Bab 42

1.2K 61 0
                                        


Danisha masih mengerjakan materi untuk dia ajarkan besok di kelas ditambah dia juga harus mengetik laporan hasil proker mereka padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dia masih serius di depan laptopnya ada Andra, Rion dan Ayu juga masih setia dengan laptop mereka masing-masing, Sementara yang lain ada yang di bale dan dan ada juga yang di dalam kamar.

"Gue mau buat teh, ada yang mau? Tanya Danishaenawarkan ke Ayu, Andra dan Rion.

"Gue mau Danish! Kata Ayu tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya.

"Gue sama Andra kopi ya! Kata Rion mau juga.

"Oke!" Danisha langsung beranjak menuju dapur, ketika melewati kamar Alvan, tampak laki-laki itu tengah duduk bersandar dengan laptop yang masih menyala di pangkuannya, dan Danisha memberanikan diri menyapa pacarnya itu apalagi tadi sempat ia lihat kalau Alvan lagi kesal.

"Al! Panggilnya pelan yang hanya dibalas tatapan saja oleh Alvan.

"Aku mau buatin teh,  kamu mau kopi? Tanya Danisha ragu-ragu, karena raut wajah Alvan tampak serius dan sedikit membuatnya takut, apalagi mengenai surat-surat tadi yang sudah pasti membuat Alvan kesal.

"Aku udah buat tadi! Kata Alvan dan Danisha hanya mengangguk, penolakan Alvan barusan  membuatnya tidak enak hati. Danisha hanya mengangguk kemudian beranjak keluar dari kamar laki-laki itu.

Sebenarnya Alvan sama sekali tidak marah ke Danisha,  dia hanya kesal dan cemburu, andai saja Danisha tidak meminta untuk merahasiakan hubungan mereka, tadinya dia sudah terang-terangan meminta surat itu atau bahkan membuangnya. Inilah yang membuat Alvan tidak setuju dengan keinginan Danisha yang harus merahasiakan hubungan mereka, dia tidak bisa terang-terangan menunjukkan cinta dan perhatiannya pada gadis itu, dia juga paling nggak bisa menahan rasa cemburunya yang berakhir dia akan kesal sendiri.

Sementara Di dapur Danisha masih menyeduh teh dan kopi mereka, pikirannya masih tertuju pada diamnya Alvan, dia nggak tau harus ngapain karena ini baru pertama kalinya dia alami.

"Mana suratnya?"  Entah sejak kapan Alvan datang ke dapur tiba-tiba saja dia sudah berada di belakang Danisha.

"Ada di kamar!"

"Boleh diambilin?"

"Iya!" Kata Danisha pelan beranjak dari dapur sambil membawa teh dan kopi mereka ke ruang tamu. Sementara Alvan masih menunggunya di dapur.

"Ini!" Kata Danisha memberi surat itu ke Alvan yang langsung di terima oleh laki-laki itu.

"Apa isinya?"

"Entah!... Aku juga nggak baca!" Jawab Danisha jujur. Kemudian Alvan membuangnya ke tempat sampah, Danisha hanya diam saja toh dia juga tidak terlalu peduli tentang surat-surat itu.

"Jangan marah!" Lirih Danisha sambil menyentuh ujung Hoodie yang dipakai Alvan.

"Nggak marah cuma kesal aja!"

"Besok-besok kalau ada yang kasih surat lagi langsung buang aja ya! Danisha hanya mengangguk mengiyakan padahal selama ini Danisha juga tidak pernah membaca surat-surat itu.

"Ya..udah, kerjaannya masih banyak? Tanya Alvan lagi sambil mengusap rambut Danisha dengan lembut.

"Masih!"

"Mau aku temenin biar semangat ngerjainnya?" Tanya Alvan yang langsung membuat Danisha menatapnya Geli, Alvan terlalu percaya diri...

"Tapi kerjaan kamu?...

"Nggak apa-apa, tadi cuma bantu ngerjain kerjaannya papa aja! Jawab Alvan seraya menatap dalam kekasihnya itu.

"Aku ke depan dulu ya, kamu lanjutin aja ngerjainnya! Kata Danisha.

"Nggak jadi ditemenin?"

"Nggak ah!"

"Kenapa?"

"Malu!"

"Aku pacarmu lho sayang, kan aku udah bilang manfaatin aja pacarmu ini!"

"Nanti ketahuan!"

"CK!!... biar ajak kenapa sih! Kesal Alvan.

"Jangan dulu, nanti aja, biar gini aja dulu!

Alvan diam dan menatap Danisha tidak habis pikir dengan kemauan gadisnya itu padahal teman-temannya aja terang-terangan.

"Kamu udah janji lho kemarin? Kata Danisha lagi.

Alvan menghela nafasnya sebentar, lalu kembali tersenyum mengusak rambut Danisha.

"Ya udah sana, tapi jangan sampai begadang ya! Ucap Alvan mengingatkan dengan lembut.

"Iya!" Kata Danisha lalu beranjak dari dapur meninggalkan Alvan, dan segera bergabung lagi ke ruang tamu  sebelum Andra, Rion dan Ayu curiga.

Alvan yang masih berada di dapur mengambil kembali surat yang dibuangnya tadi,  lalu membacanya dengan bermacam-macam ekspresi yang sudah pasti menahan kekesalannya.

""Cckk!!"...dasar bocah!" Katanya sambil meremat kertas itu lalu kembali membuangnya ke tempat yang tadi.

Di ruang tamu Danisha melihat hanya Rion yang ditemani Inggrid sedang mengetik laporan proker mereka,  sedangkan Ayu lagi telponan sama orangtuanya dan Andra  sudah bergabung dengan yang lain di bale.

Danisha kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tapi sekarang suasana hatinya sudah baik tidak seperti tadi yang sama sekali tidak bisa konsentrasi karena mengingat diamnya Alvan.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang