Lain halnya dengan Elisha yang kini duduk mematung di depan Verrel, tak sekalipun ia berani membalas tatapan Verrel yang tajam menusuk sampai ke relung hatinya yang paling dalam. Sudah sejak sejam yang lalu aura menyeramkan tercetak jelas di wajah Verrel.
Elisha sadar bahkan sangat sadar akan kesalahannya, tapi ia sama sekali tidak punya kalimat apapun untuk menjadi alasannya membela diri, itu sebabnya dari tadi dia hanya diam menundukkan wajahnya. Sedangkan di depannya Verrel masih betah dengan aura menakutkan di wajahnya.
Sungguh rasanya Elisha nggak betah berada di situasi seperti ini, ia lebih memilih dimarahi Verrel ketimbang didiami seperti ini, malah membuatnya menjadi canggung di hadapan Kekasihnya itu.
Sejak Verrel menjemputnya tadi, aura laki-laki itu sudah sangat menakutkan, dia hanya melampirkan jasnya di bahu Elisha kemudian menarik gadis itu pulang dan membawanya ke unit Apartemennya tanpa bicara sepatah katapun. Bahkan saat ini Verrel sudah bersandar di sofa, duduk diam memejamkan kedua matanya.
Sudah bisa ditebak kalau suasana hatinya masih panas, itu sebabnya dia memilih untuk diam karena dia tidak ingin lepas kendali dan berakhir membentak kesayangannya itu.
Isakan kecil terdengar menyapa telinga Verrel, memaksa laki-laki itu membuka kedua matanya dan melihat gadisnya itu tengah menangis menundukkan wajahnya.
"Kenapa nangis?" Adek yang salah lho!" Kata Verrel,
Sesungguhnya ia sama sekali tidak tega membiarkan Elisha menangis, ia bahkan sangat tidak suka melihat Kekasihnya itu menangis apalagi karena dirinya.
Tapi Verrel juga harus tegas, apalagi yang dia lakukan hanya untuk menjaga harga diri Elisha kekasihnya, dia tidak ingin Orang-orang di luar sana melihat tubuh Elisha, apalagi sampai menjadikannya bahan olok-olokan.
Selama mereka menjalin hubungan, Verrel sudah terlalu memanjakan Elisha, menerima setiap perlakuannya, tapi bukan berarti Verrel tidak pernah jengah melihat kelakuan dan sikap Elisha yang selalu harus semaunya saja. Verrel sudah tidak ingin bermain-main lagi dalam hubungan mereka, bahkan dalam waktu dekat ini, ia berniat untuk mengikat gadis pujaannya itu.
Tapi dasar Elisha yang Badung dan senang sekali menguji kesabaran Verrel, contohnya seperti sekarang ini tapi selalu dia juga yang akan menangis nantinya.
"Apa yang adek tangisi? Adek nggak suka Abang diami kayak gini iya? Sekarang Abang pengen tau apa maunya adek!" Kata Verrel tanpa beranjak sedikitpun dari duduknya.
Elisha tidak juga berani menjawabnya dan masih betah dengan acara menangisnya dengan wajah yang tertunduk.
"Sekali saja dek, tolong jangan cari masalah untuk kita ribut, berantem kayak gini!" Mas capek lho dek!" Kata Verrel sedikit melemah dan raut wajahnya juga sudah tidak semarah tadi.
"Abang cuma nggak suka liat adek berpakaian seperti itu, Abang ngelakuin itu untuk jagain harga diri adek! Abang sangat mencintai adek, jadi tolong kerja samanya untuk hubungan kita ini!" Ucap Verrel seraya menatap Elisha dan mulai beranjak mendekati Elisha.
"Jawab Abang, salah kalau Abang negur adek tadi? Atau bagian mana cara Abang yang tidak adek sukai selama kita pacaran?" Elisha hanya menggeleng lemah masih belum berani menatap Verrel yang berjongkok di depannya.
"Atau hanya Abang yang menginginkan hubungan ini?" Tanya Verrel lagi barulah Elisha menatap Verrel dengan mata sembabnya.
"M-maafin adek!" Lirih Elisha..
"Minta maaf terus-terusan lalu diulangi lagi, terus minta maaf lagi, buat apa dek?" Bukankah selama ini Abang selalu maafin adek tapi adek ulangi lagi kan?" Jujur Abang capek dek!" Kata Verrel seraya meraup kasar wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
"Sekarang semua terserah adek, maunya gimana!" Ucap Verrel semakin lirih sehingga Elisha kembali menangis dan kali ini tangisnya lebih kejer.
Mendengar kalimat yang diucapkan Verrel barusan sungguh membuat Elisha takut kalau sampai Verrel mengakhiri hubungan mereka, Tidak! Elisha tidak akan membiarkan hubungan mereka berakhir begitu saja, dia sudah sangat mencintai laki-laki yang berjongkok di depannya ini sekarang.
"N-nggak a-apa-apa kalau Abang diami adek, marahi adek tapi T-tolong jangan tinggalin adek!" Lirih Elisha disela-sela tangisnya, air matanya semakin deras membasahi wajah cantiknya, dia sudah tidak peduli Semerah apa mata dan hidungnya kini, yang penting baginya Verrel mau memaafkannya dan dia janji untuk menjadi kekasih yang baik.
"Kalau adek terus-terusan kayak gini, Abang lelah dek! Kadang Abang berfikir apa kurangnya Abang sama adek? Atau apalagi yang harus Abang lakuin agar adek bisa nurut sama Abang? Kita udah mau tunangan lho dek?"
"Abang nggak kurang apapun! Dan Abang juga nggak usah ngelakuin apapun! Adek yang nggak tau diri selama ini, adek egois! Adek yang salah! Maafin adek bang!" Racau Elisha masih dengan tangisnya.
Verrel menjadi semakin tidak tega membiarkan Elisha nangis kejer kayak gini, dia hanya ingin memberikan pelajaran ke Elisha, dia juga tidak ada niat sama sekali untuk meninggalkan gadisnya itu.
"Ya udah sini peluk Abang, jangan nangis lagi nanti kepalanya pusing!" Kata Verrel seraya merentangkan kedua tangannya yang langsung membuat Elisha memeluk Tubuh Verrel.
"Maafin adek bang!" Lirih Elisha lagi bahkan kalimat itu ia ucapkan berulang-ulang.
"Iya Abang maafin tapi janji jangan buat ulah lagi!"
"Iya adek janji!" Jawab Elisha
Verrel tersenyum dan mulai mengurai pelukannya tapi keburu ditahan Elisha.
"Jangan dilepasin dulu, adek masih pengen kayak gini!" Katanya sambil merapatkan kembali pelukannya ke tubuh Verrel sehingga membuat lelaki itu terkekeh dan dengan senang hati memeluk kekasihnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
