Danisha tersentak ketika sebuah kecupan basah dengan ramahnya menyapa permukaan bibirnya, ia langsung membuka kelopak matanya padahal baru beberapa menit yang lalu terpejam, dan mendapati senyuman manis Alvan suaminya. Sedikit heran sekaligus mengira kalau ia bermimpi, tapi bukankah dia belum sempat tidur?
"Mas!!"
Danisha langsung memeluk tubuh Alvan, menghirup aroma tubuhnya yang selalu membuatnya nyaman, Alvan sampai terkekeh menerima pelukan istri Cantiknya itu.
"Kangen banget kayaknya nih!" Goda Alvan tapi Danisha justru semakin mendusel di dada bidang Alvan.
Alvan mengecup puncak kepala Danisha seraya membalas pelukan istrinya itu, bohong kalau ia tidak merindukannya, ia sengaja merampungkan semua pekerjaannya di Canada karena dia tidak betah berjauhan dengan Danisha.
"Tadi kemana? Kok aku masuk ke kamar mas nggak ada!" Tanya Danisha tanpa melepas pelukannya, ia hanya mendongak sebentar menatap Alvan sehingga dengan mudahnya Alvan kembali mencuri ciuman di bibir merah istrinya itu.
"Ada yang dibahas tadi sama papa di ruang kerjanya, tadinya mas mau jemput kamu tapi kata mama kamu udah pulang!"
"Terus, kenapa bilangnya besok baru bisa pulang?" Protes Danisha.
"Sengaja!" Kata Alvan terkekeh lalu menciumi seluruh wajah Danisha, sampai-sampai membuat Danisha tertawa.
"Udah mas Ihhh..!!!!... Kata Danisha seraya menjauhkan wajahnya.
"Apanya yang udahan hmmm??...Alvan malah pindah ke bagian leher jenjang Danisha.
"Ihh... Tunggu dulu, sesak akunya!" Tangan Danisha menjauhkan Kepala Alvan dari ceruk lehernya.
"Ini masih permulaan lho sayang, kok malah udahan aja!" Seringai Alvan dengan senyum tengilnya sehingga membuat Danisha langsung paham apa yang diinginkan oleh suami tampannya itu.
Kemudian setelahnya, Danisha hanya bisa pasrah saat bibir Alvan kembali mencium bibirnya, bukan hanya sekedar kecupan biasa seperti tadi melainkan menyapu, menyesapnya dan melumatnya dengan lembut, tapi tidak lama setelahnya Alvan menghentikan kelakuannya itu hanya untuk menatap paras cantik Danisha yang sudah memerah karena malu.
"Kenapa?" Tanya Danisha bingung karena Alvan masih saja menatapnya tanpa berkata apapun.
Tanpa menjawab pertanyaan Danisha, kini Alvan mendudukkan dirinya dan membantu Danisha bangun untuk duduk bersamanya di atas ranjang saling berhadapan satu sama lain sehingga membuat Danisha bingung apa maunya Alvan.
Kemudian Alvan meraih jemari Danisha dan menggenggamnya,
"Maafin mas ya yang belum bisa bawa kamu jalan-jalan, bahkan bulan madu kita juga tertunda!" Kata Alvan sendu dengan raut wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah.
Perlahan Danisha melepas jemarinya dari genggaman Alvan, dan mulai menyentuh wajah Alvan yang masih betah menatapnya dengan tatapan sendunya, Danisha membalas tatapan itu ditambah dengan senyuman manisnya,
"Jangan minta maaf, itu bukan salah kamu mas, kita yang sama-sama sibuk!" Toh masih banyak waktu kita kan?" Kata Danisha dengan sedikit centil, iseng dianya menggoda Alvan dan tidak lupa ia sempat-sempatnya mengeringkan mata sebelah kirinya.
Digoda seperti itu membuat Alvan panas dingin sehingga tanpa aba-aba langsung meraup kembali bibir merah istrinya dengan penuh gairah, menjelajahi ceruk leher Danisha sehingga meninggalkan jejak merah di sana.
"Besok-besok mas nggak mau liat kamu pakai dress yang tadi sayang!" Kata Alvan berbisik di telinga Danisha, mengingat bagaimana kesalnya dia tadi ketika melihat foto Danisha dengan dress yang cukup terbuka.
"Masih wajar padahal mas!"....
"Mau nurut atau kita nggak tidur semalaman?" Ancam Alvan yang sukses membuat Danisha merinding. Melayani Alvan seperti biasa saja sudah membuatnya kewalahan apalagi kalau sampai semalaman, sungguh membayangkannya saja Danisha sudah bergidik ngeri.
"Pilih mana, mau nurut atau.....
" Iya, aku janji nggak akan pakai dress itu lagi!" Jawab Danisha cepat bahkan sebelum Alvan menyelesaikan kalimatnya sehingga membuat Alvan terkekeh dan langsung mengukung tubuh mungil istrinya, Dan nggak lama kemudian kamar itu sudah dipenuhi dengan suara-suara manja Danisha.
Meski dalam benaknya Alvan tidak sekalipun lupa tentang obrolannya dengan Aliksa mengenai Keturunan, tapi sebisa mungkin dia akan mencari cara bagaimana harus mengatakannya kepada Danisha. Kalau ditanya dirinya sendiri, jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat menginginkan itu, bahkan setiap mereka bercinta dan menumpahkan seluruh benihnya di rahim Danisha, Alvan selalu berdoa dalam hati agar secepatnya diberi keturunan.
Jika suatu saat Danisha mengandung anaknya dan Danisha belum bisa menerimanya, mengingat umur Danisha yang masih muda, Alvan bahkan rela kalau dia sendiri yang akan merawatnya. Tapi mudah-mudan saja Danisha nantinya bersedia sehingga mereka bisa merawatnya bersama-sama. Hal inilah yang menjadi beban pikiran Alvan saat ini, dia juga belum berani mengungkitnya dan membahasnya dengan Danisha, kemarin dia sempat meminta pendapat ke Rayyan, tapi Ipar sekaligus sahabatnya itu justru semakin membuat pikirannya kalut karena dengan entengnya malah Rayyan mengungkit perihal keinginan Danisha untuk melanjutkan pendidikannya nanti.
Alvan hanya bisa menelan beban pikirannya itu sendirian, bagaimanapun juga dia sangat mencintai Danisha, dia tidak ingin menghalangi cita-cita istrinya itu. Karena keluarganyalah yang sudah membuat kesepakatan itu sebelum pernikahan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
