Chapter 123

966 145 1
                                        

Nanda mengerang kesal karena ada yang mengguncang tubuhnya cukup kuat. Dengan suasana hati yang dongkol, Nanda membuka kedua matanya dan mendapati pelaku yang membuatnya terbangun sebelum waktunya itu adalah Janu.

Nanda mengucek matanya sambil sesekali memeriksa sudut matanya, siapa tahu ada tahi mata yang nyangkut di sana. Lalu, setelahnya barulah dia menatap kesal ke Janu yang wajahnya terlihat cemas. Menyadari raut wajah Janu seperti itu membuat Nanda jadi ikut cemas.

"Kenapa?" tanya Nanda, dia melirik jam digital yang ada di atas meja nakas. Pukul enam pagi.

Janu tidak menjawab pertanyaan Nanda. Dia justru menarik Nanda supaya anak itu bangun lalu turun dari tempat tidurnya. Nanda sebenarnya kesal karena Janu malah diam dan membuatnya turun dari kasur empuknya ini. Tetapi, dia juga penasaran karena tidak biasanya dia melihat Janu secemas itu.

Mereka berdua sudah keluar kamar. Dan Nanda mendapati sudah ada Cakra serta Hadi berdiri di dekat ruang TV sambil menatap khawatir ke arah dapur. Nanda mengernyitkan alisnya melihat Cakra dan Hadi seperti itu. Tatapan mata mereka sama persis seperti tatapan mata Janu.

Hadi yang menyadari kehadiran Janu dan Nanda langsung melambaikan tangannya menyuruh mereka mendekat. Nanda pun berjalan mendekati Cakra dan Hadi, mengikuti Janu yang sudah terlebih dahulu berjalan di depannya.

"Dari tadi, Bang Mada kayak gitu, bang" ucap Cakra ke Nanda sambil menunjuk Mada yang merupakan objek kekhawatiran mereka.

Abang tertua mereka itu sudah ada di dapur pukul 05.45 tadi pagi. Sebuah keajaiban dunia karena biasanya yang ada di sana di jam segitu adalah Renjana. Tetapi, yang mereka temui di dapur ini adalah Mada yang tidak henti tersenyum lebar.

Bahkan, beberapa kali mereka melihat Mada terkikik geli sendiri. Tetapi, yang membuat Hadi, Cakra, dan Janu shock sampai-sampai Janu membangunkan Nanda adalah ketika mereka melihat Mada memasukkan garam ke tempat cucian piring sambil senyum-senyum sendiri memandangi ponselnya.

"Apa Bang Mada mulai gila?" celetuk Janu.

"Dia, kan sibuk sama proyeknya" ucap Janu lagi.

"Jangan langsung gila juga kali, Nu. Bisa aja Bang Mada itu depresi ringan. Kayaknya, Bang Mada perlu dibawa ke Mbak Sheline, deh Nan" ucap Hadi yang jadi khawatir dengan keadaan abang tertua mereka.

Siapa tahu diam-diam selama ini jiwa abang tertua mereka itu terguncang. Tetapi, dia memilih memendamnya demi kebahagiaan mereka.

"Tidaaak. Gue nggak mau punya abang sakit jiwa!" jerit Cakra tertahan, dia menatap pilu ke arah Mada yang saat ini terkekeh pelan sambil menatap ponselnya. Mada juga cekikikan sendiri lalu setelahnya tersenyum malu-malu membuat Cakra semakin sedih karena melihat kondisi abangnya.

"Tapi, sejak awal, kalian semua emang sakit jiwa, sih bang" ucap Cakra yang setelahnya dia mendapatkan pelototan tajam dari tiga abang nya.

Nanda menghembuskan nafas lelah.

"Kalian ini bego atau gimana, dah? Apalagi lo, Nu! Katanya lo paling jago masalah beginian! Tapi, kenapa lo nggak nyadar penyebab Bang Mada bisa kayak gitu?" ucap Nanda yang setelahnya dia berjalan mendekati Mada.

"Bang!" seru Nanda membuat Mada tersentak kaget dan hampir saja ponselnya itu masuk ke dalam wajan.

Setelahnya, Mada baru menyadari kalau ada Nanda, Janu, Hadi, dan Cakra di sana. Para adiknya itu kompak melihat ke arahnya.

"Tumben kalian udah bangun?" tanya Mada.

"Bang, lo sehat, kan bang?" tanya Janu.

"Iya, bang. Abang baik-baik aja, kan?" tanya Cakra sambil menatap Mada khawatir.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang