Renjana menatap John yang menunggu di mobil ketika mereka tiba di klinik. Renjana pun berjalan dengan pelan menuju klinik itu dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut serta plester penurun panas masih menempel di keningnya.
John menyuruh Renjana pergi sendiri ke klinik karena dia melihat keadaan di klinik cukup ramai. John hanya tidak ingin mengambil resiko jika dia nekat keluar menemani Renjana ke klinik meskipun sebelumnya Renjana minta ditemani.
Renjana berjalan mendekati bagian administrasi dengan sedikit sempoyongan karena tubuhnya masih lemas. Bagi Renjana, ini adalah demam paling lama yang ia rasakan. Untung saja John mau membawanya ke klinik karena jujur saja, Renjana sudah tidak tahan dengan rasa ngilu di tubuhnya dan rasa pusing di kepalanya.
Setelah mendaftar dan memberitahu keluhannya ke perawat yang ada di klinik itu, Renjana pun menunggu namanya dipanggil. Dia duduk di kursi panjang sambil mencari sesuatu di dalam saku hoodie.
Renjana mengerjapkan matanya. Dia baru sadar kalau hoodie yang ia kenakan adalah milik John. Artinya, dompetnya tidak ada di sana.
"Haah, terpaksa balik lagi ke mobil" ucap Renjana dengan sedikit mengeluh. Dia sudah tidak sanggup berjalan lagi ke mobil. Tapi, tidak mungkin dia berobat tanpa membayar.
Renjana mengumpulkan semua tenaganya lalu mulai berjalan menuju tempat di mana John memarkirkan mobilnya. Setelah dia menemukan mobilnya John, Renjana berjalan ke sana lalu mengetuk kaca mobil karena pintunya dikunci John.
"Kenapa?" tanya John ketika dia melihat Renjana kembali ke mobil.
"Dompet aku, bang. Di dalam hoodie" ucap Renjana ke John yang menoleh ke kursi paling belakang.
"Pake duit gue aja dulu, gue mager ke belakang ngambil dompet lo" ucap John sambil memberikan beberapa lembar uang ke Renjana.
"Di sana ada warung, kalo ada sisa nya lo pake aja buat jajan" ucap John membuat Renjana tanpa sadar tersenyum senang ketika mendengar kata jajan.
"Makasih, abang" ucap Renjana yang tiba-tiba punya tenaga lagi sehingga dia tidak sadar kalau dia berlari kecil menuju klinik.
"Dih, kayak bocil."
***
Mereka semua tidak menyangka bahwa pagi ini mereka akan kedatangan Darma di unit apartemennya Nanda ini. Melihat dari penampilan Darma, sepertinya pria tua tersebut baru saja tiba dari luar negeri dan langsung pergi ke apartemen setibanya ia di bandara.
Keenam bujang itu duduk di karpet sedangkan Darma duduk di sofa, terlihat satu gelas kopi di atas meja. Darma tidak mengatakan apa-apa setelah dia meminta Mada membuatkannya kopi dan juga meminta Mada untuk mengumpulkan semua anak bujang ini di ruang TV.
Karena tidak biasa melihat Darma seperti ini, mereka juga tidak mengatakan apa-apa. Keenam bujang itu hanya bisa saling lirik kecuali Jiro yang berusaha keras menahan rasa kantuk di matanya. Dia benar-benar lelah dan mengantuk. Tetapi, Jiro berusaha keras membuka matanya. Jiro yakin kalau Darma ingin memberitahukan hal yang serius.
"Om udah denger semuanya dari Pak Reza" ucap Darma setelah sekian lama mereka diselimuti oleh keheningan.
"Renjana dibawa sama John. Dan sampai sekarang, baik Pak Reza atau pun orang suruhan Candra, belum ada yang berhasil menemukan jejak John dan Renjana. Mereka seperti menghilang ditelan bumi" jelas Darma membuat mereka berenam semakin takut jika terjadi sesuatu pada Renjana.
Darma memejamkan matanya dengan kuat. Dia tidak menyangka bahwa akhirnya akan menjadi seperti ini. Darma pikir, para anak bujangnya akan aman jika tinggal di apartemen Nanda. Ternyata, tetap saja ada yang kecolongan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fiksi Penggemar*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)