Chapter 114

1K 162 32
                                        

"Bang Mada kenapa aneh banget, ya? Dia kebanyakan bengong" bisik Renjana ke Janu yang sedang bermain di game ponselnya malam itu.

"Biasanya ciri-ciri banyak hutang, Ren" jawab Janu dan dia mengaduh karena Renjana memukul pundaknya.

Di ruang TV malam ini hanya ada Renjana dan Janu.

Cakra dan Jiro pergi bersama Satria.

Sedangkan, Nanda, anak itu sedang teleponan dengan Hana di teras depan dan sejak tadi belum juga selesai.

Hadi tidur di kamarnya setelah dia menceritakan pertemuannya dengan orang tua nya sambil menangis sesenggukan.

Dan orang yang sedang mereka bicarakan. Mada. Berada di dalam kamar dan sibuk sekali dengan proyek yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Sejak tadi, Mada juga tidak terlalu banyak bicara. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.

Biasanya, ketika para adiknya bercerita dan berkeluh kesah sambil menangis tersedu-sedu. Pasti Mada akan menenangkan mereka dan memberikan sedikit kata-kata motivasi untuk mereka. Tetapi, untuk kali ini. Mada lebih banyak bengong dan hanya menjadi pendengar.

Hal itu terlihat oleh Renjana dan dia yakin Mada tidak hanya memikirkan tentang proyek besar yang sedang ia pimpin.

"Aku, tuh serius Nu! Kamu nggak sadar apa? Bang Mada kebanyakan bengong. Kayaknya, Bang Mada ada masalah serius, deh. Tapi, segan buat cerita karena ngelihat Hadi nangis tadi" ucap Renjana mulai menerka-nerka apa yang menyebabkan Mada bertingkah aneh.

Janu menghentikan game yang ia mainkan. Dia pun menoleh ke Renjana yang terlihat sekali kalau anak itu khawatir dengan Mada.

"Ren, gue kasih tahu sama lo, ya. Bengong itu ada tipe-tipenya. Bengong karena beban hidup. Bengong karena kebanyakan hutang. Bengong karena jatuh cinta. Bengong karena lagi berak. Banyaak. Dan semua tipe bengong itu, ada ciri-cirinya" ucap Janu bak dosen yang sedang menjelaskan materi kuliah ke mahasiswanya.

"Jangan aneh-aneh kamu, Nu!" seru Renjana sambil menatap Janu dengan gemas.

Janu berdecak, "Nggak aneh ini, Ren! Sini, dengerin Aa' Janu" ucapnya sambil melambaikan tangannya ke Renjana untuk menyuruhnya mendekat.

Sambil menggerutu, Renjana mendekat ke Janu yang setelahnya berdehem.

"Coba kasih tahu gue. Gimana bentukan bengong nya Bang Mada?"

"Tatapan matanya kosong, Janu. Bengong, kan rata-rata kayak begitu bentukannya!"

"Duh, nggak sabaran banget tuyulnya Om Darma ini. Gini, loh Ren. Kalo diajak ngomong, Bang Mada ini nyambung, nggak?" tanya Janu.

"Nggak."

"Tatapan kosong Bang Mada ini, kayak orang bego atau kayak orang susah?" tanya Janu lagi membuat Renjana mengernyitkan alisnya.

Renjana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Mana aku tahu, Nu! Pokoknya, Bang Mada bengong nggak jelas. Ditanya nggak nyambung. Roh nya kayak jalan-jalan. Terus, kadang Bang Mada senyum terus bengong lagi!"

Janu menjetikkan jarinya.

"Fix! Bang Mada hatinya lagi berbunga-bunga, Ren!" seru Janu sambil menaik turunkan alisnya.

"Kayak karangan bunga?" celetuk Renjana.

"Ini, nih gegara jomblo dari zaman purba. Nggak ngerti maksud dari hati yang berbunga. Bang Mada itu lagi jatuh cinta, sahabatku!" ucap Janu yang setelahnya mengarahkan pandangannya ke kamar Mada dengan tatapan bangga.

"Akhirnya, abang bangkotan kita, menemukan tulang rusuknya."

Lalu, Janu melirik Renjana dengan sinis.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang