Chapter 117

1K 149 10
                                        

Sebenarnya, pemandangan seperti ini adalah hal biasa bagi Hadi. Tetapi, dia tetap saja terkejut setiap melihat Renjana sedang berdiri di depan kulkas untuk melihat bahan masakan apa saja yang ada di dalam sana untuk sarapan nanti.

Hadi mengusap dadanya beberapa kali sambil mengacungkan tinjunya ke Renjana yang tidak tahu kalau ada korbannya di sana. Sambil meredakan debaran jantungnya yang menggila, Hadi menghidupkan lampu sehingga terlihatlah semua benda dan orang di dalam ruangan ini.

"Elu kenapa suka banget gelap-gelapan?" gerutu Hadi yang berjalan menuju dispenser yang ada di dekat kulkas untuk mengambil air.

"Hemat listrik" ucap Renjana sekenanya. Anak itu sibuk mengambil bahan masakan di dalam kulkas.

Hadi mendelik sinis ke Renjana tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia juga sedang malas berdebat di pagi hari seperti ini. Jadi, Hadi memilih kembali ke kamarnya untuk mengambil handuk. Dia ingin membersihkan dirinya ini sebelum pergi bekerja.

Sedangkan Renjana, anak itu kembali memasukkan bahan masakan yang sudah ia keluarkan tadi ke dalam kulkas. Tiba-tiba saja dia malas memasak.

"Elu ngapain, buka tutup kulkas?" tanya Mada ke Renjana yang masih betah berdiri di depan kulkas.

"Bang, abang yang masak, ya? Aku lagi males" ucap Renjana ke Mada yang langsung berhenti menggaruk perutnya.

"Elu Renjana, kan?" tanya Mada sambil menatap Renjana dengan tidak percaya.

"Menurut abang?"

"Ah, iya, elu Renjana" ucap Mada sambil mengangukkan kepalanya beberapa kali.

"Oke, oke, gue yang masak" ucap Mada lagi, membiarkan Renjana berlalu ke kamarnya. Sepertinya, anak itu akan melanjutkan kembali tidurnya sembari menunggu Mada selesai masak.

***

Nanda baru saja bangun dan mendapati di dapur hanya ada Mada. Sebuah pemandangan yang tidak terlalu aneh, tetapi rasanya ada yang kurang. Nanda memilih untuk mengabaikan hal itu. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi dan mendapati pintunya dikunci. Pertanda ada salah satu temannya yang mandi di sana.

"Siapa di dalam?!" seru Nanda sambil mengetuk pintu.

"Gue!"

"Yaa, gue itu siapa?!" seru Nanda lagi yang sekarang memukul pintu itu sambil berdendang.

"Bapak lu!"

Nanda pun berdecak, "Nu! Mandi berdua hayok!"

"Lagi males gue mandi sama lo! Mandi aja lo di kamar mandi nya Renja!" seru Janu dari dalam kamar mandi.

"Nggak asyik lu, Nu!" seru Nanda lagi, yang pada akhirnya dia berbelok juga ke kamar Renjana dan Jiro. Dia akan mandi di sana, semoga saja penghuni kamar itu sudah mandi.

"Kenapa tiap pagi di rumah ini selalu ribut?" gerutu Mada yang sedang menggoreng telur.

Untung saja posisi rumah mereka ini berada di blok terakhir dan juga minim tetangga. Jadi, mereka tidak akan terkena julidan tetangga karena selalu ribut di pagi hari. Tidak hanya di pagi hari. Para bujang itu ribut setiap hari. Mada sampai tidak bisa membayangkan kalau mereka memiliki banyak tetangga dan beberapa di antaranya mempunyai anak yang masih kecil.

"Selamat pagi duniaaaa!" seru Cakra dari lantai atas.

Suara grasak-grusuk dari Cakra membuat Mada memijit pelipisnya karena pusing melihat Cakra dalam mode full energy.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang