Chapter 134

969 134 3
                                        

Hari Sabtu, Renjana, Nanda, dan Darma benar-benar pergi ke kampung halaman orang tua nya Renjana. Mereka pergi ke sana setelah semua persiapan untuk acara kantor besok selesai. Mereka bertiga pergi ke sana menggunakan mobil dengan Pak Bambang sebagai supir. Selama menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka bertiga tiba di tempat pemakaman umum. Tempat di mana orang tua Renjana dimakamkan.

"Jadi, di sini rumah baru nya Langit dan Senja" gumam Darma yang memang tidak tahu di mana dua teman baiknya itu dimakamkan.

Kapan-kapan, Darma akan mengajak Arka, Dewi, dan Mira ke sini. Mereka harus menyapa teman mereka itu, bukan?

Nanda tidak menaggapi ucapan ayahnya. Dia hanya sibuk mengekori Renjana yang berjalan terlebih dahulu.

Sedangkan Renjana, anak itu terlihat bersemangat karena dia akhirnya bisa kembali menemui ayah dan ibu nya di sini. Terakhir kali, dia datang ke sini dalam keadaan kalut. Dia jadi teringat dia pada akhirnya dibawa "jalan-jalan" oleh John ketika Renjana terakhir kali mendatangi ayah dan ibunya. Sekarang, dia pergi bersama Nanda dan Darma. Dua orang yang menjadi bagian orang yang ia sayangi di dalam hidupnya.

Suasana hatinya begitu berbeda dengan terakhir kali dia ke sini. Sebelumnya, dia datang ke sini dalam keadaan hati yang terluka. Sekarang, dia datang dalam keadaan hati yang ringan. Dia juga bisa tersenyum karena pada akhirnya semua masalah yang membuat pundak nya terasa berat benar-benar telah menghilang dari hidupnya.

Renjana hanya berharap, dia akan bisa lebih bahagia dari kemarin.

"Di sini, pa tempat ibu dan ayah dimakamkan" ucap Renjana yang sudah berhenti di dekat makam orang tua nya.

Darma menatap dua makam yang bertuliskan nama orang tersayang nya di batu nisan makam tersebut. Melihat ada nama orang-orang yang telah memberikan begitu banyak warna di masa muda nya, membuat Darma berusaha keras tidak menangis di depan dua anak nya ini.

Kenangan indah mereka entah kenapa begitu menyesakkan di dada disaat dia mengenangnya di sini. Rasanya aneh, karena dia tidak bisa bernostalgia bersama dua orang yang berarti di dalam hidupnya.

"Papa beli bunga dulu, ya? Kamu di sini aja dulu sama Nanda" ucap Darma yang langsung berbalik pergi karena dia bisa merasakan kedua matanya terasa panas.

Nanda menatap lekat punggung lebar sang ayah. Dia tahu kalau ayah nya sedang sedih. Nanda menyadari kalau raut wajah ayah nya berubah setelah melihat makam orang tua nya Renjana. Pasti hatinya sakit karena dia tidak bisa bertemu dengan dua teman terbaik nya dalam keadaan hidup.

Ayah nya, belum bisa menerima kepergian mereka.

Reaksi yang pernah Darma tunjukkan ketika sang ibu meninggal dunia.

Renjana ikut menatap lekat Darma yang sudah berjalan menuju pintu masuk makam untuk membeli bunga. Lalu, setelahnya, dia mulai berjongkok dan membersihkan rumput liar yang ada di sekitar makam orang tua nya. Nanda pun juga ikut membantu Renjana. Sesekali, dia melirik saudaranya itu.

Nanda saja merasa sangat hancur ketika ibunya meninggal dunia. Bagaimana dengan Renjana yang kehilangan keduanya sekaligus? Disaat usianya masih membutuhkam figur orang tua.

"Ibu, ayah, Renja ke sini sama Nanda dan Papa Darma. Iya, Darma teman kalian berdua" ucap Renjana yang mengucapkan kalimat itu sambil merangkul Nanda.

"Ini, bu, yah yang namanya Nanda. Ganteng, kan? Kayak Papa Darmaa" ucap Renjana yang terkekeh pelan setelah mengucapkan kalimat itu.

"Dan manusia seganteng ini itu sekarang jadi saudara Renja, loh. Selain ganteng dia juga baik dan udah sering banget nolongin Renja. Terus, Renja juga punya teman-teman yang baik, mereka agak nyebelin, sih. Tapi, nggak pa-pa, selama mereka baik" ucap Renjana sambil tersenyum lembut ke arah makam orang tua nya.

[FF NCT DREAM] KARSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang