Satu kata yang cocok untuk menggambarkan sifat laki-laki satu ini.
Keras kepala.
Meskipun laki-laki ini sudah dalam keadaan babak belur, namun laki-laki tersebut masih tidak mau membuka mulutnya untuk memberitahu siapa yang telah mengirimnya dan terus melakukan teror seperti ini ke rumah tujuh bujang ini.
Laki-laki itu tidak pernah Nanda dan Janu lihat sebelumnya. Mereka berdua yakin sekali tidak pernah bertemu apalagi berpapasan dengan laki-laki yang saat ini dalam keadaan babak belur.
"Kayaknya, dia ini anak buah Jamal, Nan. Dan bisa aja kaki tangan dari Jamal itu yang ngirim cowok itu ke sini" jelas Janu ke Nanda yang sepertinya masih terlihat kesal dengan si laki-laki yang saat ini merintih kesakitan karena dikeroyok oleh orang-orang suruhan milik Darma.
Janu pun menceritakan pertemuannya dengan Aji ke Nanda. Dia menjelaskan semua yang ia dapatkan dari Aji ke Nanda dan juga Darma. Tidak ada satu pun cerita dari Janu yang kurang karena dia rasa, tidak ada yang perlu ia sembunyikan karena masalah ini sudah termasuk masalah serius.
Mereka bertujuh harus lebih waspada dari sekarang karena Jamal benar-benar manusia yang pantang menyerah. Lebih tepatnya, pantang menyerah dalam kategori membalas dendam.
"Hmmmmm, anak Jefry ini memang luar biasa" komentar Darma setelah dia mendengarkan semua cerita dari Janu.
Alis Nanda saling bertaut yang menandakan kalau dia sedang berpikir keras.
Nanda sebenarnya sudah menduga kalau Jamal akan memberikan pembalasan karena tidak terima dirinya di penjara. Terakhir kali Nanda bertemu dengan Jamal di penjara, terlihat jelas kalau Jamal ingin membalaskan dendamnya ke mereka dan ingin menghancurkan hidup mereka.
Nanda hanya tidak menyangka kalau Jamal begitu cepat bergerak. Itu artinya, orang-orang dari Jamal itu tersebar banyak dan masih setia dengan Jamal meskipun pria itu sudah berada di dalam penjara.
"Kita harus cari tahu siapa kaki tangan si Jamal itu" gumam Nanda.
Beberapa nama mulai muncul di dalam kepalanya. Termasuk nama para tetangganya karena dia benar-benar tidak bisa percaya lagi dengan orang baru meskipun mereka sangat baik. Nanda hanya tidak ingin dia kembali kecolongan karena dulu, Jamal juga sangat baik kepada mereka. Siapa yang menyangka kalau Jamal memiliki niat terselubung saat itu?
"Bos besar, laki-laki ini pingsan" lapor Pak Reza kepada Darma yang jadi ikut-ikutan berpikir seperti Nanda.
"Pingsan atau mati?" tanya Darma dengan entengnya membuat Janu diam-diam bergidik ngeri.
Janu merasa kalau dia sedang dikelilingi sekelompok mafia.
Tetapi, tidak mungkin juga seorang pengusaha dan pebisnis seperti Keluarga Graciano tidak melakukan hal semacam itu, bukan?
Sepertinya, sudah banyak "korban" dari kekejaman keluarga yang satu ini tetapi mereka mampu menutupinya dengan baik.
"Pingsan bos besar!" sahut salah satu orang suruhan Darma yang sedang mengecek nadi di leher laki-laki itu.
"Bawa aja ke tempat biasa, yah. Tempat yang sama waktu John disekap dulu" ucap Nanda yang merebahkan tubuh lelahnya di sofa.
Janu mengerjapkan matanya, "Jadi, waktu itu si John lo sekap?"
Nanda mengibaskan tangannya, seolah meminta Janu untuk tidak menanyakan hal itu.
Darma yang mendengar ucapan Nanda pun langsung memerintahkan orang-orang suruhannya untuk membawa laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Darma benar-benar akan membawa laki-laki itu ke tempat di mana mereka sempat menyekap John dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] KARSA
Fanfiction*Lanjutan dari cerita Teduh* Hanya keseharian tujuh pemuda setelah semua masalah yang terjadi.. Cast: 1. Mark Lee as Mada Cazim 2. Huang Renjun as Renjana Wistara 3. Lee Jeno as Janu Oliver 4. Lee Haechan as Hadinata Byantara 5. Na Jaemin as Nanda G...
![[FF NCT DREAM] KARSA](https://img.wattpad.com/cover/375896878-64-k91967.jpg)