Chapter 130

959 150 4
                                        

Cakra sampai takut memegang ponselnya setelah dia tahu nilai untuk semester kali ini sudah keluar. Chat grup angkatannya dipenuhi oleh teman-temannya yang memberitahu berapa nilai mereka. Hal ini membuat Cakra jadi was-was dan tidak mau mencaritahu nilainya. Dia bahkan membiarkan ponselnya itu berada di atas meja tanpa tersentuh.

Hari ini tanggal merah sehingga semua orang berada di rumah kecuali Mada. Abang mereka yang satu itu memiliki pertemuan dengan anggota tim nya untuk membahas masalah progres nya proyek mereka.

"Cak, kamu udah lihat nilai kamu?" tanya Jiro yang baru saja keluar dari kamar dalam keadaan rapi dan wangi. Anak itu akan pergi bersama Renjana dan Nanda untuk mengunjungi Farhan di penjara.

"Gue nggak mau lihat, Ji. Gue takut" jawab Cakra yang setelahnya dia bergidik ngeri dan memilih untuk tidak melihat ponselnya.

"Sama, Cak. Aku juga takut. Tapi, aku penasaran" ucap Jiro yang saat ini memegang ponselnya dengan erat sambil berjalan mendekati Cakra yang duduk di sofa.

"Gimana kalo ada nilai-"

"Jangan sebut!" seru Cakra.

Jiro mengerjapkan matanya, dia duduk dengan tenang di sofa sambil menatap lekat ponselnya. Di ruang keluarga memang hanya ada mereka berdua. Janu seperti biasa akan tidur sampai siang kalau libur bekerja. Sedangkan Hadi, anak itu masih terlelap juga di kamarnya karena dia pergi ke toko jam 10 nanti.

"Udah siap lu ternyata?" tanya Nanda sambil memainkan kunci mobilnya.

Nanda celingak-celinguk mencari keberadaan saudaranya itu.

"Ren! Jangan lama-lama dandannya!" seru Nanda setelah dia menyadari bahwa dia tidak melihat Renjana di mana-mana.

"Kak Renja lagi ditelepon sama Om Arka, kak. Bahas kerjaan" jelas Jiro yang tadi melihat Renjana terburu-buru menjawab panggilan dari Arka.

Nanda pun berdecak dan duduk di samping Cakra. Dia mengernyitkan alisnya karena melihat Cakra begitu gelisah dan beberapa kali melirik ke ponselnya yang ada di atas meja dengan gugup. Hal itu membuat Nanda langsung berpikiran yang tidak-tidak.

"Kenapa lo ngelihatin hape lo kayak gitu? Ada yang neror lo?" tanya Nanda yang langsung meraih ponselnya Cakra untuk memastikan tidak ada yang meneror adiknya ini.

"Jangan sentuh, bang! Biarin aja hape gue di sana!" seru Cakra dengan heboh membuat Nanda mengernyitkan alisnya bingung. Nanda pun menoleh ke Jiro untuk meminta penjelasan.

"Kenapa ini anak?" tanya Nanda ke Jiro.

"Hari ini nilai semester udah keluar, kak. Cakra takut ngelihat nilai nya" jelas Jiro membuat Nanda menggerutu.

"Begitu doang, Cak! Sini gue yang lihat!" ucap Nanda dan ponsel Cakra yang ada di tangannya langsung dirampas oleh Cakra lalu dia taruh di atas meja lagi.

"Nggak usah! Biar gue sendiri aja yang buka nanti, kalo mental gue udah siap!" seru Cakra sambil melotot ke Nanda yang mendengus.

"Gayaan pake mempersiapkan mental segala! Paling kalo gagal ngulang semester depan!"

"Abang!" kesal Cakra karena Nanda mengucapkan kalimat keramat itu.

Karena ucapan Nanda, Jiro jadi ikutan takut melihat nilainya. Padahal, tadi dia sudah berniat membuka portal mahasiswa untuk melihat nilainya.

Siapa, sih yang mau mengulang semester depan?

"Maaf, Nanda, Jiro. Kalian nunggu lama?" tanya Renjana yang terburu-buru keluar dari kamar.

"Nggak juga, kak."

"Iya, Ren, udah ubanan rambut gue nungguin lu."

Dua jawaban yang berbeda dan membuat Renjana tersenyum masam ke Nanda. Pandangan mata Renjana tertuju ke Cakra yang terlihat aneh di matanya.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang