Chapter 107

911 142 7
                                        

Pria itu hanya duduk bersila di ruangan yang tidak terlalu luas tersebut. Meskipun sudah berhari-hari dirinya dirawat di rumah sakit karena mendapatkan serangan mendadak dari tujuh bujang yang membencinya, masih terdapat bekas lebam di pipinya karena pukulan salah satu dari mereka.

Selama dia dirawat di rumah sakit, dia mendapatkan penjagaan yang ketat dari pihak kepolisian. Bahkan, ayahnya pun tidak bisa melihat keadaannya karena sulit menyusup masuk ke ruang rawatnya.

Dan dia sudah kembali ke rumah tahanan ini. Tetapi, dia belum juga bertemu dengan sang ayah yang sebelumnya pernah berjanji akan mengeluarkannya dari penjara karena dia percaya bisa menghancurkan Keluarga Graciano yang sudah membuat mereka menjadi seperti ini.

Jamal mendengus setelah dia mengingat apa yang sudah sang ayah lakukan padanya.

Padahal, ayahnya sendirilah yang membuat dirinya berada di balik jeruji ini. Ayahnya yang mau lepas tangan dan tidak mau citra baiknya di dunia politik ternodai, merelakan anak nya dijadikan tumbal. Seharusnya, ayah bodohnya itu tahu kalau Keluarga Graciano tidak mungkin hanya membalas Jamal saja.

"Cih, kenapa pula gue manggil dia ayah? Dia aja bukan bokap kandung gue, sialan bener" gerutu Jamal yang menyandarkan tubuhnya di dinding tahanan itu.

Jamal kembali mengingat bagaimana hidupnya sebelum dia berada di penjara. Selama ini, tidak ada seorang pun yang bisa membuat Jamal bermain dengan hukum. Pasti seseorang itu akan ketakutan sendiri dan tidak mau berurusan dengan Jamal. Tetapi, untuk kali ini, Jamal tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau.

Jamal juga kalah dari permainan yang dia ciptakan sendiri dan berakhir berada di penjara.

"Apa yang harus gue lakuin sama anak-anak anjing itu?" gumam Jamal yang sepertinya tidak ada niatan untuk bertobat.

"Si John keparat itu juga ke mana?! Gue udah nyuruh dia buat bawa Renjana jauh dari sini tapi dia nya malah ngilang!"

Disaat Jamal sibuk menggerutu dan tidak henti mengutuk John. Tiba-tiba saja, dia mendengar suara langkah kaki di lorong yang sepi ini. Suara ketukan heels.

Jamal tidak peduli dengan suara itu. Tetapi, dia melihat si pemilik suara berhenti di depan sel tahanannya. Jamal menatap lekat sosok yang berdiri di depan sel tahanannya dengan gaya berpakaian nyentrik dan membuat Jamal sakit mata.

Kacamata hitam yang dikenakan wanita tua itu terlepas dan menampakkan wajah si wanita tua yang tersenyum ke Jamal.

"Ternyata ini anaknya Jefry? Nggak mirip sama sekali. Yang ini ganteng, sedangkan Jefry bentukannya kayak pantat kingkong" ucap wanita tua yang Jamal yakini bernama Mira.

Jamal hanya diam menatap Mira yang melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum ke arah Jamal.

"Padahal, kamu itu pintar, mana pintar ganteng pula lagi. Tapi, sayang sekali, kamu punya hati yang sangat busuk."

Mira menyeringai kecil ketika dia menyadari Jamal menatapnya dengan tatapan marah.

"Saya cuma mau ngasih tahu kamu. Berhenti memikirkan rencana balas dendam, karena semua pasukan kamu sudah habis. Orang-orang yang kamu andalkan di rencana jahat kamu juga sudah K.O, kamu udah kalah, Jammy Alviano."

Mira mengenakan kacamata hitamnya lagi lalu dia tersenyum manis ke Jamal.

"Sampai jumpa lagi di persidangan, Jammy~"

***

Dia tidak pernah menyangka kalau rencana yang dia susun dengan sedemikian rupa akan hancur berantakan seperti ini.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang