Chapter 31

1.1K 138 28
                                        

Janu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Karena dia adalah mantan anak jalanan, maka tidak perlu membutuhkan waktu lama bagi Janu untuk bisa sampai di lokasi tempat dia dengan seseorang yang mengirim pesan itu berada.

Motor kebanggaan Janu ini berhenti di sebuah ruko kosong yang sebenarnya masih ada beberapa pedagang di sana. Janu melepas helm nya, tetapi dia menenteng helm itu di tangannya, tidak ia letakkan di atas jok motor.

Janu melangkahkan kakinya masuk ke ruko dan ketika dia melihat ada dua orang berbadan besar berdiri di dekat pintu masuk menuju salah satu ruangan di dalam ruko tersebut. Dengan emosi yang tidak bisa Janu bendung, Janu melayangkan tendangan di area privasi dua berbadan tinggi itu menggunakan sepatu kantornya.

Dua orang berbadan besar dan tinggi tersebut langsung terkulai lemas karena adik kecil mereka diserang oleh Janu. Tidak puas hanya dengan tendangan, Janu menghantam kepala mereka berdua menggunakan helm. Kepala kedua orang itu saling beradu dan membuat mereka pingsan.

Janu menendang dua orang itu karena menghalangi jalannya, dia pun meraih satu balok kayu yang ada di dekat pintu masuk. Dia juga meraup pasir yang berada di atas etalase kaca, entah kenapa ada pasir disitu tetapi dia tetap meraup pasir tersebut dan menggenggamnya dengan kuat.

Janu menendang pintu yang hanya ditutup menggunakan triplek itu. Ketika dia melihat ada dua orang berbadan besar sudah menghalanginya, Janu melempar genggaman pasir itu ke mata mereka berdua sehingga dua orang tersebut berteriak kesakitan karena mata mereka yang pedih kemasukan pasir.

Janu memukul kepala mereka menggunakan balok kayu dan mereka berdua pun langsung tumbang, menyisakan satu orang yang duduk di kursi dengan wajah panik karena melihat Janu berhasil menumbangkan orang-orangnya.

Dengan langkah memburu Janu berjalan mendekati sosok tersebut dan hendak menghantam kepala sosok itu menggunakan helm.

"Stop! Stop! Stop! Ampun, Nu! Jangan pukul kepala gue pake itu! Jangaaaan! Dengerin gue dulu, Nu! Dengerin gue duluuu, aaaaaaakh!"

Janu mencengkram kerah baju sosok itu dengan sangat kuat sampai urat-urat di tangannya menonjol sehingga sosok itu sampai tercekik karena cengkraman Janu yang kuat itu.

"Apa yang harus gue dengerin dari manusia macam lo, Aji?" desis Janu marah.

Dia menyeret sosok yang ternyata Aji itu membuat Aji semakin kesulitan bernafas karena lehernya tercekik.

"Gue nggak main-main kalo ada yang ngusik gue sama temen-temen gue, ya Aji. Candaan lo itu nggak lucu!" ucap Janu.

Janu membanting Aji sehingga anak itu merintih kesakitan.

"Janu! Gue serius Janu! Dengerin gue dulu!" panik Aji ketika dia melihat Janu hendak memukul kepalanya menggunakan balok kayu.

"Nggak mau."

Janu melayangkan balok kayu itu ke kepala Aji.

"Jammy! Ini suruhan Jammy!"

Balok itu berhenti tepat di dekat kepala Aji, hampir saja balok itu terkena kepala Aji.

"Akh!"

Tetapi Janu menendang Aji dan menginjak pundak Aji dengan cukup keras. Aji merintih kesakitan, kedua tangannya berada di kaki Janu supaya Janu tidak menginjak pundaknya semakin keras.

"Dia udah dipenjara, nggak usah lo make alasan ini ulah Jammy Alviano. Bilang aja lo mau balas dendam sama gue karena gue bikin lo babak belur" desis Janu dan semakin menekan kakinya ke pundak Aji.

"Aaaaakh! G-Gue serius, Nu! I-Ini beneran suruhan Jammy!" panik Aji.

Dia benar-benar tidak menyangka bahwa skenarionya akan menjadi seperti ini. Dia pikir, dia bisa memberikan sedikit bogeman mentah ke Janu karena dia membawa anak buah milik Jammy Alviano.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang