Para gadis sudah berbaris di bawah, tepatnya di lobi gedung sekolah dengan Colorguard indah di tangan mereka masing-masing.
Disusul pasukan Paskibra yang berhasil membuat geger satu sekolah bergengsi tersebut. Siapa yang tidak tahu SMAN 1 Jakarta Pusat, salah satu SMA favorit yang muridnya tidak ada yang tidak menarik. Tapi, entah mengapa, pasukan Paskibra SMA 5 Kusuma Jaya, yang hanya berasal dari SMA swasta, malah berhasil membuat para gadis-gadis sekolah ini berteriak.
"Ganteng banget." Tidak jarang siswi perempuan di sana menggerutu seperti itu saat melewati barisan mereka.
"Dari ujung sampe ujung ganteng semua."
"Ih ... pindah sekolah aja kuy!"
Dari sekian banyak gerutuan seperti itu, Ana heran, kenapa selalu telinganya yang tidak sengaja mendengarkan, sampai muak.
"Gantengan anak sini ya, kan?" Gina bertanya kepada beberapa teman di depannya. Pertanyaan itu disambut gelengan pelan Lili dan Ana. "Hah? Apa, Lil? Apa, Na? Gantengan cowok sekolah kita?" Sudah dapat gelengan pun Gina masih meledek Lili dan Ana, bersamaan dengan sampainya pasukan Paskibra di samping mereka.
"Shh!" Bara yang merasa terganggu berdesis, mencoba menenangkan teman-temannya yang ribut.
Terlihat di sisi pasukan berisi anak laki-laki itu, ada Herin yang sibuk mengecek perlengkapan tampil, sudah seperti ibu dari anak-anaknya yang banyak. Tapi anak-anak itu wajahnya mulai tak ramah, tak tersenyum sama sekali, datar, seperti ada rasa gugup yang mulai merajai.
"Nih, semangat, ya. Lakuin yang terbaik, gak usah pengen menang yang penting kita fokus aja. Nol kesalahan." Herin menyemangati pasukannya seraya menyerahkan tongkat cantik sebagai aksesoris yang biasa dipegang oleh danton.
Haechan mengangguk gugup—sedikit gemetar ia terlihat jelas dari lonceng yang ada di bawah tongkatnya yang terus goyang-goyang.
"Hi, kayaknya Haechan gugup banget tuh," bisik Lili, menyadari gemetar tersebut.
Yuhi menurunkan Colorguard yang perlahan mulai terasa berat karena sedari tadi dipegang saja tanpa bergerak. "Terus gue harus ngapain?"
"Semangatin lah," sahut Maudy, yang tepat berdiri di belakang Yuhi.
"Gak ah ... entar gue malah ngancurin fokusnya." Saat bicara seperti itu, Yuhi menoleh menatap keadaan laki-laki yang sedang mereka bicarakan. Ternyata, tanpa sadar, seorang senior perempuan bernama Koeun tengah menepuk-nepuk pundak Haechan dengan tatapan yang sangat dalam sambil menyampaikan beberapa kalimat.
Dan sialnya, Haechan tersenyum lepas hingga berhenti gemetar setelah diajak berbincang oleh Koeun. "Potek potek potek." Yuhi menggerutu dalam hati, lalu melampiaskan kesal dengan menggenggam erat Colorguard di tangannya.
"Sabar, Hi." Gea yang sadar akan pemandangan itu juga langsung menyemangati Yuhi.
Di dalam barisan, Jaemin melirik ke samping sekilas, sebelum tersenyum senang. "Lil, tolong kancingin sarung tangan gue dong."
Mendengar Jaemin memanggilnya, Lili langsung menoleh dan benar-benar langsung membantu laki-laki itu memasangkan kancing sarung tangannya yang sempat lepas.
"Semangat ya, Sayang," bisik Jaemin, dibalas senyuman simpul dari Lili.
"Semangat juga, Sayang," kata Lili.
"Aduh ... saya merasa jadi nyamuk tak bernyawa di sini." Celetuk Ana seraya buang muka, tak ingin memperhatikan dua sejoli yang sangat umum di sampingnya.
"Hahaha, tenang, Na, jomblo di sini bukan lo doang." Bara tiba-tiba menyeletuk kepada Ana, entah ada angin topan dari mana.
"Iya sih, tapi kan gue yang denger percakapan mereka pas mesra-mesraan tadi," kata Ana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putih Abu! The Origin 2018
Romance"Kalau masa SMA lo cuma putih abu aja, coba diteliti ulang. Siapa tau warna lain lagi sembunyi di suatu tempat!" @Nadarayoo, 2018
