Chapter 102

1.1K 148 23
                                        

"Malam ini Tuan Renjana mau makan apa?"

Renjana mengernyitkan alisnya ke arah Janu yang sudah berpose seperti pelayan di sebuah restoran bintang lima. Dia sampai menuntun Renjana yang baru saja keluar dari kamar menuju ruang TV, tempat di mana mereka bertujuh melakukan berbagai macam kegiatan di sana.

Meskipun unit apartemen nya Nanda ini ada ruang makan. Tetapi, mereka tetap saja akan menikmati makanan mereka di ruang TV.

"Janu kenapa?" tanya Renjana yang heran melihat tingkah Janu.

"Awas Cak! Tuan Renjana mau duduk!" ucap Hadi kepada Cakra yang langsung menyingkir dan mempersilakan Renjana duduk di sofa tempat Cakra duduk tadi.

"Silakan, tuan" ucap Cakra membuat Renjana semakin bingung.

Renjana merasa teman-temannya ini aneh. Tetapi, bukankah teman-temannya ini memang aneh? Kenapa juga Renjana harus merasa heran dengan tingkah absurd mereka?

Renjana memang kebingungan, tetapi dia tetap duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya itu di sana.

"Butuh dipijit, tuan? Jiro bersedia memijit tangan tuan yang pegal" ucap Hadi membuat Renjana mengernyitkan alisnya.

Sedangkan Jiro yang namanya disebut hanya bisa pasrah. Lagian, Jiro tahu kalau Renjana pasti menolak tawaran Hadi untuk menyuruh Jiro memijitnya.

"Kalian ini kenapa, sih?" ucap Renjana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dia baru saja selesai mandi dan dia sudah disambut oleh tingkah random dari para temannya. Apalagi Janu, Hadi, dan Cakra yang sangat mendalami peran mereka sebagai pelayan seorang tuan muda kaya raya.

"Mereka memang udah gila dari orok, Ren. Nggak perlu lo tanya kenapa mereka kayak begitu tingkahnya" sahut Nanda yang baru saja kembali dari mengambil ponsel baru untuk Renjana.

Nanda memberikan paper bag berisikan ponsel baru itu ke Renjana yang menerimanya dengan baik. Renjana pun mengintip isi di dalam paper bag lalu setelahnya dia menatap Nanda sambil tersenyum manis.

"Makasih, Nanda" ucap Renjana sambil membuka kotak yang berisikan ponsel merek keluaran terbaru.

"Buat gue nggak ada, Nan?" tanya Janu sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Memangnya hape lo rusak?" ucap Nanda dan Janu menggelengkan kepalanya.

"Kalo rusak lo beliin baru, bang?" celetuk Cakra.

"Nggak" sahut Nanda dengan kecepatan penuh membuat Janu memberengut kesal setelah mendengar ucapan Nanda itu.

"Hadi, makanan nya udah lo pesen belum?" tanya Mada yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Belum, bang" jawab Hadi yang setelahnya dia menoleh ke Renjana yang sedang memeriksa ponsel barunya.

"Jadi, mau makan apa malam ini, Ren?" tanya Hadi ke Renjana.

"Terserah, aku ngikut Nanda aja" jawab Renjana yang asyik sendiri mengotak-atik ponsel barunya.

"Kenapa harus Bang Nanda, sih bang?" sahut Cakra karena setiap ingin memesan makanan pasti Renjana selalu membiarkan Nanda yang memesankan makanan untuknya atau mengikuti menu yang Nanda pesan.

"Karena selera gue ini oke, Cak. Nggak kayak kalian. Yang suka makan nasi sama kecap mana paham sama selera orang kaya kayak gue" ucap Nanda dengan sombongnya sambil mengeluarkan ponselnya untuk memesan makanan.

"Memangnya ada yang makan nasi sama kecap, doang?" ucap Cakra yang baru dengar hal seperti itu.

"Sudah cukup! Jangan membahas sesuatu yang menyenggol kemiskinan kami!" seru Hadi yang disetujui oleh Janu.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang