Bab 135

585 49 2
                                        

Sejam kemudian Alvan sudah sampai di rumah Danisha lengkap dengan kemeja beserta Jas hitam yang masih melekat di badannya, senyum tengil andalan Alvan langsung menyapa Danisha begitu ia membuka pintu rumahnya tadi.

"Nggak usah senyum-senyum, kamu jelek!" Semprot Danisha langsung tapi justru semakin membuat Alvan melebarkan senyumnya.

"Cuma kamu lho sayang yang bilang aku jelek!" Godanya seraya mencium lembut pelipis gadisnya itu.

"Tau ah!"

"Sini dengerin aku, jangan merajuk dulu!" Ucap Alvan sambil menarik tubuh Danisha agar lebih dekat padanya, keduanya sudah duduk di sofa ruang tamu.

"Kamu menolak hadiah dari kakek, kamu bilang terlalu mencolok kalau dipakai sehari-hari, makanya aku beli yang ini biar kamu nyaman! Aku nggak mau kalau kekasih ku ini terus-terusan pesan taksi online, dan yang lebih penting dua orang jelek pengganggu itu tidak lagi basa-basi menawarkan diri untuk mengantar kamu kalau aku nggak bisa jemput, paham kan sayang????  Kata Alvan sambil menatap tajam tepat kepada bola mata bening milik Danisha.

"Aku kan selalu menolak mereka!"

" Aku ini laki-laki sayang, aku lebih tau isi pikiran orang itu daripada kamu, oke sekarang mereka terima penolakan kamu tapi aku nggak yakin untuk kedepannya nanti!"

"Kalau aja aku bisa, aku lebih memilih untuk mengurung kamu di rumah saja daripada harus keluar yang malah membuat laki-laki di luaran sana melirik kamu!" Kata Alvan lagi.

"Dih...itu namanya ngekang aku, lagian kan cuma ngelirik aja toh aku kan cintanya sama kamu!"

"cuma???? Asal kan kamu tau sayang, bukan cuma ngelirik, tapi berbagi udara yang sama saja aku tidak akan sudi!" Kata Alvan lagi. Tidak ada Candaan dalam kalimatnya barusan. Semua itu adalah pernyataan dari Alvan yang mutlak, pun raut wajah serius laki-laki itu akhirnya membuat Danisha tau seperti apa posesifnya lelakinya itu.

"Jadi, sekarang  masih mau menolak mobil itu?" Tanya Alvan memastikan sambil menatap kekasihnya itu.

"Bukankah aku sudah tidak punya pilihan???"

"Punya sayang, itupun kalau kamu mau menyicil malam pertama kita dari sekarang!" Kekeh Alvan menggoda Danisha sehingga membuat Danisha merona malu mendengar ucapan Absurd Alvan barusan.

"Iiihhh...mesum banget sih!" Danisha langsung menggeplak bahu kekasihnya itu.

"Mesum sama calon istri kan nggak apa-apa sayang, biar nanti Oswald junior bisa langsung launching!"

"ALVAN!!!!!....

"kekasihmu di sini sayang nggak usah teriak-teriak, nanti aja teriaknya kalau kita sudah menikah!"...

"Astaga... !" Danisha hanya menepuk jidatnya melihat kelakuan minus Alvan yang satu ini, kalau menggoda Danisha adalah hal yang menyenangkan bagi Alvan.

Karena teriakan Danisha tadi membuat satu lagi penghuni di rumah itu merasa terganggu dari tidurnya dan langsung mendekati dua orang pengganggu itu.

"Lo berdua kata gue mending nikahnya dipercepat  aja lah!" Ganggu gue mulu!" Marah Rayyan seraya menghempaskan tubuhnya di sofa.

"Maunya sih gitu Ray, tapi adek lo ini yang gak mau!" Sahut Alvan cengengesan.

"Apa sih kan lusa kan udah nikah, mau dipercepat gimana lagi?" Protes Danisha.

"Kalau kamu mau, malam ini juga bisa sayang!" Kata Alvan.

"Jangan gila kamu, kamu pikir ngurus pernikahan mendadak itu gampang apa! Danisha masih misuh-misuh.

"Bagiku semuanya pasti bisa sayang, kamu lupa siapa kekasih mu ini!"

"Nggak usah macem-macam deh, aku nggak mau!" Kata Danisha sewot karena mulai sekarang dia harus hati-hati dalam berbicara, Apapun yang ia bicarakan akan dianggap serius oleh Alvan. Bahkan jika Danisha meminta dunia ini pun pasti diberikan oleh Alvan jika ia mampu.

Setelah berkata begitu Danisha langsung meninggalkan dua laki-laki itu yang masih sibuk menertawakannya.

"Al!...lirih Rayyan menatap Alvan serius.

"Lusa kalian sudah menikah, gue harap Lo nggak akan pernah nyakitin Adek gue, kalau sampai Danisha nangis satu kali aja, gue bakar Lo hidup-hidup!" Ancam Rayyan, dia sama sekali tidak main-main dalam ucapannya.  Rayyan dan Alvan memiliki karakter yang sama jika menyangkut orang yang dia Cintai. Apalagi ini Danisha, adek kesayangannya. Rayyan tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Danisha sekalipun Alvan sahabatnya, maka dia tidak akan segan-segan untuk menghajarnya.

"Sejak kapan Lo liat gue main-main?" Lo tau gue Ray! Kita bersahabat bukan dari kemarin tapi sudah bertahun-tahun!"  Bahkan Lo tau gimana lamanya gue nungguin adek Lo walaupun hanya ingin sekedar tau namanya!" Kata Alvan tak kalah serius. Dia juga harus meyakinkan Rayyan soal perasaannya yang tidak pernah main-main ke Danisha.

"Perasaan gue ke Danisha nggak main-main Ray, hidup gue udah sepenuhnya diambil alih oleh adek Lo,  setelah menikah nanti, gue ingin memperkenalkan Danisha pada Dunia sebagai Nyonya muda Keluarga Oswald, istri dari Alvanshal Malik Oswald, biar semua tau kalau gue sudah jatuh-sejatuh-jatuhnya pada Adek Lo, Danisha!" Ucap Alvan serius, membuat Rayyan akhirnya lega dan percaya untuk mempercayakan Danisha sepenuhnya kepada Alvan.

Harusnya Rayyan tidak perlu meragukan Alvan lagi, dia yang paling tau bagaimana sahabatnya itu.  Jika Alvan sudah mencintai satu orang wanita maka seluruh hidupnya akan ia beri, yang lain tidak akan tampak di mata Alvan. Danisha sangat beruntung dicintai secara ugal-ugalan oleh Alvan.

Malamnya Alvan pulang ke rumahnya tentu saja setelah menikmati makan malam bersama kekasihnya dan calon Abang iparnya sekaligus sahabatnya itu. Dia tidak akan mungkin melewatkan makan malam bersama Danisha dengan makanan yang dimasak langsung oleh tangan kekasihnya itu. Hal inilah salah satu yang membuat Alvan begitu memuja Danisha, selain dari parasnya yang cantik kekasihnya itu juga pandai dalam memasak dan masakannya sangat enak. Sejak mereka KKN dulu Alvan sudah menyukai masakan Danisha, jauh sebelum mereka pacaran.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang