Bab 97

807 57 1
                                        


Di kamarnya Elisha menangis sejadi-jadinya karena perasaan bersalahnya ke Verrel. Tadi Verrel langsung pulang tanpa sepatah kata pun setelah Elisha sampai di rumah, laki-laki yang berstatus pacarnya itu juga tidak ikut turun katanya sudah malam, tidak biasanya Verrel bersikap demikian. Elisha sadar kelakuannya tadi memang sudah sangat keterlaluan, tapi dia juga sudah berulang kali bilang ke Verrel agar jangan bahas itu Mulu, karena gimana pun juga jawabannya tetap sama. Kenapa Verrel tidak bisa mengerti juga?.

Elisha juga enggan untuk menghubungi Verrel, gadis itu hanya menangis, hatinya sakit mengingat tidak biasanya Verrel bersikap dingin seperti tadi padanya.

Rasa sesak yang begitu memenuhi hati Elisha membuat air matanya sama sekali tidak mau berhenti padahal kedua matanya sudah mulai membengkak dan hidungnya juga udah mulai pilek. Entah bagaimana akhirnya Elisha terlelap, mungkin karena capek menangis membuat gadis itu tertidur.

Sementara Verrel duduk diam merenung di sofa ruang keluarganya. Dia sama sekali belum ke kamarnya walaupun untuk sekedar mengganti bajunya. Setibanya di rumahnya tadi dia langsung mendudukkan tubuhnya di sofa dan memijit pelipisnya.

Pikirannya penuh dengan gadis yang baru beberapa menit yang lalu dia antar ke rumahnya,  gadis yang bertahun-tahun dia incar dan baru beberapa bulan ini menjadi kekasihnya, salahkah jika ia ingin cepat-cepat memiliki gadis itu seutuhnya? Salahkah jika ia ingin serius dengan hubungan mereka? Dia sangat mencintai Elisha, gadis itu berhasil membuat dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya  mencintai sosok gadis bernama Elisha Jeonaya, gadis yang pertama kali menarik perhatiannya saat masa-masa ospek dulu.

Selama ini dia selalu sibuk mencintai gadis itu, mengejarnya, bahkan dia mengikuti cara Rayyan  memohon kepada dekan agar mereka berada di kelompok yang sama dengan gadis incaran mereka masing-masing saat KKN kemarin.

Menjadikan Elisha kekasihnya ternyata membuat Verrel  lebih serakah lagi, dia ingin segera menjadikan Elisha miliknya seutuhnya, itu sebabnya dia langsung meminta Elisha bertunangan dengannya tapi gadis itu justru menolaknya.

Saking galaunya, Verrel tidak menyadari kalau Ayu sudah sampai di rumah dan berdiri di sampingnya seraya menatap heran sepupunya itu.

"Lo kenapa Rel?" Tanya Ayu ikut mendudukkan tubuhnya di samping Verrel.

"Mumet gue!" Sahut Verrel meraup wajahnya kasar dengan kedua tangannya.

"Lo ribut sama Elisha?" Tebak Ayu yang langsung diiyakan Verrel lewat anggukan kepalanya.

"Kok bisa?"

Kemudian Verrel menceritakan awal mula keributan mereka dari awal sampai akhir dengan sejelas-jelasnya tanpa ada yang ia tutup-tutupi atau bahkan dia kurangi. Ayu pun mendengarnya dengan serius walau sekali-sekali dia mencebik karena tidak suka dengan sikap sepupunya itu.

"Menurut gue Lo yang salah!" Ucap Ayu setelah mendengar keluh kesah sepupunya itu.

"Kok gue? Gue cinta sama Elisha, apa salahnya kalau gue mau ngajakin dia ke hubungan yang lebih serius lagi!" Ucap Verrel membela diri.

"Verrel, umur Elisha masih dua puluh tahun, dia masih ingin menikmati masa-masa gadisnya, dia masih ingin bebas, Lo yang harusnya ngertiin dia!" Kata Ayu menasehati Verrel.

" Danisha juga umurnya masih dua puluh tapi dia mau kok diajak Alvan Tunangan, kan baru tunangan Ay bukannya langsung nikah!"

"Setiap orang itu beda-beda Rel, mungkin Danisha lebih siap ketimbang Elisha, Lo pacarnya Elisha harusnya Lo yang lebih tau Elisha!" Kata Ayu lagi.

"Umur Danisha dan Elisha boleh saja sama, tapi kepribadian keduanya berbeda, Danisha lebih dewasa dibandingkan Elisha karena sejak kecil Danisha sudah dilatih mandiri, hidup yang dia jalani yang mendewasakan dirinya baik itu dari segi bersikap maupun berfikir!" Sedangkan Elisha, dia anak yang selalu dimanja keluarganya, dia selalu dimengerti, dipahami bukan memahami!" Lanjut Ayu lagi yang membuat Verrel terdiam.

"Dan Elisha juga salah karena tidak tau bagaimana cara menjelaskan keinginannya ke Lo,  apa maunya dia dan bagaimana cara dia menjalani hubungan kalian,  Harusnya Lo bicarakan dulu sama dia bukannya malah langsung ngajakin dia tunangan, ya jelas dia nolak!"

"Gue hanya ingin cepat-cepat mengklaim dia Ay, gue nggak mau main-main lagi!" Kata Verrel memelas.

"Iya gue tau tapi Lo juga harus mengerti posisi Elisha, dia masih bocah!"

"Terus gue harus gimana Ay?" Tanya Verrel menatap sendu sepupunya itu.

"Kurang-kurangi posesif Lo, kasih dia kebebasan, jangan terlalu mengekang dia, gue aja jengah ngeliat Lo yang selalu ngekang Elisha, syukur-syukur nggak diputusin Lo!"

"Udah ah, gue ke kamar dulu!" Gue udah ngantuk!" Ucap Ayu dan langsung beranjak meninggalkan Verrel yang masih duduk diam di sofa.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang