Chapter 4

1.6K 155 15
                                        

"Tiga hari itu lama baaang."

Mada hanya bisa menghela nafas lelah setelah mendengar rengekan Cakra.

Mereka bertujuh sedang menikmati acara makan malam mereka di ruang tengah.

Mereka duduk lesehan di ruang tengah itu dengan membentangkan tikar di lantai lalu meletakkan semua nasi dan lauk pauk di atas tikar. Mereka duduk melingkar sambil menikmati masakan yang dibuat oleh Renjana dan Mada.

Setelah mereka selesai memakan makan malam, mereka bertujuh masih betah duduk di tikar tersebut dan menikmati buah semangka yang memang sempat dipotong oleh Renjana.

Disaat itulah Mada memberitahu kalau dia akan mengikuti pelatihan di luar kota selama tiga hari.

Mada tidak menduga kalau respon adik-adiknya ini berbeda dengan ekspetasinya.

Mada pikir, keenam adiknya ini akan biasa saja karena Mada hanya pergi selama tiga hari. Tapi, siapa yang menyangka kalau mereka terlihat tidak rela kalau Mada harus pergi ke luar kota selama tiga hari?

"Nggak bisa ditolak ya bang?" ucap Nanda dengan tidak bersalahnya.

"Lo mau gue dipecat?" gerutu Mada.

Terkadang, Mada harus banyak bersabar kalau menghadapi Nanda dengan celetukan ajaibnya.

"Paling nggak abang jangan pergi selama tiga hari, minta dua hari aja" ucap Cakra yang malah menyetujui saran dari Nanda.

"Emang bego bener dua orang kaya ini. Heh, yang ngadain pelatihan itu bukan perusahaannya kocak! Gimana pula minta dua hari?" ucap Hadi yang gemas sekali mendengar celetukan Nanda dan Cakra.

"Tapi, lama bener bang, tiga hari" ucap Janu lalu dia mendekat ke Mada dan berbisik ke laki-laki itu.

"Bang, kita mana tahan tiga hari dikomandoi sama Renja. Bisa ubanan gue bang!"

Mada yang mendengar bisikan Janu itu pun terkekeh pelan.

"Renja, selama abang pergi ke luar kota, lo bisa kan meng-handle mereka semua?" ucap Mada yang membuat Janu dan lainnya menjerit di dalam hati.

"Bisa kok bang, abang percaya aja sama aku" ucap Renjana sambil tersenyum manis tapi bagi yang lain senyuman itu adalah maut.

"Gila lu bang! Lu sengaja ya?!" gerutu Janu ke Mada yang malah tertawa puas karena selama tiga hari lima bujang ini tidak bisa bebas karena akan diatur oleh Renjana.

"Kak, tumben banget kakak makannya sampai habis gitu?" tanya Jiro, dia menatap takjub ke arah piring Renjana yang benar-benar bersih tidak bersisa.

"Kata Janu, Nanda, dan Hadi, kalo kita makannya nggak habis, nanti nasi nya nangis, Ji" ucap Renjana.

Hadi, Nanda, dan Janu saling berpandangan. Mereka terlihat sekali menahan tawa.

"Renja, jangan bilang lo mikir kalo nasinya itu nangis beneran?" ucap Mada, dia tahu sekali bagaimana pola pikir Renjana ini.

Imajinasinya sama saja seperti anak TK.

"Hah?! Serius abang mikir kayak gitu?!" seru Cakra terdengar tidak percaya.

"Bocah banget" bisik Cakra ke Jiro. Mana berani dia mengatakannya dengan suara keras.

"Nasinya nggak nangis?" tanya Renjana dan setelahnya mereka berenam tertawa dengan keras, kecuali Jiro yang agak tidak tega mentertawakan Renjana. Jadi, Jiro hanya tertawa kecil, tidak tertawa ngakak seperti yang lain.

"Aduh, ya ampun perut gue! Ya nggak lah, Renjaaaa, itu cuma kiasan doaaang" ucap Hadi akhirnya, sudut mata anak itu sampai berair karena tidak tahan dengan kepolosan Renjana.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang