Mada menempelkan keningnya di meja kerjanya untuk meredakan denyutan di kepalanya. Rapat kali ini benar-benar menguras tenaga serta emosinya. Ditambah lagi Mada terus kepikiran dengan Renjana yang pergi keluar dari apartemen sendirian.
Terkadang, ada saat di mana Mada tidak mengerti dengan jalan pikiran Renjana meskipun mereka sudah lama saling mengenal dan sudah lama berada di bawah atap yang sama.
Di antara semua adik-adiknya yang lain, hanya Renjana yang membuat Mada sampai terheran-heran dengan cara berpikirnya.
"Apa karena orang tuanya meninggal ketika usianya masih terlalu muda?" gumam Mada.
Menurut Mada, penyebab Renjana seperti kehilangan arah karena di masa pubertasnya tidak ada yang menuntunnya.
Mada berdiri tegak, lalu dia meraih ponselnya yang ia taruh di saku celana. Mada mencari kontak Renjana dan setelahnya dia menelepon adiknya itu. Cukup lama Mada mendengar suara deringan membuat pemuda tersebut mulai gelisah. Mada sampai menaik turunkan kakinya dengan cepat dan mulai menggigit ujung kukunya karena Renjana tidak mengangkat panggilannya.
"Kenapa nggak lo angkat?" gumam Mada lalu dia kembali menelepon Renjana.
Dengan sabar Mada kembali menunggu deringan tersebut. Mada berdecak dan merasa kalau suara deringan itu terlalu lama. Tetapi, Mada menghembuskan nafas lega ketika dia tahu deringan itu berhenti, pertanda bahwa Renjana menjawab panggilannya.
"Halo, Renja? Lo di mana? Kalo udah selesai jalan-jalannya langsung pulang. Inget keadaan lo sendiri, Renja. Nggak kasihan lo sama badan lo sendiri?" ucap Mada yang berusaha untuk tidak terdengar mengomeli Renjana.
Mungkin saja Renjana merasa suntuk di apartemennya Nanda sehingga dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Mada berusaha berpikir positif karena apartemen yang Nanda tempati itu memiliki keamanan yang bagus. Tidak mungkin orang jahat bisa masuk ke sana.
"Dia sama gue.."
Mada terdiam.
Suara itu membuat tubuh Mada gemetar ketakutan serta keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Jantung Mada berdegup kencang, dia bahkan kesulitan berbicara ketika dia tahu, bahwa yang menjawab panggilan Mada ini adalah John.
Panggilan itu langsung dimatikan oleh John membuat Mada dengan panik kembali menelepon Renjana. Hanya saja, nomor Renjana sudah tidak aktif lagi.
Mada meremas rambutnya dengan frustasi. Hal tersebut menarik perhatian Ulfa yang sedang mengerjakan laporannya. Dia melihat Mada wajahnya begitu pucat dan terlihat panik. Ulfa langsung berjalan mendekati Mada ketika dia melihat Mada mulai membereskan barang-barangnya padahal jam kerja masih berlangsung.
"Lo mau ke mana, Da? Kalo lo balik sekarang, yang ada bos marah" ucap Ulfa pada Mada yang sepertinya tidak mendengarkan Ulfa karena terlalu panik.
"Nanda.., iya, gue harus nelepon Nanda!" gumam Mada.
Mada kembali meraih ponselnya dan dia mencari nomor Nanda. Tetapi, karena terlalu panik membuat Mada tidak bisa memegang ponselnya dengan benar sehingga ponselnya itu terjatuh dan mengenai kaki Mada.
"Ya ampun, Mada!" ucap Ulfa yang dengan cepat mengambil ponsel Mada dan menatap khawatir Mada yang mengaduh kesakitan karena kakinya terkena ujung ponsel.
"Lo kenapa, sih Da? Lo itu harus tenang" ucap Ulfa pada Mada.
"Adek gue.., adek gue.., Fa.." ucap Mada sambil menatap Ulfa yang kebingungan.
"Adek gue dibawa sama orang gila.."
***
Jiro tidak henti menangis sambil terus mengucapkan kata maaf. Anak itu masih berdiri di dekat pintu dan menangis tersedu-sedu membuat Nanda yang mendengarnya pun semakin pusing. Nanda menatap Jiro dengan kesal, Jiro sesenggukan dan terlihat sekali kalau anak itu benar-benar merasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)