sisanya bisa untuk Jiro. Tapi, nyatanya, uang yang diberikan Janu itu pas dan tidak ada sisa. Itulah kenapa Jiro semakin dongkol.
"Hm.., berarti belum rejeki lo, Ji" ucap Janu dengan entengnya.
"Ambilin piring sama sendok, gih" ucap Nanda ke Jiro yang dengan cemberut berjalan ke dapur untuk mengambil pesanan abangnya.
"Jiro jadi makin sering merajuk. Udah mula ketularan Cakra" ucap Hadi.
"Bang, semua orang bakalan kayak Jiro kalo punya abang-abang sedeng kayak begini" gerutu Cakra.
"Yang penting lo punya abang-abang ganteng yang bisa dibanggakan, Cak" ucap Nanda membuat Cakra bersungut-sungut.
"Percuma aja ganteng tapi sedeng" gerutu Cakra.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)