Nanda hanya diam ketika dia melihat ujung sepatu yang sangat ia kenal terlihat di pelupuk matanya disaat dia menundukkan kepalanya. Nanda pun mendongak dan mendapati Darma sudah berdiri di depannya dengan sebuah senyuman tipis menghiasi wajah Darma.
Nanda tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap ayahnya yang belum sempat mengganti pakaiannya. Sepertinya, ayahnya langsung terburu-buru ke rumah tahanan ini setelah mendapatkan kabar kalau Nanda membuat kekacauan di sini.
Darma mengulurkan tangannya dan Nanda menyambut uluran tangan sang ayah. Nanda biarkan ayahnya menariknya berdiri lalu merangkulnya bagaikan teman lama. Ayah dan anak itu berjalan keluar dari rumah tahanan. Nanda melihat sudah ada mobil sang ayah serta beberapa bodyguardnya menunggu diluar.
"Kamu laper, nggak Nan? Kita makan dulu, yuk?" ajak Darma ketika dia melihat Nanda hendak berjalan menuju mobilnya sendiri.
"Mobil kamu biar salah satu bodyguard aja yang bawa. Kamu semobil aja sama ayah, ayah yang nyetir" ucap Darma sambil tersenyum kepada Nanda yang sepertinya masih dalam suasana hati yang sangat buruk.
Meskipun begitu, Nanda menuruti permintaan Darma. Dia duduk di kursi depan dan membiarkan Darma yang membawa mobil tersebut menuju tempat makan favorit mereka berdua.
Tidak ada percakapan selama di perjalanan. Nanda sibuk melihat keluar jendela, sedangkan Darma, dia fokus menyetir sambil sesekali dia melirik anaknya yang Darma tahu bahwa kondisi hatinya sedang tidak bagus.
Isi kepala mereka begitu penuh dan berkecamuk. Ada banyak hal yang ayah dan anak itu pikirkan.
Setibanya Nanda dan Darma di tempat makan favorit mereka, mereka berdua pun duduk di tempat yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Mereka berdua juga mencari tempat yang duduknya lesehan. Setelahnya, ayah dan anak itu memesan makanan di sana.
"Sipir di sana langsung jantungan waktu mereka lihat kamu nyekek Jammy."
Nanda menatap ayahnya yang saat ini juga sedang menatap Nanda dengan lekat.
"Memang Jammy nyebelin. Tapi, jangan sampe kamu khilaf gitu, dong, Nan. Kamu masuk penjara, siapa yang nemenin ayah? Mana anak lucunya ayah lagi hilang" ucap Darma dan wajah sendu milik Darma itu membuat hati Nanda tercubit.
Nanda yakin ayahnya pasti sangat sedih karena belum bisa menemukan Renjana. Nanda juga yakin ayahnya itu sangat merindukan Renjana karena beberapa hari terakhir ini mereka jarang bertemu.
"Kamu harus pintar mengontrol emosi kamu di situasi seperti ini, Nanda" ucap Darma dan Nanda mendengarkan dengan baik ucapan dari ayahnya itu.
"Sekali lagi saja kamu goyah, maka musuh kamu akan dengan mudah menghancurkan kamu."
"Kekuarga kita memang bar-bar. Tetapi, ada baiknya kita bermain dengan cara halus. Apalagi, musuh kita itu tidak sedikit, Nanda. Kamu mengerti, kan maksud ayah?"
Nanda mengerti.
Tetapi, dia tidak merasa menyesal karena telah menciptakan huru-hara di rumah tahanan. Terlebih, Nanda berhasil mencekik leher Jamal meskipun hanya sebentar. Setidaknya, kekesalannya terhadap laki-laki itu berhasil ia lampiaskan meskipun durasinya tidak lama.
"Dan, ayah nggak akan pilih kasih, kok. Kamu dan Renjana sama-sama berharga di mata ayah. Kalian berdua anak ayah. Ayah nggak mau terjadi sesuatu sama anak-anak ayah."
Nanda tertegun setelah mendengar ucapan ayahnya.
Apa ayahnya menyadari, kalau Nanda sempat cemburu karena melihat ayahnya begitu mengkhawatirkan Renjana sampai-sampai sang ayah memohon ke Pak Reza untuk bisa menemukan Renjana?
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)