Karena keributan yang terjadi di ruang sidang, membuat para anak bujang beserta Darma dan teman-teman, memilih menunggu di luar ketika persidangan nya Jefry dan Andi dilakukan. Mereka hanya tidak mau ada pertengkaran ronde kedua.
Mereka semua duduk di kursi panjang yang ada di dalam gedung pengadilan. Mereka sedang menunggu persidangan selesai dan mendengar keputusan hakim, meskipun sebenarnya, Mira sudah tahu berapa lama para dajjal itu mendekam di penjara. Toh, hakim di persidangan kali ini adalah pamannya.
"Rasanya pengen aku cabutin rambut Nirmala sampe botak! Bikin kesel aja itu nenek-nenek dari dulu!" gerutu Dewi yang sedang merapikan rambutnya.
Adegan jambak menjambak rambut tadi membuat rambut Dewi yang sudah digelung dengan rapi terlepas. Dengan dibantu oleh Arka, Dewi kembali merapikan rambutnya sambil menggerutu.
"Kamu, sih, ngapain juga jambak rambut Nirmala?" ucap Candra yang padahal diam-diam ikut menikmati pertengkaran tiga wanita yang sudah berumur itu.
"Tahu! Kamu itu udah ada anak dua, loh Dew. Kalo suami kamu tahu, yang ada kamu diketawain sama dia" ucap Arka dan dia mengaduh karena Dewi menyikutnya.
"Siapa yang nggak marah denger itu nenek lampir manggil Renjana anak jalang?! Kak Senja bukan jalang, tahu!" gerutu Dewi.
"Nirmala emang nggak pernah ngaca. Semua Keluarga Graciano emang kayak begitu" gerutu Mira sambil menatap sinis ke Darma yang malah asyik meniup ujung kukunya.
"Bayangin kalian di posisi Renjana, gimana perasaan anak itu waktu denger ibunya dibilang jalang? Masih untung yang aku jambak itu rambutnya, bukan bibirnya!" seru Dewi lagi.
"Serem amat, anak Pak Kusuma ini" bisik Candra yang menggeser tubuhnya mendekati Darma.
Para anak bujang yang melihat para orang tua ini misuh-misuh hanya bisa duduk diam di kursi yang berseberangan dengan kursi milik mereka. Sedaritadi mereka hanya memperhatikan Dewi dan Mira menggerutu sambil sesekali mengumpati Nirmala.
Tidak ada yang berani berbicara atau menyahuti ucapan Dewi dan Mira karena dua wanita tua itu begitu menyeramkan. Mereka hanya tidak mau kena sembur dari ras paling kuat di muka bumi.
Renjana duduk termenung di ujung kursi sambil memikirkan kembali ucapan Nirmala kepadanya. Bagaimana Nirmala mengatainya anak jalang dengan tatapan penuh benci.
Renjana memikirkan. Sebesar itukah rasa benci Nirmala terhadap ibunya? Meskipun Darma berkata ke Renjana kalau Nirmala hanya iri saja kepada ibunya. Tetapi, wajarkah rasa iri membuat seseorang sebenci itu kepada orang lain? Bagi Renjana, rasa bencinya Nirmala terhadap ibunya sangat tidak wajar. Wanita tua itu sampai ingin hidup Renjana hancur sehancur-hancurnya hanya karena rasa iri yang berakhir menjadi rasa benci.
"Jangan dipikirin, Ren."
Bisikan dari Nanda itu membuat Renjana menoleh. Dia mendapati Nanda tersenyum menenangkan kepadanya lalu menepuk pelan tangan Renjana yang terletak begitu saja di atas paha.
Renjana mengulas sebuah senyuman ke Nanda sebelum akhirnya dia memperhatikan teman-temannya yang lain. Mereka terlihat asyik dengan dunia mereka sendiri. Biasanya mereka sudah berisik. Tetapi, karena orang tua yang duduk di depan mereka tidak kalah berisik membuat mereka lebih banyak diam sambil melihat-lihat keadaan sekitar.
"Kalian memang jago banget bikin rusuh" ucap Pak Hasan yang baru saja keluar dari ruang sidang bersama dengan Azwar.
Ternyata Azwar tidak sendirian, dia bersama dengan Rachel yang menyapa tujuh bujang itu dengan senyuman dan lambaian tangan.
"Nirmala duluan yang mulai" gerutu Mira disetujui oleh Dewi.
Pak Hasan hanya menghembuskan nafas lelah mendengar gerutuan Mira itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)