Bukannya masuk ke dalam rumah, Jiro malah duduk termenung di teras walaupun sudah 15 menit yang lalu dia sudah tiba di rumah setelah mengerjakan tugas kelompok bersama Wina.
Dengan duduk sendirian di teras, memperhatikan keadaan komplek perumahan yang sepi membuat Jiro memikirkan banyak hal hingga membayangkan sesuatu yang mungkin tidak perlu Jiro bayangkan karena belum tentu semua itu terjadi.
Hal pertama yang Jiro pikirkan ketika ia duduk di kursi teras adalah, tentang tawaran Nanda yang memintanya bertemu dengan Sheline.
Jiro tahu siapa itu Sheline.
Wanita tersebut adalah seorang psikolog yang merupakan teman dari sepupunya Nanda.
Dan Jiro tahu, bahwa Renjana masih rutin melakukan sesi konsultasi dengan Sheline.
Jika Jiro lihat, kakaknya yang satu itu perlahan mulai terlihat ceria dan ekspresif. Dia juga sedikit demi sedikit memberitahukan apa yang tidak ia suka dan apa yang ia rasakan.
Mungkin, itulah penyebab Renjana lebih sering marah-marah.
Renjana seperti memiliki kebebasan untuk mengekspresikan emosi yang ia rasakan.
"Atau aku iyain aja ya saran dari Kak Nanda? Aku lihat Kak Renja mulai ada perubahan sesudah ketemu sama Mbak Sheline" gumam Jiro yang kembali memikirkan apakah dia harus melakukan sesi konsultasi dengan Sheline atau tidak.
"Atau, memang pembawaan asliku kayak gini? Kak Farhan aja juga nggak bisa ngontrol emosinya. Dia bahkan sampai berani.."
Jiro terdiam ketika dia mengingat bagaimana kakaknya dengan mudah memikirkan sebuah pembalasan dendam kepada Jamal hanya karena dia marah dengan Jamal.
Anak itu berpikir, apakah dia sebenarnya pemarah dan tidak bisa mengontrol emosi seperti kakaknya?
Jiro menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Dia harus membuang pikiran negatif itu jika dia tidak mau tertekan dengan sesuatu yang belum tentu benar dan belum tentu terjadi.
Mungkin, ada baiknya Jiro memberitahu Nanda kalau dia mau bertemu dengan Sheline.
TIN!
Jiro tersentak kaget, dia melihat di carport sudah ada Janu yang sedang memakirkan motornya. Tepat saat itu, Cakra membuka pintu rumah dan dia mengernyitkan alis ketika melihat ada Jiro duduk di kursi teras.
"Lah? Lo udah pulang? Kenapa nggak masuk?" ucap Cakra ke Jiro yang hanya tersenyum kikuk.
"Dia sibuk merenung kayak anak pujangga patah hati. Gue aja sampe heran ngelihat dia kayak gitu" ucap Janu sambil menenteng helmnya dan helm Renjana.
"Banyak pikiran lu?" celetuk Cakra sambil menepuk pelan pundak Jiro.
Jiro mengusap tekuknya dengan gugup.
"Aku cuma kepikiran sama tawaran Kak Nanda" jelas Jiro ke Janu dan Cakra yang langsung mengerjapkan mata mereka setelah mendengar ucapan Jiro.
"Nanda nawarin apa? Dia nawarin warisan ke lo? Berapa banyak? Cukup nggak kalo dibagi dua?" cerocos Janu membuat Cakra mendelik ke abangnya itu.
"Masa bagi dua, sih bang? Bagi tiga lah!" protes Cakra, masa dia tidak terkena cipratan warisan dari Nanda, sih?
Jiro menghembuskan nafas lelah karena lagi-lagi dua manusia yang ternyata temannya ini malah membicarakan hal random.
"Bukan, kak. Kak Nanda nawarin aku buat ketemu sama Mbak Sheline" jelas Jiro membuat Janu dan Cakra yang sedang membahas warisan itu pun terdiam.
Mereka berdua serentak menatap Jiro dengan khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)