Chapter 85

1.1K 149 21
                                        

"Nanda aneh banget. Kenapa dia nggak bilang aja ke kita apa yang terjadi? Kenapa dia nyuruh kita nunggu? Dia pikir menunggu itu enak kayak bakwan?" gerutu Hadi yang kesal karena Nanda langsung saja pergi tanpa memberitahu terlebih dahulu kepada mereka apa yang terjadi pada Renjana.

Raut wajah Nanda yang tidak biasa membuat Mada, Hadi, Cakra, dan Jiro khawatir dan ingin tahu apa yang terjadi.  Tetapi, Nanda tidak menjelaskan apa-apa, dia langsung terburu-buru pergi dan mengabaikan teriakan membahana dari Hadi.

Hadi tidak bisa dibiarkan penasaran seperti ini jika menyangkut masalah teman-teman nya dan juga Hana.

"Abang bilang bakwan, gue jadi selera bakwan" ucap Cakra yang meneguk ludahnya karena tiba-tiba dia membayangkan bakwan goreng yang hangat.

"Sama, Cak" sahut Jiro. Soalnya, di dekat kampus mereka ada penjual gorengan yang bakwan nya sangat enak.

Jiro jadi terbayang bakwan itu sehingga dia ikut berselera seperti Cakra.

"Malah laper, nih anak!" kesal Hadi, padahal dia menyebut bakwan hanya untuk perumpamaan saja.

Di lain sisi, Mada sudah terlihat seperti seorang ayah yang khawatir karena anak gadis nya belum pulang-pulang. Mada tidak henti memijit pangkal hidungnya dengan bayang-bayang mengerikan mulai memenuhi isi kepala Mada.

Melihat raut wajah Nanda yang frustasi membuat Mada mulai memikirkan hal yang aneh-aneh. Apalagi jika ini menyangkut dengan Renjana. Pemuda itu tahu sekali telah terjadi sesuatu pada Renjana jika Nanda menunjukkan raut wajah tidak biasa seperti tadi.

"Firasat gue nggak enak" ucap Mada sehingga pandangan mata para adiknya tertuju kepada nya.

"Jangan mikir yang aneh-aneh, bang. Semoga aja bukan hal buruk" ucap Hadi sambil mengusap pundak Mada menggunakan tangan nya yang tidak cidera.

"Soalnya ini Renjana Wistara, Di" ucap Mada yang nada suaranya terdengar frustasi.

"Kayaknya, Bang Renja kudu ganti nama, deh. Pengusir bala" celetuk Cakra membuat Hadi dan Mada menatapnya dengan jengkel.

"Atau suruh mandi kembang aja? Kasihan gue sama Bang Renja dikuntit dedemit teruus" lanjut Cakra seolah-olah tidak menyadari tatapan jengkel kedua abang nya.

Mada menghela nafas dengan keras, dia mulai gelisah padahal belum lama Nanda pergi dari apartemen. Mada benar-benar ingin mendapatkan jawaban serta penjelasan dari Nanda segera.

"Coba tanya Janu? Dia kan satu paket sama Renja?" celetuk Hadi.

"Jiro, tolong telepon Janu" ucap Hadi pada Jiro yang langsung meraih ponselnya di atas meja.

Jiro pun mencari kontak nya Janu lalu mencoba menelepon abang nya itu. Cukup lama Jiro menelepon Janu tetapi tidak kunjung diangkat oleh Janu.

"Kayaknya Kak Janu sibuk, deh kak" ucap Jiro dan kembali terdengar suara helaan nafas lelah nya Mada.

Tapi, tidak lama kemudian ada panggilan masuk dari Janu membuat Jiro langsung menjawab panggilan itu.

"Nape?"

Jiro meringis setelah mendengar suara ketus dari Janu. Dia pun memberikan ponselnya itu ke Hadi. Lebih baik Hadi saja yang menghadapi Janu yang sedang bete.

"Halo, Janu?" ucap Hadi yang setelahnya dia me-loud speaker-kan panggilan tersebut.

"Hah?"

"Ketus amat lo anjir! Gue cuma mau nanyain keadaan Renja!" kesal Hadi karena tidak suka mendengar nada ketus dari Janu.

"Gue bete banget sama klien tadi! Pengen gue geprek kepala nya!"

"Huft, kenapa lo nanyain Renja? Dia di kantor. Paling lagi mamam cantik sama rekan kerja gue."

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang