Chapter 124

970 148 13
                                        

Sebelumnya, Mada merasa menjadi seorang pemimpin proyek begitu melelahkan. Dia harus bekerja sambil menahan rasa gatal di tenggorokannya serta beberapa kali bersin karena batuk dan pilek yang dia rasakan. Selain itu, dia juga harus bisa meng-handle kekompakan tim supaya tidak terjadi kekacauan di dalam proyek. Tetapi, entah kenapa beberapa hari ini, Mada merasa senang-senang saja menjalani harinya sebagai seorang pemimpin proyek.

Biasanya, Mada berusaha tersenyum dan tertawa setiap menanggapi candaan para bapak-bapak di proyek ini. Tetapi, sekarang, Mada justru tertawa lepas dan sesekali ikut melontarkan lelucon. Entahlah, Mada hanya merasa suasana hatinya semakin baik dari hari ke hari.

Terkadang, di jam istirahat, Mada akan duduk dengan lemas di kursi kerjanya dan tidak berselera makan karena malas berjalan menuju tempat makan untuk mengisi perut. Tetapi, sekarang yang terjadi, Mada langsung berjalan keluar dari gedung perkantoran ini menuju tempat parkir. Mada juga tidak ada menunggu teman-temannya terlebih dahulu.

Senyuman Mada akan merekah setiap dia melihat satu perempuan yang akan menungguinya di dekat mobilnya terparkir. Perempuan itu menunggui Mada di bawah pohon untuk berteduh dari teriknya sinar matahari. Tanpa sadar, Mada melangkahkan kakinya begitu cepat ke arah perempuan yang sekarang memiliki ruang di hatinya.

Selama ini, tidak pernah terpikirkan oleh Mada bahwa hatinya akan terisi secepat ini.

"Padahal, udah berapa kali gue bilangin buat nunggu di lobi aja. Kenapa lo malah nunggu di sini, sih Fa? Nggak panas?" ucap Mada sambil menatap gemas ke Ulfa yang terkekeh pelan mendengar Mada mengomelinya.

"Gue lebih suka nungguin lo di sini. Gue nggak tahan denger suara hebohnya Faisal sama Andre" ucap Ulfa yang berhasil membuat Mada tertawa.

Mereka berdua belum memberitahu tiga rekan kerja super heboh itu. Faisal, Andre, dan Salsa. Rencananya, mereka akan memberitahukan hubungan mereka di akhir pekan nanti karena Salsa mengajak mereka makan-makan untuk merayakan hari ulang tahunnya yang sempat tertunda. Mereka semua bahkan Salsa sendiri terlalu sibuk sampai-sampai Salsa harus diberitahu oleh Andre kalau dia hari itu ulang tahun.

Mada dan Ulfa masuk ke dalam mobil. Setiap mereka masuk ke dalam mobilnya Ulfa. Tidak bisa Mada elak, dia akan merasa insecure serta malu. Mada tidak bisa mengemudi. Dia juga tidak memiliki kendaraan. Rasanya aneh setiap mereka ingin bertemu, selalu Ulfa yang menjemput Mada.

"Apa gue belajar mengemudi, ya? Terus beli mobil setelahnya?" ucap Mada sambil memasang sabuk pengaman.

"Gue dukung kalo lo mau belajar mengemudi. Tapi, kalo untuk beli mobil dengan alasan lo sungkan gue ke mana-mana jemput lo, lebih baik nggak usah, Da" ucap Ulfa yang menghidupkan mesin mobilnya.

"Jangan beli sesuatu hanya karena ego atau pun selera sesaat. Beli kalo lo butuh" ucap Ulfa yang melirik Mada sambil tersenyum. Gadis itu mulai melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir.

"Tapi, biasanya gue lihat kalo orang pacaran itu, ceweknya disetirin. Cowoknya jemput dia ke rumah, bawain martabak buat orang tua nya" ucap Mada membuat Ulfa terkekeh pelan.

"Gue nggak masalah mau nyetir sendiri atau pun disetirin. Tujuan gue pergi sama lo karena gue pengen menghabiskan waktu sama lo. Momennya. Itu yang gue cari, bukan masalah disetirin atau nggak" ucap Ulfa.

"Dan bokap gue nggak suka martabak apalagi dibawain makanan. Jadi, lo nggak usah repot-repot beliin sesuatu buat bokap kalo mau datang ke rumah."

Mada menatap pacarnya itu dengan terkagum-kagum. Amalan apa yang sudah dia lakukan sehingga dia mendapatkan pacar dewasa seperti ini?

"Kapan-kapan, gue mau ke rumah lo.." ucap Mada.

"Boleeeh, kabarin aja kalo lo mau datang ke rumah. Nanti gue bilangin ke bokap" ucap Ulfa yang tersenyum manis ke Mada membuat pemuda itu terpesona. Kenapa Mada baru menyadari kalau senyuman Ulfa semanis ini?

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang