Chapter 93

1.1K 152 35
                                        

Tujuh anak bujang itu tidak menyangka kalau di daerah ibukota tempat mereka tinggal terdapat sebuah daerah yang terpelosok dan jauh dari hiruk pikuknya kehidupan kota. Dikatakan pinggir kota pun, tetapi tempat ini terlalu sepi dan begitu banyak pohon-pohon tinggi tumbuh di sana. Dikatakan perbatasan pun, jarang sekali mereka melihat perbatasan sesepi ini, biasanya akan ada truk-truk yang lewat.

Mobil yang ditumpangi oleh tujuh bujang itu memasuki sebuah gang yang hanya cukup dilalui oleh satu mobil. Gang tersebut jalannya tidak terbuat dari aspal, melainkan tanah dengan kerikil serta beberapa lubang berbagai macam ukuran menghiasi permukaan tanah gersang itu. Debunya bahkan menempel di kaca mobil.

"Om, kenapa harus lewat jalan jelek kayak begini, sih om? Yang ada kita encok semua pulang dari sini. Apalagi aku om, bisa-bisa bahu aku bukan bengkak lagi tapi dislokasi" gerutu Hadi yang berusaha menyelamatkan kedua bahunya dari benturan karena mobil ini tidak berhenti bergoyang berkat jalan yang jelek.

"Udah, jangan banyak protes. Kan, kalian semua yang minta ikut?" ucap Elias dengan santai.

Perjalanan ini bermula ketika Elias dan Darma datang ke apartemen Nanda. Kedua pria tua itu awalnya mengajak Mada saja karena mereka tahu kalau Mada punya impian yang harus mereka wujudkan. Tetapi, yang lain protes, apalagi Hadi, Janu, dan Nanda yang tidak mau dua pria itu hanya membawa Mada.

Kalau kata mereka bertiga, lebih seru dan menantang kalau mereka juga ikut. Pada akhirnya, Darma memutuskan untuk membawa mereka semua meskipun sebenarnya Darma tidak mau teman-teman ajaib nya Nanda ini melihat apa hal yang dia lakukan di balik layar.

Mobil itu pun berhenti di sebuah pabrik yang sudah lama tidak beroperasi. Janu, Hadi, Cakra, dan Jiro sampai berdecak kagum ketika melihat beberapa pengawal dari Darma sudah berdiri di dekat pintu masuk pabrik.

"Ayo, turun" ucap Darma kepada para anak bujang itu.

"Renja di sini aja sama abang, Dar" ucap Elias sambil menatap Renjana yang duduk di bangku belakang.

"Aku juga mau ikut mereka, om" ucap Renjana yang heran kenapa dia disuruh diam di mobil sedangkan teman-temannya sudah turun semua.

"Kayaknya lo ama Jiro di sini aja, deh sama Om Elias" ucap Nanda.

Sepertinya Nanda mengerti kenapa Elias meminta Renjana untuk tinggal di mobil bersamanya. Nanda sudah yakin kalau para pengawal ayahnya ini sedang melakukan "sesuatu" di dalam sana.

Jiro menunjuk dirinya sendiri, "Aku juga, kak?" tanya Jiro. Padahal Jiro ingin melihat keadaan Ilham di dalam gedung terbengkalai itu.

"Iya, lo juga. Takutnya kalo lo lihat, lo malah ikutan jadi Janu nomor dua" ucap Hadi membuat Janu mengerjapkan matanya.

"Memang ada hubungannya, ya?" ucap Janu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kalo bisa Cakra juga di mobil aja, sih" ucap Mada sambil menatap Cakra yang melotot tidak terima.

"Nggak mau! Gue mau ikuut" ucap Cakra yang langsung memeluk lengan Darma. Kebetulan anak itu berdiri di samping Darma.

"Haah, udah, semuanya masuk aja kalo kayak gitu. Lagian itu anak nggak diapa-apain" ucap Darma yang tidak mau  memperdebatkan hal ini.

"Yakin?" ucap Elias.

"Abang denger Dewi ke sini loh semalam sama suaminya" ucap Elias lagi membuat Darma menepuk jidatnya sendiri.

Darma lupa kalau Dewi semalam sempat ke sini dan membuat kegaduhan. Untung saja Dewi datang ke sini bersama pawangnya.

"Yang udah keluar dari mobil berarti ikut masuk ke dalam!" ucap Nanda akhirnya.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang