Bab 133

555 44 3
                                        

Setelah selesai membalas chat WhatsApp dari teman-temannya di group, Danisha kembali melanjutkan acara baring-baringnya di sore hari ini. Dia sebenarnya tidak sedang mengantuk hanya saja ingin merebahkan tubuhnya saja sambil memikirkan acara pernikahannya yang hanya tinggal menghitung hari  lagi karena semua itu masih seperti mimpi baginya, bertemu Ayah yang selama ini dicarinya dan dicintai dengan tulus oleh Alvan, memiliki seorang Abang yang selalu ada untuknya seperti Rayyan dan memiliki Orang tua yang begitu menyayanginya seperti Sandara, Renatta dan Reinard meskipun berawal dari sebuah prahara dulu baru setelahnya yang ada hanya kebahagiaannya.

Sebuah ketukan di pintu kamarnya mengusik ketenangan Danisha, sehingga membuatnya langsung bergegas membuka pintu dan menampakkan asisten rumah tangganya  sekaligus orang yang menemaninya sehari-hari di rumah yang kerap ia panggil mbak Cici.

"Ada apa mbak?" Tanya Danisha.

"Di luar ada orang mencari Nona Danisha!" Ucap Mbak Cici .

"Siapa?" Tanya Danisha sedikit bingung, sebab dia sama sekali tidak memiliki janji dengan siapa pun.

"Mbak juga kurang tau, itu orangnya masih di luar!" Ucap Mbak Cici lagi.

Danisha pun langsung menuruni anak tangga menuju orang yang di maksud mbak Cici tadi.

"Ada apa ya?"  Tanya Danisha heran  begitu melihat orang yang bertamu ke rumahnya itu.

"Dengan mbak Danisha Camilla?"

"Iya saya sendiri!" Ada apa ya Pak?" Tanya Danisha seraya melihat ke mbak Cici yang juga ikut bingung  berdiri di sebelahnya.

Tiba-tiba datang satu orang lagi mendekati mereka dan sepertinya sayah satu teman orang yang bicara pada Danisha tadi.

"Mobilnya sudah sampai mbak, mau di taruh di mana?"  Tanya orang itu lagi yang pada akhirnya membuat Danisha paham setelah memperhatikan seragam yang dikenakan kedua orang itu.

"Tapi saya tidak merasa membeli mobil itu Pak?"  Protes Danisha.

" Di sini tertulis atas nama dari Tuan Alvanshal Malik dan ditujukan kepada Mbak Danisha Camilla!" Ucap Orang itu yang langsung membuat Danisha bungkam sekaligus tidak habis pikir dengan kelakuan kekasihnya itu.

"Bisa ikut kita sebentar mbak?" Tanya salah satu dari kedua orang itu dan langsung diiyakan oleh Danisha begitu juga dengan mbak Cici yang ditarik oleh Danisha agar ikut bersamanya.

Sebuah mobil sport berwarna putih langsung menjadi objek pandangan Danisha, dan sudah bisa dia tebak kalau harga dari mobil ini sungguh sangat diluar isi kepalanya. Lagi dan lagi Danisha sungguh tidak bisa menebak  isi kepala dari kekasih tampannya itu.

"Mau di taruh dimana mbak?, takutnya kalau kelamaan di sini bisa mengganggu kendaraan lain!" Tanya Orang itu lagi karena posisi mereka masih berada di luar pagar rumah Danisha.

"Masukin aja dulu Pak!" Jawab Danisha,  karena setelah ini ia akan meminta penjelasan dari Alvan.

Setelah semuanya beres, Dan kedua orang tadi juga sudah pergi, Danisha masih berdiri mematung memperhatikan Mobil sport di depannya itu.

"Nona Danisha beruntung banget punya calon suami seperti Tuan Alvan!" Ucap mbak Cici  yang masih ikut berdiri di samping Danisha.

"Beruntung sih mbak tapi nggak kayak gini juga, mbak nggak liat itu mobil dari kakeknya aja masih pajangan di garasi!" Gerutu Danisha membuat Mbak Cici terkekeh.

"Niat baik seseorang nggak baik di tolak  lho Non!"

"Tapi mau diapakan keduanya mbak?" Tanya Danisha setengah frustasi dan malah merengek pada Asistennya itu.

"Pakai aja keduanya non, toh mereka yang kasih kan! Nona Danisha nggak usah merakyat sekali, toh temen-temen non Danisha juga pada punya kan? Kapan lagi coba Non?" Sedikit ucapan dari mbak Cici mempengaruhi Danisha juga

"Mbak Cici bener juga!" Kata Danisha terkekeh.

Dia akan memakai mobil ini tapi setelah meminta penjelasan dari Alvan terlebih dahulu agar kedepannya jika ingin membeli sesuatu harus dibicarakan lebih dulu bukan mendadak seperti ini padahal tadi sewaktu di kantornya, Alvan sama sekali tidak bilang apa-apa begitu juga saat laki-laki itu mengantarnya pulang.

Bukan ia tidak senang, tapi lebih tepatnya Danisha menjadi tidak enak hati melihat kebaikan Alvan dan keluarganya. Bahkan untuk acara pernikahan mereka nanti saja semua persiapannya dilakukan oleh keluarga Alvan, hadiah-hadiah mewah lainnya yang ia terima dari Briyanna maupun dari Yurika nenek Alvan masih tersimpan rapi di kamarnya, bagi Danisha ini terlalu berlebihan mengingat dirinya yang lebih menyukai kesederhanaan.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang