"Kamu ini mau jadi anak durhaka, ya Janu? Kenapa kamu nggak pernah pulang ke rumah? Kamu udah lupa punya orang tua?"
Janu hanya bisa meringis pilu setelah mendengar omelan ibunya. Di jam istirahat makan siang ini, Janu mendapatkan panggilan masuk dari ibunya. Dia saat ini berada di rumah makan padang bersama dengan Renjana untuk menikmati makan siang mereka. Baru saja Janu hendak mengambil dendeng, tiba-tiba saja dia ditelepon oleh ibunya.
"Bukan gitu, bu. Ibu tahu, kan kalo kemaren-kemaren itu ada masalah? Dari pada anak ibu ini kenapa-napa, lebih baik Janu jangan pulang dulu, kan?" ucap Janu yang membela dirinya supaya ibunya itu tidak terlalu memarahinya.
Renjana hanya mendengarkan Janu berbicara dengan ibunya sambil menyantap makan siangnya. Dia sesekali melirik Janu yang tidak jadi-jadi menyendok daging dendeng itu ke piringnya.
"Sekarang, kan biang kerok nya udah di penjara. Kenapa anak ibu ini belum pulang juga?"
Janu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak pulang ke rumah karena sedang malas saja. Ditambah lagi, Janu sedang tidak mau berpergian jauh sendirian. Tidak asyik karena tidak ada teman mengobrol.
"Iya, nanti Janu mampir ke rumah" ucap Janu akhirnya.
"Janu pergi sama Renjana" ucap Janu lagi membuat Renjana hampir saja tersedak minumannya. Pemuda itu menatap Janu meminta sebuah penjelasan sedangkan Janu terlihat masa bodo.
Setelahnya, panggilan itu pun berakhir, membuat Janu menghembuskan nafas lega karena dia akhirnya bisa makan dengan tenang. Janu kembali menyendok dendeng ke piring berisikan nasi putih yang seperti gunung itu. Mengabaikan bagaimana cara Renjana menatapnya.
"Nanti kita mampir beli helm baru. Gue beliin, yang penting lo temenin gue pulang. Biar nyokap gue nggak ngomelin gue, Ren" ucap Janu sambil cengengesan ke Renjana yang menghembuskan nafas lelah.
Janu tahu kalau ibunya pasti tidak akan mengomelinya kalau ada temannya datang ke rumah. Karena, ibunya pasti akan berperan sebagai malaikat tanpa sayap kalau di depan anak orang lain. Lain cerita kalau di depan anaknya sendiri. Janu tidak mau membayangkan sepanjang apa omelan ibunya karena Janu tidak juga pulang-pulang ke rumah.
"Iya iya" ucap Renjana yang tidak tega juga menolak permintaan Janu.
Janu tersenyum senang, dia pun kembali menyantap makan siangnya itu sambil sesekali dia menyiram nasi putihnya dengan kuah gulai nangka.
Rasanya canggung sekali kalau tidak ada pembicaraan di antara mereka. Biasanya Renjana akan membicarakan sesuatu jika mereka makan berdua seperti ini. Tetapi, karena Renjana hanya diam membuat Janu jadi tidak tahu harus mengatakan apa. Sesekali dia melirik Renjana yang sedang membaca sesuatu di ponselnya sambil menyuapkan nasi ayam gulai itu ke dalam mulutnya.
"Hmm.., Ren?"
"Hm?"
Janu berdehem. Dia menatap Renjana yang masih mengarahkan pandangannya ke ponsel tanpa sekali pun menolehkan kepalanya ke Janu.
"Perasaan waktu kuliah lo anaknya aktif banget organisasi. Lo juga beberapa kali satu divisi sama Bang Mada, kan kalo ada acara kampus? Terus, kenapa lo bilang lo nggak ada temen selama ini?" tanya Janu sambil menatap Renjana dengan penasaran.
Janu memang cuek disaat dia masih duduk di bangku kuliah. Tetapi, dia tahu kalau Renjana adalah anak yang aktif. Setiap ada acara kampus, Janu selalu saja melihat Renjana mondar-mandir bagaikan orang paling sibuk di dunia ini. Namanya selalu ada di list panitia acara. Jadi, aneh saja mendengar Renjana berkata kalau seumur hidup dia hanya punya mereka berenam sebagai teman.
Apakah Renjana tidak punya teman di TK? SD? SMP? SMA?
Atau justru, memang Renjana yang sengaja menjauhkan dirinya dari orang-orang?
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)