Bab 189

259 29 1
                                        

Perasaan gugup kini menyelimuti suasana kamar hotel tempat Elisha dan Verrel menginap malam ini. Pesta pernikahan mereka baru saja selesai digelar, dan itu tandanya mulai  malam ini mungkin ia harus siap untuk melepas masa gadisnya dan menjadi istri yang baik untuk Verrel.  Bohong kalau ia tidak merasa takut pada apa yang akan dilakukan Verrel nanti padanya, bahkan ketika masih pacaran saja  terkadang Verrel susah untuk mengendalikan nafsunya ketika mereka sedang berduaan. Ditambah lagi saat ia mendengar  cerita dari para sahabat-sahabatnya yang sudah lebih dulu merasakannya, sungguh perasaan takutnya kian teramat sangat malam ini.

"CEKLEK!!!"...

Pintu kamar terbuka dan menampakkan suaminya dengan senyum kotaknya dan masih betah dengan kemeja putih di badannya meski dibagian lengannya sudah ia gulung  hingga ke siku. Verrel langsung mendekati Elisha yang rebahan di ranjang, mendudukkan dirinya di tepi ranjang, lalu setelahnya membubuhkan kecupan manis di pelipis istrinya.

"Terimakasih sudah bersedia menjadi istri Abang ya sayang!" Ucap Verrel lembut tanpa menghilangkan senyum kotak dari wajah tampannya.

" Terimakasih juga karena sudah memilih adek!"  Balas Elisha dengan senyuman manisnya.

" Ya sudah Abang mandi dulu ya!" Kata Verrel, kemudian langsung beranjak menuju kamar mandi. Tadi setelah acara selesai, Verrel masih berkumpul dengan keluarga besarnya itu sebabnya Elisha duluan yang masuk ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang gerah.

Kemudian Elisha bangun dan beranjak mendekati lemari pakaian untuk menyiapkan piyama untuk Verrel suaminya, karena mulai malam ini hal itu akan menjadi salah satu kegiatan rutinnya.

Sepasang tangan melingkar memeluk tubuh rampingnya dari belakang, aroma segar yang langsung membuat Elisha tau kalau itu kelakuan suaminya. Pun Elisha langsung menggenggam jemari Verrel yang memeluknya bahkan Verrel sudah mulai mengendusi permukaan kulit leher Elisha, sehingga membuat gadis itu merinding menahan geli.

"Bang.....!" Lirih suara Elisha tertahan karena menahan desahannya saat Verrel tidak hanya menciumi perpotongan lehernya, tapi kedua jemarinya tak tinggal diam, kini sudah aktif di dalam piyama yang dikenakan Elisha.  Kemudian Verrel membalikkan tubuh Elisha agar menghadap kepadanya, menatap paras cantik istrinya yang tengah merona menahan malu,  kemudian mencium keningnya dengan penuh Cinta.

"Boleh kan dek?" Kalimat lembut setengah membujuk itu dilontarkan Verrel dilengkapi dengan tatapan sayunya yang menandakan kalau dirinya tengah menahan sesuatu yang menggairahkan. Tidak ada alasan bagi Elisha untuk menolaknya, malam ini, besok ataupun malam-malam selanjutnya rasa sakitnya tetaplah sama, jadi buat apa menundanya begitu pikir Elisha

"Pelan-pelan ya!" Ucap Elisha manja dan lembut dilengkapi dengan senyum manisnya yang membuat Verrel langsung meraup bibir Semerah cerry milik istrinya itu. Ia menyesapnya serta melumatnya dengan lembut dan penuh cinta sembari berjalan menuntun Elisha menuju ranjang mereka.

Verrel melakukan dan memenuhi  kewajibannya sebagai seorang  suami, ia sangat tau kalau Elisha merasa takut, terbukti saat Verrel menyentuh area sensitifnya, tubuh istrinya itu langsung menegang dan sedikit gemetar, sebisa mungkin Verrel melakukannya dengan lembut dan penuh cinta, sehingga Elisha mulai rileks dan menikmati apa yang dilakukan  suaminya terhadap tubuhnya.

"Abanghhh.....!" Lirih Elisha disela-sela desahannya saat sapuan hangat lidah Verrel  menyentuh permukaan miliknya, gelenyar aneh yang baru pertama kali ia rasakan membuat tubuhnya menggelinjang menikmati sensasi itu.

Tubuh keduanya entah sejak kapan sudah polos tanpa sehelai benang pun,  lidah Verrel semakin menari-nari bergerak liar menjelajahi milik Elisha, begitu juga kedua tangannya yang sudah apik bergerak memilin kedua nipple milik istrinya itu.

"Abanghhhhh....a-adekkhh..aasashhhhh....!!!! Desahan Elisha semakin kacau ketika sesuatu hampir meledak keluar dari tubuhnya.

"Nikmati sayang!" Ucap Verrel lalu kembali melanjutkan kegiatannya, menekan lebih dalam lagi milik Elisha dengan lidahnya, sehingga membuat Tubuh Elisha mengejang merasakan pelepasannya.

Verrel tersenyum melihat istrinya yang masih betah memejamkan kedua matanya, kemudian mencium kembali dahi istrinya itu, lalu ke bibirnya, membuat Elisha kembali terbuai dengan perlakuan Verrel. Tanpa ia sadari saat ini Verrel mulai mengarahkan miliknya yang sudah menegang dengan gagahnya ke dalam milik Elisha.

"Rileks ya sayang, Abang usahakan selembut mungkin!" Rayu Verrel dengan lembut, pelan-pelan ia dorong miliknya membuat Elisha menguatkan cengkeramannya pada lengannya untuk mengurangi rasa perih yang teramat sangat di are miliknya.

"Aakkkkhhh...!!!... Elisha berteriak menahan sakit yang luar biasa karena milik Verrel sudah sepenuhnya masuk kedalam miliknya, tapi teriakan itu langsung dibungkam Verrel lewat ciumannya, membuat Elisha agar tenang dulu sebelum ia mulai bergerak.

Setelah dikiranya Elisha mulai rileks, barulah ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang beraturan agar Elisha bisa menikmatinya. Dan benar saja saat ini Elisha mulai rileks dan mulai menikmatinya karena rasa sakit tadi sudah berangsur-angsur hilang dan berganti dengan rasa yang baru pertama kali ia rasakan.

Desahan yang saling bersahutan bergema di dalam kamar hotel itu, desahan saling mengejar pelepasan mereka, beruntung kamar hotel itu memang kedap suara jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Gerakan Verrel semakin liar di atas tubuh istrinya, sehingga tidak lama kemudian sebuah erangan Verrel terdengar pertanda ia sudah mencapai puncaknya.  Menumpahkan semua benihnya di rahim istrinya, berharap benihnya akan segera tumbuh di dalam sana.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang