Chapter 108

1K 153 12
                                        

Tujuh pemuda itu duduk melingkar di ruang TV apartemen Nanda. Mereka sedang memikirkan sesuatu yang terjadi kepada mereka selama beberapa hari belakangan ini.

Dan mereka tidak menyangka, bahwa mereka akan berada di titik ini.

Titik di mana semua permasalahan ini akan berakhir.

Semua ini diawali oleh Nanda yang tiba-tiba saja menyuruh mereka untuk berkumpul di ruang TV sambil menunggu makan malam yang mereka pesan pun tiba.

Mereka semua duduk melingkar di ruang TV itu setelah menggeserkan meja kaca yang ada di sana dan hanya menyisakan karpet nya saja.

Lalu, tiba-tiba saja Nanda membahas tentang berita yang sedang trending topik di internet saat ini. Mereka semua langsung heboh dan sama-sama menyerukan kalau mereka mengetahui berita tersebut.

"Persidangannya akan dimulai, loh. Dan mereka semua nggak bisa lolos kali ini karena Tante Mira yang handle" jelas Nanda.

Sebuah penjelasan yang menyebabkan para anak bujang itu terdiam di tempat mereka duduk.

"Jadi, sebentar lagi kita bakalan terbebas dari manusia jahannam itu?" tanya Hadi yang sepertinya masih tidak percaya kalau mereka akan terbebas dari semua kegilaan ini.

Nanda menganggukkan kepalanya dengan yakin.

"Pengikut dajjal itu beneran nggak bisa ngapa-ngapain kita setelah ini? Seriusan?" tanya Janu dan Nanda menganggukkan kepalanya lagi.

"Seriusaan. Tante Mira nggak bakalan biarin itu manusia dajjal nyenggol kita lagi. Mereka salah pilih lawan" ucap Nanda sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

"Inilah akibatnya kalo cari masalah sama Keluarga Graciano dan Tante Mira" ucap Nanda membuat Hadi, Janu, dan Cakra mencibir.

Perasaan mereka tidak ada memuji Nanda, kenapa kesombongan anak itu langsung aktif saja?

"Sorry sorry, nih ye bang. Keluarga gue juga ada andilnya tahuu" gerutu Cakra yang cemberut karena merasa jasa dari keluarganya tidak dianggap.

Padahal Bu Lini sudah mencari informasi untuk menghancurkan perusahaan kecil milik Andi dan Citra. Candra pun sampai rela diomeli oleh Bu Lini karena merasa Candra sudah membebankan banyak tugas untuknya ketika dia sebenarnya ingin berlibur.

"Kalian semua berjasa di masalah ini tahu, nggak. Aku sampai nggak tahu lagi kata-kata apa yang harus aku ucapkan ke kalian semua" ucap Renjana yang merasa kalau dia tidak melakukan apa-apa.

Renjana merasa kalau yang dia lakukan hanyalah menyusahkan mereka. Sehingga, Renjana tidak tahu, dia harus merasa bersalah atau merasa berterima kasih karena semua orang di sekitarnya sampai melakukan apa saja untuk menolong Renjana.

"Gue udah tahu isi kepala lo, ya Renja. Pasti lo merasa lo nggak pantes ditolongin. Pasti lo merasa, lo itu nggak ngapa-ngapain dan cuma nyusahin kita? Ngaku aja, lo. Kelihatan dari muka lo" gerutu Hadi membuat Renjana menyentuh kedua pipinya sambil melotot kaget ke Hadi.

Kenapa bisa Hadi tahu isi kepalanya dengan semudah itu? Sebegitu mudahkan membaca isi kepalanya lewat wajahnya?

"Kelihatan kayak orang susah, ya Di?" celetuk Janu membuat Cakra dan Nanda tertawa terbahak-bahak.

"Mulut lo, Nuu" ucap Mada sambil berusaha menahan tawanya. Dia tidak mau Renjana merajuk karena ditertawakan.

Renjana mendelik sebal ke Janu yang malah pelanga-pelongo, merasa kalau dia tidak mengatakan sesuatu yang salah.

"Menurut aku, aku lah yang paling nyusahin kalian semua."

Celetukan dari Jiro itu membuat mereka semua menoleh ke arah Jiro yang menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya dengan gugup.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang