"Gila, Di, Nanda beneran kaya raya, gue aja sampe minder jemput lo pake motor" ucap Tio ketika dia melihat Hadi keluar dari gedung apartemen itu.
Hadi sebelumnya meminta Tio untuk menjemputnya supaya mereka bisa pergi ke tempat kerja bersama-sama. Tio baru saja selesai kelas dan dia langsung pergi ke alamat apartemen nya Nanda ini. Tio saat itu sampai ragu ingin masuk ke dalam karena yang ia lihat adalah mobil-mobil mewah yang keluar masuk dari apartemen itu.
"Gue aja sampe kini nggak nyangka kalo Nanda sekaya ini, Yo" ucap Hadi yang langsung menaiki motor Tio.
"Kalo adek lo jadi beneran sama Nanda. Gila, lo bakalan besanan sama salah satu orang terkaya di Indonesia, Di. Nasib lo beneran berubah 180 derajat kalo emang terjadi" ucap Tio yang terkagum-kagum memikirkan hal itu.
"Yaa, itu kalo emang mereka jodoh" ucap Hadi yang memang cuek untuk masalah itu. Ibaratnya, dia tidak mau berharap lebih.
Kalau memang Nanda dan Hana berjodoh, Hadi akan mensyukuri itu karena dia tahu Nanda pasti menjaga adiknya dengan baik. Kalau tidak, apa mau dikata? Mana mungkin Hadi memaksakan kalau memang Nanda dan Hana tidak bisa bersatu? Apalagi, kalau perpisahan mereka memang terjadi karena takdir yang memintanya.
Bagi Hadi, selama mereka masih bisa berhubungan baik, maka Hadi tidak mempermasalahkan bagaimana ke depannya hubungan Nanda dan Hana.
Perjalanan mereka berdua lebih banyak diisi dengan obrolan ringan. Sesampainya mereka di toko, sudah ada Zena beserta Radit di dekat kasir membuat Hadi bahkan Tio menatap tidak percaya karena melihat kehadiran Radit di sana.
"Bang Radiiiit, abaaaang, lo selama ini di mana?" ucap Tio yang sudah heboh berlarian ke Radit.
"Pokoknya masih di Indonesia ini lah, Yo" jawab Radit yang tidak mau memberitahu selama ini dia berada di mana.
"Kapan abang nyampenya, bang?" tanya Hadi.
"Kemaren, dan sementara abang tinggal di rumahnya Leo" jelas Radit dan Hadi menganggukkan kepalanya mengerti.
"Hana gimana keadaannya, Di?" tanya Zena yang sudah tahu kalau Hana keluar dari rumah sakit dan sedang istirahat di kosnya.
"Alhamdulillah baik, bang. Kata Hana lukanya udah mulai kering dan nggak perih kalo dibawa jalan" jelas Hadi membuat Zena yang mendengarnya mengucapkan kata syukur. Zena senang kalau memang Hana dalam keadaan baik-baik saja pasca penusukan itu.
"Renja gimana? Panasnya udah turun?" tanya Zena lagi, dia tahu karena Hadi yang memberitahu ketika dia izin ke Zena kalau dia tidak bisa membuka toko karena harus menjaga Renjana yang demam.
"Tadi, sih belum bang, tapi ada Nanda yang nemenin Renja" jawab Hadi.
"Masih panas banget?" tanya Zena dan Hadi mengangguk.
"Yakin kalian itu cuma demam? Siapa tahu bukan" ucap Zena yang jadi khawatir setelah mendengarnya.
"Rencananya kalo emang panasnya nggak turun-turun bakalan kita bawa ke Om Elias" jelas Hadi lagi.
"Ini Renja yang mirip Kian itu, ya?" tanya Radit dan Zena serta Hadi serentak menganggukkan kepalanya.
"Gue waktu pertama kali ngelihat Renja juga mikirnya itu Kian. Tapi, kalo dilihat-lihat lagi, mereka berdua nggak semirip itu, kok. Cuma pembawaannya aja yang rada-rada mirip" jelas Zena ke Radit yang menganggukkan kepalanya.
"Sejauh mana Jamal berbuat sesuatu ke kalian? Selain dia nusuk adiknya Hadi?" tanya Radit.
"Tio, keluarga lo masih diteror?" tanya Zena ke Tio yang menggelengkan kepalanya.
"John kabur dari penjara, bang" ucap Hadi ke Radit yang langsung memijit pangkal hidungnya setelah mendengar berita itu.
"Kenapa di antara semua manusia, malah John yang kabur?" gerutu Radit.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fiksi Penggemar*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)