Janu menatap layar ponselnya dengan alis saling bertaut. Sesekali pemuda itu berdecak kesal setiap dia menatap layar ponselnya. Bahkan, Janu sampai tidak melanjutkan laporan yang diminta Arka karena dia terlalu fokus dengan melihat layar ponselnya.
Sebenarnya, Putra penasaran kenapa Janu menatap ponselnya sampai seperti itu. Tapi, karena dia juga takut dipelototi oleh Janu kalau dia bertanya, Putra memilih melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali dia melirik Janu.
Sedangkan Janu sendiri, dia masih setia memandang layar ponselnya sampai layarnya mati, lalu ketika layar itu mati, Janu akan kembali menghidupkan layar ponselnya itu hanya untuk kembali memandangnya.
"Janu, temenin aku, dong."
Janu yang sedang menatap lekat layar ponselnya itu menoleh ke Renjana yang sudah berdiri di dekat Janu sambil ikut memandangi layar ponsel milik Janu.
"Ke mana?" tanya Janu yang memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celana.
"Janu, itu siapa yang ngirimin kamu pesan kayak gitu?" tanya Renjana yang terdengar cemas.
Janu hanya mengibaskan tangannya tidak peduli.
"Paling orang iseng" ucap Janu terdengar tidak peduli.
"Mana ada orang iseng ngirim pesan mengancam kayak gitu, Nu!"
Janu menatap Renjana yang sudah was-was dan takut sekali terjadi sesuatu lagi kepada mereka.
Sebenarnya, Janu juga tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan tersebut. Pesan yang merupakan ancaman pembunuhan itu membuat Janu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Apakah dia pernah berbuat kesalahan kepada orang lain sebelumnya sehingga dia bisa mendapatkan pesan seperti itu?
"Udah, Ren. Nggak usah dipikirin, paling itu orang iseng. Sekarang, jawab pertanyaan gue, lo mau ditemenin ke mana?"
Renjana tidak percaya dengan ucapan Janu. Dia jelas membaca pesan tersebut dan dia yakin kalau pesan itu bukan dari orang iseng. Setiap kata yang tertulis di sana benar-benar menggambarkan rasa dendam yang sangat besar ke Janu. Bahkan, Renjana sendiri merinding setelah membacanya.
"Pergi nemuin kliennya Om Arka, kata om mending perginya sama kamu" jelas Renjana membuat Janu mengernyitkan alisnya.
"Lah? Kok gitu?" tanya Janu keheranan.
"Iyaa, soalnya kata Om Arka, kliennya galak."
Janu langsung menggerutu setelah mendengar ucapan Renjana. Dia merasa kalau dia dijadikan tumbal kalau karyawan di sini diharuskan bertemu dengan klien galak.
Setiap mereka bertemu klien yang galak pasti Janu harus ikut.
"Ayok, cepetan!" gerutu Janu ke Renjana yang mengekori Janu di belakang.
Renjana menyamakan langkah kakinya dengan Janu. Tepat ketika dia berdiri di sebelah Janu, dia pun membuka mulutnya untuk mengatakan kalimat yang tadi ingin dia katakan tetapi tidak jadi karena Janu sudah memotong Renjana terlebih dahulu.
"Nu, kayaknya kamu harus bilangin ini ke Nanda, deh" ucap Renjana, dia agak kewalahan menyamakan langkah kaki Janu yang cepat dan besar-besar.
Ketika Janu berjalan, maka Renjana akan berlari kecil.
Secepat itu langkah kaki Janu.
"Nggak usah, Ren. Lagian, dikit-dikit lapor Nanda. Lo nggak kasihan apa sama Nanda? Dia sampe kurus kerempeng karena selama ini dia yang ngurus semua masalah kita?" ucap Janu.
Janu pergi ke bagian resepsionis untuk meminta kunci mobil milik perusahaan. Sedangkan Renjana, dia menunggui Janu di dekat lobi sambil memikirkan ucapan Janu tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fiksi Penggemar*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)