Bab 96

729 49 3
                                        


"Adek nggak pengen gitu Tunangan juga?" Tanya Verrel di sela-sela perjalanan mereka sambil melirik sekilas kekasihnya itu.

"Nggak!" Jawab Elisha singkat yang langsung membuat Verrel menghela nafas.

"Kenapa sih?" Tanya Verrel lagi.

"Umur gue masih 20 tahun ya Verrel!"

"Danisha juga masih dua puluh tapi dia mau diajak Alvan Tunangan, kan baru tunangan bukan langsung nikah!" Ucap Verrel lagi.

"Jadi karena Alvan sama Danisha mau tunangan, Lo juga ngajakin gue gitu?" Tanya Elisha mulai kesal menatap kekasihnya itu yang masih fokus menyetir.

"Dek...bisa nggak sih ngomongnya yang lembut dikit jangan pakai lo- gue, nggak enak banget dengernya!" Kata Verrel lagi dengan lembut.

Elisha justru menghela nafas dan mengalihkan tatapannya ke luar.

"Dek!...

"Berisik banget deh,  lagian dulu kita juga  Lo -gue kok manggilnya!" Elisha mulai kesal, sebenarnya sejak tadi dia udah kesal tapi Verrel nggak peka. Elisha nggak suka kalau Verrel terlalu mendominasi dirinya, karena menurutnya baru pacaran kok masa udah kayak suami isteri aja.

"Beda Lho dek, sekarang adek itu pacarnya Abang, kesayangannya Abang, dan bahkan Abang berharap adek yang jadi pendamping Abang nanti!" Ucap Verrel masih berusaha lembut.

"Mikir Lo kejauhan banget deh!" Sewot Elisha mulai  membuat Verrel kesal dan menatap sekilas ke Elisha yang masih enggan menatap dirinya. Sungguh tingkah Elisha malam ini membuat Verrel heran bercampur bingung, emang sih setiap Verrel bahas tentang pertunangan ke Elisha, pacarnya itu selalu kesal karena menurutnya hal itu masih terlalu cepat dibahas mengingat umurnya yang masih dua puluh.

"Asal adek tau, kalau Abang udah berani ngajak adek Tunangan, itu tandanya Abang serius dan nggak main-main lagi soal hubungan kita,  Abang juga negur cara bicara adek agar adek ngomongnya lebih lembut, dan itu tandanya Abang sayang sama adek, tapi apa, adek malah marah-marah nggak jelas gini!" Kata Verrel  tapi tidak disahuti lagi oleh Elisha, gadis itu hanya diam menatap lurus ke depan.

"Kalau adek emang nggak suka cara Abang memperlakukan adek selama ini, Abang minta maaf untuk kedepannya Abang nggak ngelakuin itu lagi!" Ucap Verrel pelan seraya menambah kecepatan laju mobilnya.

Suasana hening menyelimuti mereka berdua, Verrel fokus pada kemudinya dengan raut wajah seriusnya sementara Elisha malah diam menundukkan wajahnya entah karena ia merasa bersalah atau karena masih kesal ke Verrel hanya dialah yang tau.

Lain Elisha lain pula Ayu yang  tiba-tiba diam. Bahkan saat Rayyan ngajak bicara pun gadis itu tampak acuh tak acuh saja, tapi raut wajah gadis itu tampak sendu bercampur dengan kesal. Rayyan sadar akan perubahan kekasihnya itu, dia bahkan sangat peka kalau Ayu lagi kesal atau sedih tapi kenapa.

Ayu hanya menunduk memperhatikan kedua jemarinya yang saling bertaut di pangkuannya, diamnya Ayu sangat langka bagi Rayyan, tidak biasanya gadis itu diam mengunci mulutnya padahal sehari-harinya gadis itu malah suka mengoceh.

Rayyan meminggirkan mobilnya dan mereka berhenti di depan Salah satu bangunan Ruko tapi berhubung karena malam sudah larut, aktivitas di ruko-ruko itu sudah sepi.

"Kenapa berhenti?" Tanya Ayu menatap Rayyan ketika sadar Rayyan menghentikan mobilnya padahal rumah Verrel masih jauh. Kenapa rumah Verrel? Karena memang Ayu tinggal bersama keluarga Verrel selama ia kuliah karena kedua orangtuanya berada di luar provinsi.

"Kamu yang kenapa?" Tanya Balik Rayyan sembari mendekatkan jaraknya dengan Ayu.

"Aku? Aku nggak kok!" Sahut Ayu.

"Ay,  aku tau kamu, sejak tadi kamu diam! Aku ngomong pun kamu cuekin, kamu kenapa sih?" Tanya Rayyan tegas menatap kekasihnya itu.

"Aku nggak kenapa-kenapa Rayyan!"... Ayu masih belum mau bicara perihal keterdiamannya tadi sehingga membuat Rayyan meraup kasar wajahnya sendiri.

"Sekali lagi aku tanya, kamu kenapa?"dari semenjak di rumah Andra kamu udah diam, jangan kamu pikir aku nggak tau Ay!"

Ayu diam tidak berani menatap Rayyan, sebab kalau Rayyan sudah mode tegas begini sedikit menyeramkan.

"Ay... !"

"Aku nggak apa-apphh....

Rayyan yang kepalang kesal langsung meraup bibir mungil kekasihnya itu tanpa ampun, ia melumat tanpa memberi jeda sedikitpun buat Ayu, sehingga gadis itu tampak kewalahan menerima ciuman mendadak dari Rayyan.

"Masih nggak mau ngomong!" Kata Rayyan ketika bibir mereka sudah terlepas, dan Ayu masih sibuk menghirup oksigen.

"Tapi memang aku nggak kenapa-kenapa Ray.....

"I-iya...karena aku iri!!!!... Pekik Ayu langsung  karena Rayyan hampir saja mengulangi ciuman brutalnya tadi.

"Iri? Iri kenapa? Bingung Rayyan.

"Iri melihat Viya udah Tunangan sama Andra, Inggrid juga sama Rion dan katanya sebentar lagi Alvan juga mau ngajak Danisha tunangan, sementara kita?....

Rayyan paham, Pacarnya itu iri karena teman-temannya sudah diikat oleh teman-temannya sementara dia sendiri belum, jangan kan untuk diajak tunangan, membahas hal itu saja belum pernah. Rayyan menghela nafasnya sebentar.

"Tapi aku nggak apa-apa ko kalau kamu belum siap, aku pasti nunggu!" Ucap Ayu merasa tidak enak atas diamnya Rayyan.

"Sayang, bukan aku nggak ada niat buat ngajak kamu Tunangan, tapi saat ini keadaannya belum tepat!" Masalah keluargaku dan Danisha belum selesai dan sakit mama juga lagi kambuh, sebelumnya aku udah mikirin hal ini jauh-jauh hari, kita tunggu mama sembuh dulu ya, kamu mau kan bersabar sebentar lagi?" Tanya Rayyan lembut seraya mengelus pipi mulus kekasihnya itu.

Ayu hanya mengangguk dan mengulas senyum manisnya untuk Rayyan.

"Gini kan cantik!" Puji Rayyan setelah mendapat senyuman manis dari Ayu.

"Lain kali kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu cerita ya, jangan tunggu dipaksa dulu, kan kasihan bibir kamu jadi korbannya!" Kata Rayyan mengingatkan Ayu sambil terkekeh.

"Diihhh... Emang itu mau kamu kan!" Sewot Ayu. Rayyan semakin terkekeh, pacarnya itu udah kembali ke mode galaknya.

"Lagi dong yang!".... Pinta Rayyan,

Ijin itu hanya formalitasnya aja,  sebelum Ayu menjawabnya, bahkan  Rayyan sudah mencium kembali bibir mungil kekasihnya itu, tapi sekarang ciumannya lebih lembut dan manis sehingga Ayu menikmatinya. Keduanya hanyut dalam ciuman mereka di dalam mobil tanpa peduli jika keduanya bisa saja kepergok warga yang kebetulan sedang melintas.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang