Chapter 97

962 129 11
                                        

Jiro tidak tahu apa yang salah, hanya saja, dia menyadari bahwa para abangnya ini terlihat berbeda. Mereka semua sama-sama menatap Jiro dengan khawatir. Apakah mungkin, para abangnya ini khawatir kalau Jiro juga akan mengalami hal yang sama seperti Cakra?

"Jiro, gue antar ke kampus, ya?" ucap Nanda yang sudah menghabiskan sarapannya terlebih dahulu.

Jiro menyadari kalau raut wajah Nanda terlihat kurang bersahabat. Dia tidak tahu kenapa Nanda terlihat menahan emosinya, itulah kenapa Jiro mengangguk pelan sebagai jawaban ketika Nanda menawarkan dirinya untuk mengantar Jiro.

Jiro hanya tidak mau amarah Nanda semakin meledak kalau Jiro memilih menolak tawaran Nanda karena tidak mau terlalu merepotkan kakaknya itu.

"Nu, lo anter gue nanti ke kampus. Kantor lo sama kampus gue, kan searah" ucap Hadi tiba-tiba.

Entah kenapa Jiro merasa, kalau Hadi sedang menenangkan suasana yang cukup tegang di antara mereka.

"Males gue nganter lo, lo bareng Nanda aja ke kampus, Bang Mada juga ditebengin sama Nanda ke kantor" ucap Janu yang mendapatkan tatapan sinis dari Hadi.

"Kalo mau gue anter, bayar dulu laah" ucap Janu sambil tersenyum tengil ke Hadi yang sudah gatal ingin memukul wajah tengil Janu.

"Anterin aja, Nu. Jangan usil gitu ke Hadi. Sok minta dibayarin segala, memangnya kamu semiskin itu?" celetuk Renjana membuat Hadi tertawa puas sambil menunjuk Janu yang cemberut.

"Lu mah nggak ngerti yang namanya bercanda, Ren!" gerutu Janu sambil menatap kesal ke Renjana yang dengan santai menikmati sarapan miliknya.

"Udaah, jangan berantem, baru pagi ini, loh" ucap Mada yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan para adiknya ini.

Mada melirik Jiro yang sedari tadi hanya diam menikmati sarapannya.

"Semangat ujiannya, Jiro. Jangan sampai kehilangan fokus, oke?" ucap Mada ke Jiro yang menatap lekat kakak tertuanya itu.

Rasanya aneh mendengar Mada mengucapkan kalimat seperti itu dengan penuh penekanan. Jiro yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi ketika dia sedang bersiap-siap pergi ke kampus. Entah apa yang para abangnya ini sembunyikan darinya. Tetapi, sepenasaran apa pun Jiro, dia tidak ada keberanian untuk bertanya, apalagi ketika dia melihat suasana hati Nanda terlihat kurang bagus.

"Iya, kak. Doain aja aku bisa jawab semua soalnya" ucap Jiro akhirnya dan kembali menyuapkan sarapan miliknya.

"Gue tunggu di depan" ucap Nanda yang sudah berjalan terlebih dahulu ke pintu unit apartemen.

Renjana berjalan menyusul Nanda yang sudah keluar dari unit apartemennya, meninggalkan Hadi, Janu, Mada, dan Jiro yang masih harus menghabiskan sarapan milik mereka.

***

Nanda menendang dinding apartemen itu setelah dia menutup pintu unit apartemennya. Dia benar-benar masih marah karena artikel itu tetap saja dirilis dan disebarkan oleh mereka. Mereka yang Nanda sebut sebagai penghuni abadi neraka.

Pemuda itu menarik lalu menghembuskan nafasnya untuk menenangkan dirinya yang masih dikuasai oleh emosi. Dia tidak bisa mengendarai mobil dalam keadaan seperti ini. Dia harus ingat kalau dia membawa dua teman nya nanti, tidak mungkin dia membawa kendaraan dalam keadaan marah dan kurang fokus. Dia tidak mau membuat teman-temannya celaka karena keteledorannya.

Nanda menoleh ketika dia mendengar suara pintu yang terbuka, mendapati Renjana mengintip dari balik pintu. Saudaranya itu tersenyum ke Nanda yang  menghembuskan nafas lelah.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang