Chapter 74

1.1K 153 32
                                        

Pagi ini keadaan di kediaman Darma diawali oleh teriakan membahana dari dua bujang yang tidur di kamarnya Renjana. Semua orang terbangun termasuk Darma yang langsung berlarian menuju kamar anaknya itu. Dia takut terjadi sesuatu pada anak-anak bujangnya yang berkumpul di kamar Renjana.

Ketika Darma membuka pintu kamar Renjana, Darma malah mendapati Cakra dan Nanda yang tertawa, Mada yang berusaha menenangkan Janu dan Hadi, Renjana yang kebingungan, serta Jiro yang hanya bisa melihat kelakuan para abangnya dengan wajah mengantuk.

"Lo kenapa grepe-grepe badan seksi gue, hah?! Demen lo?!" seru Janu sambil menyilangkan kedua tangannya di tubuhnya.

Janu merasa dilecehkan karena ketika dia membuka matanya tadi pagi, dia melihat sebuah tangan mendarat di dekat dadanya. Terlebih tangan itu mendarat di area sensitif Janu. Tentu saja Janu langsung berteriak dan dia semakin berteriak ketika tahu yang memegang dada seksinya adalah Hadi.

"Udah sinting ya lo?! Heh, badan gue juga nggak kalah seksi dari badan lo?! Lagian gue mana tahu tangan gue mendarat di situ!" seru Hadi sambil melirik dua area sensitif yang ada di dekat dada Janu itu.

"Nggak usah ngelak, Di. Gue tahu lo demen kan punya badan kayak gini? Lo iri kan? Makanya lo grepe-grepe ini kan?!" seru Janu sambil menunjuk dua area sensitif di dekat dadanya itu.

"Najis! Jangan halu lo! Gue grepe aja kagak!"

Darma menikmati keributan ini.

"Udah ah! Pagi-pagi udah sibuk aja bahas susu nya Janu!" seru Nanda yang setelahnya kembali tertawa ngakak karena mendengar ucapannya sendiri.

"Susunya Janu, kekekekek" kekeh Nanda yang suara tawanya memancing Cakra untuk tertawa lagi.

"Di sini nggak ada susu!" sewot Janu sambil menunjuk dadanya dan melotot ke Nanda yang malah semakin tertawa.

Mada sampai tidak bisa menahan tawanya. Mada pun tertawa karena ucapan Nanda dan juga suara tawa Nanda yang memancing Mada untuk ikut tertawa. Dia jadi gagal menenangkan Janu dan Hadi yang masih saling bertatapan dengan sengit.

Darma geleng-geleng kepala melihat kelakuan para anak bujang ini. Ada saja yang mereka debatkan. Lalu, tatapan mata Darma tertuju pada Renjana yang hanya diam melihat teman-temannya tertawa.

"Eh, anak papa sudah banguun."

Kalimat dari Darma itu membuat mereka semua serentak menoleh ke Renjana yang masih berbaring di tempat tidurnya. Renjana sampai tidak bisa menyembunyikan kegugupannya karena ditatap seperti itu oleh Darma dan keenam temannya.

"Abaang, gue seneng banget lihat lo udah baliiik. Tahu, nggak bang. Selama abang nggak ada, Bang Janu ngerepotin Bang Mada terus, bang. Dia kelupaan terus bawa kolor ke kamar mandi, bang. Terus terus terus, Bang Janu juga usil ke gue, bang. Marahin bang!" adu Cakra sambil menunjuk Janu yang melotot ke anak itu.

Kenapa pula Cakra membahas masalah celana dalam itu ketika ada Darma di kamar ini?

Renjana hanya bisa diam. Dia menatap teman-temannya lalu ketika manik matanya bertemu dengan Nanda, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Renjana juga tidak menatap Darma membuat pria tua itu kembali memikirkan ucapan Cakra semalam.

Apa iya wajahnya menyeramkan?

"Abang kenapa diam aja?" ucap Cakra sambil menatap Renjana dengan sedih.

Mada yang melihat keterdiaman Renjana, berjalan menghampiri adiknya itu.

"Kenapa, Ren? Kepala lo pusing? Atau, ada yang mau lo omongin? Kalo iya, bilang aja. Nggak pa-pa, nggak ada yang marah" ucap Mada sambil tersenyum hangat ke Renjana.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang