Alvan mencari-cari keberadaan kekasihnya di ruangan perpustakaan, karena sebelumnya pacar cantiknya itu sudah bilang di telpon kalau dia tengah berada di perpustakaan, Danisha masih harus mempelajari materi untuk kebutuhan skripsinya nanti sekaligus untuk kelancaran rencana S2 nya.
Di bagian pojok ruangan itu, Alvan melihat Danisha tengah fokus dengan laptop di depannya, kacamata yang bertengger di atas hidungnya, rambut panjangnya ia kucir ke atas mirip ekor kuda dan wajah seriusnya yang terlihat seksi di mata Alvan. Kemudian dia mendekati kekasihnya itu dan duduk persis di depan gadis itu, sehingga membuat Danisha menoleh dan tersenyum saat menyadari kehadiran Alvan di dekatnya.
"Masih lama?" Tanya Alvan.
"Nggak, ini udah selesai kok tadi tinggal koreksi aja siapa tau ada ketikan yang salah!" Sahut Danisha.
"Lagian mau kemana sih?" Tanya Danisha lagi sambil merapikan barang-barangnya.
"Makan!" Sahut Alvan.
"Mau makan aja maunya ditemenin, manja banget sih!"
"Kan manjanya sama kamu!"
"Lusa kamu udah wisuda, emang udah kelar semua urusannya?" Tanya Danisha memastikan karena siapa tau Alvan masih butuh sesuatu untuk keperluan wisudanya lusa nanti.
"Udah kok!" Kata Alvan kemudian beranjak meninggalkan ruangan perpustakaan dengan menggenggam erat jemari Danisha, Alvan sama sekali tidak peduli dengan beberapa orang yang tengah terang-terangan memperhatikan tangan mereka yang saling bertaut satu sama lain.
Meski Katanya hanya sekedar makan, namun Alvan tetap saja membawa kekasih cantiknya itu ke sebuah restaurant mewah, Danisha mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang sudah Alvan siapkan untuknya, sambil sesekali senyum melihat perlakuan manis pacarnya itu.
"Ngapain kita ke sini kalau makan aja Al, kan bisa kita ke kafe tempat yang biasa harusnya tadi!" Ucap Danisha sambil menunggu makanan pesanan mereka.
"Danisha, aku mau bicarakan sesuatu sama kamu!" Kata Alvan dengan raut wajahnya yang tiba-tiba berubah serius.
"Apa?" dari semalam kamu bilang mau ngomong tapi nggak jadi-jadi, emang mau bicara apa sih?" Tanya Danisha penasaran seraya memberikan perhatiannya ke Alvan untuk lebih serius mendengar apa yang akan dikatakan kekasihnya itu.
"Sebenarnya aku nggak tau harus memulai darimana ngomongnya, aku juga nggak tau gimana caranya biar romantis, tapi yang pasti aku sangat mencintaimu Danish, setelah wisuda nanti aku bakalan sibuk di perusahaan papa, mungkin waktu kita bertemu nggak banyak seperti sekarang ini, jadi... Menikahlah denganku Danisha Camilla!".... Lirih Alvan seraya menatap dalam paras gadis cantik di depannya itu yang sangat jelas sekali terlihat raut terkejutnya.
Danisha diam masih mencerna apa yang diucapkan kekasihnya itu barusan, masih sangat jauh dalam jangkauannya jika harus membahas pernikahan sekarang ini, masih banyak yang harus ia kejar, bahkan menikah adalah urutan nomor kesekian yang ia tanamkan dalam hidupnya setelah tau bagaimana perjalanan hidup Sandara mamanya.
Bukan, bukan dia tidak mau! Dia bahkan sangat mencintai Alvan, laki-laki itu adalah Cinta pertamanya, perlakuan laki-laki itu selama ini juga selalu manis dan selalu ada jika dia membutuhkannya. Meskipun perkenalan mereka masih terbilang cukup singkat tapi dia sangat tau dengan baik bagaimana karakter dan pribadi seorang Alvan.
"Danish....!" Kata Alvan memanggil gadis itu karena Danisha masih diam mengunci mulutnya.
Danisha balas menatap Alvan, melihat ke dalam tatapan tajam milik Alvan, melihat banyaknya Cinta yang tulus untuknya di tatapan itu, dan melihat kesungguhannya lewat sorot tajam itu,
"Masih banyak yang harus aku selesaikan dulu Al,... !" Ucap Danisha yang langsung membuat Alvan menghela nafas, meski ia sudah menduga jawaban Danisha seperti ini tapi tetap saja ada rasa kecewa di hatinya, tapi dia juga nggak mau egois memaksa Danisha.
"Bukan aku nggak mau, aku juga Cinta sama kamu tapi kamu tau sendiri kan kuliahku juga belum selesai, aku juga ingin sekali lanjut ke S2, belum lagi hubunganku dengan Om Reinard dan Tante Renatta yang belum membaik!".... Ucap Danisha pelan, dan kalimatnya juga harus terpotong karena kedatangan seorang pelayan yang mengantar makanan mereka.
"Makasih mbak!" Ucap Danisha pada pelayan itu setelah makanan pesanan mereka sudah tersaji di atas meja.
Alvan masih diam menatap Danisha, dan menunggu kelanjutan kalimat gadisnya itu.
"Al...lagi pula rencana seserius ini nggak mungkin kita obrolin hanya kita berdua, tentunya orangtua kamu dan mamaku juga harus terlibat!" Kata Danisha.
"Siapa bilang hanya kita berdua? Orangtuaku udah tau semua ini dan mereka setuju, dan semalam aku udah bicarakan ini ke Tante Sandara!" Ucap Alvan yang lagi-lagi membuat Danisha terkejut dengan kelakuan Alvan.
"Sudah sejauh itu dan aku baru tau sekarang?" Tanya Danisha.
"Maaf, tapi aku bukan bermaksud untuk tidak memberitahu kamu, aku hanya berfikir biar para orangtua kita yang tau lebih dulu!" Sahut Alvan.
Danisha kembali menghela nafasnya pelan sambil bersandar di kursi yang ia duduki, pikirannya rumit, untuk beberapa menit dia maupun Alvan saling diam. Menikah masih sangat dini untuk dia jalani menurutnya, semua itu butuh kesiapannya baik itu mempersiapkan diri dan mentalnya. Menikah bukanlah perkara yang gampang yang bisa hanya sekedar mood saja, dia harus memikirkan ini secara matang.
"Al...!" Panggil Danisha pelan setelah beberapa menit terdiam.
"Hmmm!"... Sahut Alvan menatap Danisha.
" Hanya dua tahun, apa kamu Mau?" Tanya Danisha pada akhirnya.
"Maksudnya?" Tanya Alvan.
"Aku akan berusaha dalam waktu dua tahun ini, baik dalam mempersiapkan diri dan mentalku, dan dalam dua tahun itu juga aku harus bisa merampungkan S2 ku sekaligus mengajak hatiku belajar berdamai dan berusaha memperbaiki hubunganku dengan Om Reinard, dan setelah itu datanglah lagi memintaku untuk menikah denganmu!" Ucap Danisha membuat Alvan tersenyum ganteng.
"Dua tahun itu Singkat sayang siapa takut?" Kata Alvan seraya menaikturunkan alisnya menggoda Danisha.
"Tapi dengan satu syarat!" Ucapnya tiba-tiba dengan raut wajah yang berubah serius.
"Syarat?"ulang Danisha memastikan dan diiyakan oleh Alvan lewat anggukan kepalanya.
"Kita harus Tunangan, aku harus mengikat kamu biar nggak di deketin laki-laki diluaran sana!"
Danisha tertawa pelan seraya mengiyakan syarat yang diajukan kekasihnya itu.
"Iya ..iya... Terserah kamu, mau kapan tunangannya aku ikut aja!" Ucapnya sehingga membuat kekasihnya itu tersenyum senang.
Setelah obrolan panjang itu kelar keduanya baru menyentuh makanan di depan mereka yang mungkin saja sudah mulai dingin😂😂😂.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN (Kelar Kuliah Nikah )
Teen FictionKKN Universitas Nusa Bangsa di sebuah desa yang pada akhirnya melahirkan cerita manis diantara Mahasiswa dan Mahasiswi KKN itu... Kisah yang belum usai, Cinta segitiga, Dan Jatuh cinta terangkum menjadi satu cerita... #BTS #EXO #NOTBL #KKN #au
