Chapter 119

1.1K 140 10
                                        

"Bang, gue sama Jiro boleh minjem Hana, nggak?"

Hadi langsung mendelik ke arah Cakra setelah dia mendengar pertanyaan anak itu.

Lagi-lagi Cakra dan Jiro datang ke toko nya Zena dengan alasan mereka berdua terlalu bosan di rumah. Ayah dan ibunya Cakra masih melakukan perjalanan bisnis. Lalu, Azwar juga pergi ke Semarang. Sedangkan Rachel, dia pergi ke Singapura untuk berlibur bersama teman-temannya. Jadi, keadaan di rumah sangat sepi, membuat Cakra langsung mengajak Jiro untuk menemui Hadi di toko nya Zena.

"Lo kira adek gue barang?!" ucap Hadi dengan nada sewot, tidak lupa dengan tatapan mata setajam silet nya ke Cakra.

"Bukan gitu maksud Cakra, kak. Jadi, aku, Cakra, Satria, sama Wina mau pergi liburan. Tapi, Wina nggak mau cewek sendiri. Wina nggak punya temen deket sini. Aku sama Cakra mau ngajak Hana, kak. Buat nemenin Wina supaya Wina ada temennya" jelas Jiro kepada Hadi supaya tidak ada kesalah pahaman.

"Oooh, gitu. Ngomong itu yang jelas!" gerutu Hadi ke Cakra. Tetapi, anaknya Pak Candra itu hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya.

Hadi tidak keberatan kalau Hana pergi berlibur bersama Cakra dan Jiro. Dia percaya saja dengan mereka. Lagian, dua teman Hana yang bernama Noni dan Michelle itu sedang pulang ke kampung halaman masing-masing karena musim liburan. Dari pada dia membiarkan Hana kebanyakan berada di kos, lebih baik Hana pergi bersama Cakra dan Jiro, bukan?

"Nanti gue tanyain ke Hana" ucap Hadi.

"Nah, dari pada kalian bikin gue kerja dua kali. Mending kalian main di luar. Terserah, kek kalian mau ngapain di luar" ucap Hadi yang mengusir Cakra dan Jiro dari pada dia akan terkena serangan sakit kepala sebentar lagi.

"Tapi, tapi, kita mau bantuin abaang" ucap Cakra yang sepertinya tidak ingat dosa besar apa yang sudah Cakra lakukan kepada Hadi.

Hadi tersenyum ke Cakra.

"Nggak usah, Cak. Gue udah terbiasa kerja sendirian. Jadi, lebih baik lo main di luar aja sama Jiro. Mau main dokter-dokteran pun juga boleh. Asalkan kalian berdua tidak menginjakkan kaki kalian di dalam toko" ucap Hadi sambil mendorong Cakra dan Jiro.

Jiro pasrah saja tubuhnya didorong oleh Hadi. Dia maklum kalau Hadi tidak mau dibantu karena terakhir kali mereka membantu Hadi, yang ada Hadi malah menenggak obat sakit kepala.

Hanya Cakra yang memberontak dan tetap keras kepala ingin membantu Hadi.

"Elu main aja sama si Udin itu! Noh, kosnya ada di gang itu, noh! Nggak jauh dari gang!" seru Hadi sambil menunjuk sebuah gang yang berada di seberang toko. Jaraknya tidak terlalu jauh dari toko nya Zena.

"Siapa si Udin?" tanya Cakra yang kebingungan.

"Temen baru kalian!" gerutu Hadi, dia kembali melambaikan tangannya mengusir Cakra dan Jiro.

"Kenzi, Cak. Kayaknya, Kak Hadi manggil Kenzi, Udin, deh" ucap Jiro ke Cakra yang tertawa setelah tahu Udin itu adalah Kenzi.

"Kalo gitu, gue manggil dia Udin juga, ah!"

"Inget, ya! Kalian berdua jangan ada yang masuk ke dalam toko!" peringat Hadi sebelum akhirnya dia masuk ke dalam toko, meninggalkan dua adiknya yang berdiri seperti anak hilang di depan pintu.

***

Mada hanya bisa tersenyum setelah mendengar omelan ibunya karena tidak pernah pulang ke kampung. Meskipun Mada sudah menjelaskan ke ibunya kalau dia tidak bisa pulang karena memimpin sebuah proyek besar, sang ibu tidak ada memuji Mada atau pun mengatakan dia bangga kepada Mada. Justru sang ibu malah semakin mengomel karena dia merasa Mada sudah lupa dengan ayah dan ibunya di kampung.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang