Bab 93

804 55 0
                                        


Setelah Dari rumah sakit tadi, Danisha pulangnya di jemput Alvan tapi bukannya langsung pulang ke rumah tapi Alvan malah melipir ke taman ibukota padahal hari juga udah sore. Mana suasana taman sudah mulai sepi  walau masih ada beberapa pasangan keluarga beserta anak-anak mereka  di sana tapi tetap saja tidak se rame biasanya.

"Besok Andra dan Viya tunangan!" Kata Alvan setelah menyeruput ice americano di tangannya.

"Kita kapan?" Tanya Danisha yang langsung membuat Alvan tersenyum ganteng menggoda kekasihnya itu.

"Udah nggak sabaran ya?" Katanya menggoda Danisha.

"Diihh...kan kamu semalam yang ngajak tunangan, aku tanya kapan malah diledekin sih!"

"Iya juga nggak apa-apa padahal lho!" Kata Alvan masih menggoda Danisha. Mereka lagi duduk selonjoran di atas rumput taman yang tertata rapi.

"Ya..udah terserah!" Sewot Danisha, dia kesal digodain gitu sama Alvan. Dia malu.

"Jangan ngambek ntar aku cium di sini mau?" Ucap Alvan enteng sehingga membuat Danisha melotot ke arah kekasihnya yang sayangnya Tampan itu.

Kemudian Alvan memberikan paper bag yang sedari tadi dia bawa ke Danisha.

"Apa ini?" Tanya Danisha.

"Pakai besok di acaranya Andra dan Viya!" Ucapnya membuat Danisha mengurungkan niatnya melihat isi dari paperbag itu.

"Setelah urusan kamu sama om Reinard kelar, baru kita Tunangan,  nggak apa-apa kan sayang?" Tanya Alvan seraya menatap kekasihnya itu.

"Iya, mulai besok rencananya aku mau memperbaiki semuanya pelan-pelan!" Lirih Danisha.

"Iya, ntar aku anterin kalau mau ke sana nanti!"

"Nggak usah biar aku sendiri aja!"

"Manfaatin aja pacarmu ini sayang selagi masih bisa, nanti kalau aku udah sibuk di kantor waktuku nggak bisa banyak sama kamu!" Ucap Alvan seraya menggenggam jemari Danisha yang berada di atas pahanya.

"Iya tapi nggak untuk besok, kapan-kapan aja aku manfaatin ya!" Kata Danisha sambil tersenyum manis, sampai-sampai Alvan tidak berkedip menatap gadisnya itu yang semakin hari semakin cantik aja apalagi kalau tersenyum, mata bulan sabitnya akan terlihat menggemaskan, siapa pun yang melihatnya pasti terpesona, hal inilah salah satu yang membuat Alvan ingin cepat-cepat mengikat gadisnya itu.

Pertama kali ia jatuh hati ke Danisha saat melihat gadis itu tersenyum, bukan tidak mungkin laki-laki di luaran sana juga akan terpesona dengan senyuman kekasihnya itu.  Kadang kalau memikirkan itu Alvan meradang jadinya terbakar api cemburu padahal kejadian saja belum apalagi kalau sampai kejadian bisa-bisa laki-laki itu dia mutilasi.

Danisha terdiam melihat Alvan yang masih betah menatapnya dengan lamat-lamat,

"Al!....lirihnya memanggil Alvan.

Tiba-tiba saja Alvan langsung mempertemukan bibirnya dengan bibir Danisha yang sejak tadi sudah sangat ingin ia cium,  Bibir kekasihnya itu ia lumat dengan lembut, membiarkan Danisha merasakan Sebesar apa Cintanya lewat Ciumannya,  beruntung taman sudah sepi dan Mereka juga berada di balik  bunga-bunga dan beberapa tanaman hias yang sedikit tersembunyi. Alvan mungkin  Isa saja sudah merencanakan itu.

Saking terbuainya oleh ciuman lembut Alvan sampai-sampai Danisha tidak sadar kalau tangan Alvan mulai nakal menyentuh permukaan kulit perutnya dari dalam kaos yang Danisha pakai. Tangan Alvan terus meraba dengan lembut tanpa melepas ciuman mereka, hingga menyentuh dada milik Danisha barulah gadis itu tersadar dan  Alvan pun melepas Ciuman mereka tapi tidak dengan tangannya yang masih berada di dalam kaos Danisha.

"Aku tau batasanku sayang, kamu nggak usah takut!" Lirihnya pelan setelah itu kembali mempertemukan bibir mereka mengulangi ciuman lembut itu ditambah Alvan yang dengan nakalnya mulai menyentuh dan meletakkan tangannya di dada milik Danisha, meski hanya sampai di situ saja tapi jantung Danisha sudah tidak beraturan lagi, serasa mau keluar dari tubuhnya.

Alvan memeluk Danisha setelah aksi Nakalnya tadi  setelah itu mencium lembut dahi kekasihnya itu, jangan ditanya lagi Danisha, gadis itu bahkan sudah tidak berani mengangkat wajahnya menatap pacarnya itu karena malu akibat kelakuan mereka tadi.

Danisha menenggelamkan wajahnya di dada Alvan, sehingga membuat Alvan terkekeh, sudah menjadi kebiasaan Danisha akan seperti ini jika setiap kali mereka selesai ciuman, pacar cantiknya itu akan malu dan berakhir gadis itu akan mendiaminya.

"Mau diamin aku berapa hari nanti?" Tanya Alvan menggoda Danisha seraya mengintip gadisnya itu.

"Satu Minggu!" Sahut Danisha.

"Ya jangan dong, mana kuat akunya didiamin selama itu!" Protes Alvan.

"Biarin, kamunya nakal!"

"Nakal sama calon istri kan nggak apa-apa sayang!"

"Nggak tau ah, jelek kamu!" Sewot Danisha mulai mengangkat wajahnya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Alvan juga ikut merapikan rambut gadisnya itu sambil terkekeh melihat bibir Danisha yang sedikit bengkak karena ulahnya.

"Pulang yuk dah sore banget!" Ajak Danisha dan diiyakan Alvan lewat anggukan kepalanya.

Keduanya meninggalkan taman kota saat senja mulai meredup dan akan berganti dengan malam sebentar lagi.

KKN (Kelar Kuliah Nikah )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang