Bab 183

283 34 1
                                        


Tidur dengan memeluk sebuah bingkai foto adalah pemandangan pertama kali yang dilihat oleh Ayu dan Danisha begitu kamar bernuansa pink itu dibuka,  keduanya saling beradu tatap satu sama lain lalu memutuskan untuk mendekat ke ranjang tersebut. Danisha mengambil bingkai Foto itu perlahan-lahan dari dekapan Elisha agar tidak membangunkan gadis itu, tampak seorang gadis yang sama sekali tidak dikenali oleh mereka pada bingkai foto itu. Tapi yang pasti mereka tau kalau orang yang ada di foto itu adalah sosok yang berharga buat Elisha.

"Siapa ini?" Gumam Ayu pelan bahkan hampir berbisik.

"Nggak tau gue!" Jawab Danisha sama pelannya. Kemudian ia mengusap pelan rambut Elisha yang menutupi sedikit wajahnya.

"Sha....! Ucapnya pelan membangunkan gadis itu namun sama sekali belum ada pergerakan.

"Elisha....! Panggil Danisha sekali lagi dan kelopak mata gadis itu perlahan-lahan terbuka menatap bingung ke arah sahabatnya itu.

"Danish! Ayu!... Lirihnya serak khas bangun tidur seraya mendudukkan tubuhnya.

"Kok bisa kalian ada di sini?" Tanya Elisha bingung sambil mengucek kedua matanya membuatnya  mirip seperti bocah.

"Cuci muka dulu sana biar Segaran dikit!" Suruh Ayu dan langsung dilakukan oleh Elisha.

Nggak lama kemudian Elisha keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar.

"Kalian kok bisa ada di sini?" Tanya Elisha kemudian setelah mendudukkan dirinya kembali di atas ranjangnya berhadapan dengan kedua sahabatnya itu.

"Lo kenapa?" Tanya Danisha langsung.

"Gue?"...

"Iya!

"Gue nggak kenapa-kenapa!" Sahut Elisha.

"Kalau gitu kenapa Lo diami Verrel? Lo diam juga sama Tante Diva!  Tante Diva khawatir sama Lo sampai-sampai nelpon Verrel tapi karena Verrel lagi sibuk makanya gue yang ke sini sama si Danish!" Ucap Ayu tanpa basa-basi.

"Sha... Kalau ada masalah Lo cerita ke kita, atau Lo belum siap menikah dalam waktu dekat ini?" Tanya Danisha lembut.

"Iya Sha, kalau memang belum siap Verrel pasti bisa ngerti kok!" Ucap Ayu menambahkan. Namun Elisha hanya diam menundukkan wajahnya.

"Verrel nelpon Lo tapi ponsel lo sama sekali nggak aktif, Lo juga menghindar dari kita, kata Tante Diva juga Lo murung terus di kamar, kita juga khawatir sama Lo Elisha!" Kata Danisha lagi, kini jemari Danisha menggenggam jemari Elisha untuk meyakinkan gadis itu kalau dia siap untuk mendengar keluh kesah sahabatnya itu.

"Gue...g-gue cuma pengen dia datang di pesta nikahan gue!" Jawab Elisha pada akhirnya.

"Apa orang yang ada di dalam bingkai foto itu?" Tebak Danisha yang langsung diiyakan oleh Elisha lewat anggukan kepalanya.

"Kalau memang hanya itu alasannya kenapa Lo nggak bilang ke Tante Diva ataupun ke Om wirawan?" Tanya Ayu lagi.

"Gue nggak berani Ay,!" Lirih Elisha.

"Oke... Kalau Lo nggak berani bilang ke Tante Diva ataupun Ke Om wirawan, masih ada Verrel Sha!" Bukan malah diam kayak gini!"

"Tau nih, nggak seru Lo Sha kalau Lo mendadak diam kayak gini, malah Verrel berfikir Lo yang belum siap untuk nikah!" Kata Danisha.

"Nggak ada alasan gue buat nggak siap untuk menikah dengan Verrel Danish!" Gue cinta sama Verrel!"  Gue tau akan sangat mudah bagi Verrel untuk mendatangkan kakak gue ke sini tapi gue nggak mungkin terus-terusan bergantung pada Verrel!"

"Verrel juga senang kali Lo bergantung sama dia!" Sarkas Ayu.

"Jadi cuma karena gue diam kalian sampai nyamperin ke sini?" Tanya Elisha tiba-tiba mengalihkan topik.

"Cuma?" Lo masih bilang Cuma padahal Jelas-jelas Tante Diva sangat khawatir ke Lo, dan Verrel sampai nyuruh gue buat nyamperin si Danish buat ngajakin dia liatin Lo!" Sewot Ayu.

"Ellleeeehhh...Lo mau disuruh Verrel juga pasti dikasih imbalan kan sama dia?" Tebak Elisha yang sudah sangat paham dengan tabiat Ayu.

"Hehehehh!" Ayu hanya Terkekeh sehingga membuat Elisha mencibir.

"Jadi Lo dikasih imbalan sama Verrel Ay?" Tanya Danisha.

"Iya, tas sama Sepatu!" Jawab Ayu.

"Bagian gue mana?" Ucap Danisha langsung merasa tidak terima kalau Ayu saja yang diberi imbalan oleh Verrel.

"Apa-an??? Nggak ada ya! Minta ke Verrel aja!" Bantah Ayu.

"Ay... Gue sampai rela nggak tidur siang ya!" Kata Danisha lagi yang kini sudah beralih melototi Ayu.

"Minta ke laki Lo aja udah sih Danish!" Kata Elisha mulai jengah.

"Nggak mau! Gue maunya dari Verrel!" bantah Danisha cepat.

"Heh nyonya Oswald!" Lo lupa kalau punya laki tajir?" Tas sama Sepatu nggak ada apa-apanya sama laki Lo!" Kata Elisha lagi.

"Gue maunya dari Verrel titik!!!! Ucap Danisha lagi.

"Ya udah sih mintanya ke Verrel aja jangan minta bagian ke gue!" Kata Ayu.

"Liat aja! Gue kuras duit sepupu Lo!" geram Danisha.

"Calon suami Elisha itu!" Kata Ayu.

"Nggak peduli gue!"

Terlalu asyik dengan perdebatan mereka, ketiga wanita cantik itu sama sekali tidak menyadari kalau Verrel sudah sejak tadi mendengar apa yang dibicarakan ketiga wanita itu. Verrel sengaja diam-diam menguping, setelah ia tau apa yang menjadi  penyebab  gadisnya itu murung, kini Verrel sudah tampak lega. Bahkan setelahnya dia langsung beranjak menjauh dari kamar gadisnya itu.

Tujuannya kini hanya satu yakni membicarakan apa yang menjadi keinginan calon istrinya itu kepada Tuan Wirawan calon mertuanya. Bahkan jika waktu memungkinkan detik ini juga Verrel bersedia keluar negri untuk menjemput kakak dari calon istrinya itu.

Biarlah untuk sekarang dia belum menemui kekasihnya itu, karena ada yang lebih penting yang harus dia lakukan. Dan yang pasti apapun yang dia lakukan semua itu hanya untuk kebahagiaan Elisha Jeonaya.


KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang