Janu menghembuskan nafas lelah ketika dia melihat Arka melambaikan tangan ke arahnya, pertanda kalau Arka ingin Janu berjalan menghampirinya. Dengan malas, Janu berjalan menuju Arka yang sudah membuka pintu ruangannya. Janu pun masuk ke dalam lalu menutup pintu ruangan nya Arka.
"Nanti ada klien yang datang, dia agak rese" ucap Arka membuat Janu kembali menghembuskan nafasnya, sedangkan Arka hanya terkekeh pelan.
Kalau masalah menemui klien yang agak rese, maka Arka akan meminta bantuan Janu supaya negosiasi yang dilakukan berjalan dengan lancar.
"Aku sendiri aja yang pergi, pak?" tanya Janu.
"Nggak, dong. Kamu pergi sama Dewi nanti" jawab Arka yang sangat tahu kalau Dewi dan Janu sangat ahli dalam menghadapi klien yang galak dan banyak mau nya.
Janu langsung tersenyum sumringah ketika dia tahu bahwa dia pergi dengan Dewi juga. Setidaknya, Dewi selalu menjadi orang yang sangat dibutuhkan jika klien tersebut semakin tidak terkendali.
"Darma ada bilang sesuatu ke kalian?" tanya Arka membuat Janu mengernyitkan alisnya dengan bingung.
"Nggak ada, tuh pak?" jawab Janu terdengar tidak yakin.
Tetapi, seingat Janu, Darma memang tidak ada mengatakan hal yang begitu penting kepada mereka. Darma hanya menghampiri Renjana lalu setelahnya dia pamit. Bahkan, sampai detik ini, mereka tidak tahu apa yang Darma dan Renjana bicarakan sampai-sampai Darma pergi dari unit apartemen dengan raut wajah kurang menyenangkan.
Arka yang mendengar jawaban Janu pun menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kamu kalo pulang dari kantor selalu sama Renjana, kan?" tanya Arka dan Janu menganggukkan kepalanya.
"Nggak mungkin aku biarin Renjana pulang sendirian, pak. Paling nggak kalo aku nggak bisa pulang bareng dia, ada salah satu dari kita yang jemput dia" jelas Janu.
Arka menghembuskan nafas lega, "Baguslah kalau begitu. Usahakan kalian jangan sendirian, ya? Kamu juga Janu! Meskipun kamu ini hobi mukul bukan berarti kamu bisa petantang petenteng sendirian di luar sana" nasihat Arka pada Janu yang menganggukkan kepalanya mengerti.
Janu menatap lekat Arka, "Bapak tahu sesuatu, ya? Tumben banget bapak nasehatin aku kayak begini?" ucap Janu sambil memicingkan matanya dengan curiga.
Arka menghembuskan nafas dengan kuat.
"Darma udah cerita apa yang terjadi sama kalian. Dan katanya orang-orang jahat itu makin berani."
"Terus, kamu kenapa masih manggil om ini bapak? Dan Dewi itu mbak? Panggil aja kami ini om dan tante kayak yang lain" ucap Arka yang kembali mengeluhkan masalah panggilan ini ke Janu.
"Biar beda dari yang lain. Biar berasa spesial aja gitu, pak."
"Emangnya kamu itu nasi goreng?!"
***
"Put, kayaknya gue bakalan lama sama Mbak Dewi. Lo ajakin Renja makan nanti kalo udah jam makan siang. Awas aja kalo nggak! Gue colok mata lo!"
Itulah mengapa saat ini Putra mengajak Renjana makan siang bersamanya. Putra ingat bagaimana Janu memanggilnya bak preman pasar. Putra juga tidak bisa melupakan bagaimana Janu melotot padanya sambil memperagakan adegan mencolok mata ke Putra.
Dari pada Janu benar-benar mencolok matanya, lebih baik dia melaksanakan titah Yang Mulia Janu.
"Pasti suruhan Janu, ya kak? Janu ngancem apa ke kakak?" ringis Renjana, dia jadi merasa bersalah pada Putra karena selalu saja menjadi korban nya Janu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)