"Kak, makanannya udah sampe" ucap Jiro yang tadi disuruh oleh Mada memesan makan malam untuk mereka berenam.
"Siapa yang mau ambil ke bawah?" ucap Mada dan yang lain serentak menoleh ke Jiro.
Jiro menghembuskan nafas lelah karena dia memang selalu menjadi seseorang yang disuruh-suruh oleh para abangnya. Jiro tahu kalau sebenarnya para abangnya itu tahu kalau Jiro sedang tidak mau disuruh-suruh, hanya saja mereka memang usil dan sangat berharap Jiro marah-marah kepada mereka karena menyuruhnya ini-itu.
"Mana uangnya?" ucap Jiro.
"Aku nggak mau ngambil kalo disuruh pake uang aku dulu" ucap Jiro lagi. Dia sangat tahu perangai para abangnya ini.
"Jiro sekarang bisa ngancem, yaa? Siapa yang ngajarin?" ucap Hadi sambil tersenyum menggoda ke Jiro. Dia menaik turunkan alisnya ke Jiro yang hanya mengabaikan godaan dari Hadi itu.
"Udah pasti Bang Janu, sih. Bang Janu, kan suka ngajarin yang aneh-aneh" celetuk Cakra sambil menatap Janu yang mengernyitkan alisnya.
"Kok gua?" ucap Janu yang terlihat tidak terima kalau dia yang dituduh.
"Siniin uangnya, kak!" ucap Jiro yang sudah tidak sabar ingin ke bawah dan mengambil makanan mereka.
"Nanda, kasih uangnya ke Jiro" ucap Mada sambil menepuk pelan pundak Nanda.
"Nggak ada cash gue, bang. Pake duit lo dulu, lah" ucap Nanda yang sebenarnya sedang malas berjalan ke kamar untuk mengambil dompet.
Mada pun menghela nafas lelah lalu mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Lalu, Mada mengeluarkan beberapa lembar uang ke Jiro yang langsung menerimanya dan berjalan keluar dari unit apartemen itu menuju lobi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Jiro sudah kembali sambil menenteng dua kantung plastik makanan berisikan makanan pesanan mereka. Dia menaruh makanan itu di atas meja, sedangkan Mada dan Hadi berjalan menuju dapur untuk mengambil peralatan makan serta air minum untuk mereka berenam.
Janu dan Cakra sedang mengeluarkan makanan dari dalam kantung plastik itu.
"Lo beli tujuh, Ji" ucap Cakra sambil menatap Jiro yang terdiam.
Jiro menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Udah kebiasaan kayaknya. Kita kan kalo mesen makanan, selalu mesen tujuh porsi" ucap Jiro membuat suasana di ruang TV itu kembali mendung.
"Simpan aja, siapa tahu Renja pulang malam ini dan dia lapar" ucap Nanda yang berharap kalau malam ini dia mendapatkan kabar baik.
Setelah Hadi dan Mada kembali dari dapur, mereka pun memakan makan malam mereka dengan nikmat. Sebelumnya, Hadi sempat melihat satu kotak makanan yang ada di atas meja. Dia menatap Jiro yang sepertinya tidak sengaja memesan makan malam untuk tujuh porsi.
"Ini siapa yang bakalan makan? Janu?" ucap Mada yang sebenarnya tahu kotak itu untuk siapa. Hanya saja, Mada tidak ingin berharap lebih, meskipun Mada memang mengharapkan Renjana tiba-tiba muncul dibalik pintu lalu ikut makan malam bersama mereka.
"Biarin aja, bang. Siapa tahu Bang Renja pulang. Itu kata Bang Nanda tadi" ucap Cakra membuat Mada menatap Nanda yang asyik memakan makan malamnya.
Tidak ada yang berbicara selama makan malam karena mereka langsung teringat dengan Renjana. Mereka semua benar-benar berharap teman mereka pulang malam ini. Sampai makan malam selesai dan mereka beres-beres pun, mereka tetap tidak bersuara.
Sampai, suara ponsel Nanda membuat mereka semua serentak mengumpat karena kaget.
"Gede bener nada dering hape lo, Nanda!" kesal Hadi karena dia merasa jantungnya hampir copot karena suara nada dering ponselnya Nanda.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)